Tag: mwi

  • Resmi Berbadan Hukum, IKAPMAWI memasuki Era Tata Kelola Modern

    Resmi Berbadan Hukum, IKAPMAWI memasuki Era Tata Kelola Modern

    BANYUMAS, AGUSTUS 2026 – Ikatan Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) Kebarongan resmi mencatatkan sejarah baru dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan. Legalitas resmi bernomor AHU-0005468.AH.01.07.TAHUN 2026 ini menandai transformasi kelembagaan IKAPMAWI menuju organisasi modern yang akuntabel, diakui negara, dan siap mengembangkan kontribusi nyata bagi alumni, almamater, serta bangsa.

    Keputusan ini memberikan kekuatan hukum tetap (legal standing) bagi seluruh gerak langkah, kemitraan strategis, maupun tata kelola program yang dijalankan oleh Pengurus Pusat hingga Cabang IKAPMAWI di seluruh Indonesia.

    Ketua Umum Pengurus Pusat IKAPMAWI, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., MA., menegaskan bahwa pencapaian legalitas ini bukan sekadar pemenuhan aspek yuridis formal, melainkan momentum historis untuk memperkuat tata kelola organisasi yang mandiri, berintegritas, dan dipercaya publik.

    “Dinamika dalam proses verifikasi badan hukum tidak terlepas dari pembacaan catatan historis masa lalu terkait dinamika kelembagaan di Kebarongan. Namun, lahirnya SK Kementerian Hukum RI ini menjadi bukti sahih bahwa IKAPMAWI mampu melampaui stigma masa lalu dan menegaskan posisinya sebagai organisasi alumni yang berintegritas, moderat, serta berkomitmen penuh pada pilar kebangsaan.”

    Beliau menambahkan bahwa keberadaan struktur Dewan Pengawas yang disyaratkan oleh regulasi negara merupakan langkah konstruktif untuk mewujudkan tata kelola organisasi yang sehat (Good Organizational Governance):

    “Kemenkumham RI secara kelembagaan mensyaratkan hadirnya struktur Dewan Pengawas dalam kepengurusan. Langkah ini kami sambut positif sebagai ikhtiar membangun sistem tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, dan memiliki mekanisme check and balances, khususnya dalam pengelolaan amanah finansial organisasi.”

    Menjaga kepercayaan (trust) anggota menjadi prioritas mutlak kepengurusan. Dukungan nyata alumni yang terhimpun secara swadaya sejak awal konsolidasi menjadi amanah besar yang wajib dipertanggungjawabkan secara terbuka:

    “Sejak awal konsolidasi, antusiasme dan kepercayaan (trust) alumni sangat tinggi. Hal ini terbukti dari keberhasilan penghimpunan dana gotong royong alumni yang mencapai Ratusan juta pada fase awal, dengan sisa saldo aktif puluhan juta rupiah yang terkelola rapi dan siap dialokasikan untuk program-program kemaslahatan. Kepercayaan yang begitu besar ini menuntut tanggung jawab moral dan administratif yang mutlak, sehingga kehadiran Dewan Pengawas menjadi fondasi penting agar setiap rupiah dana umat dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.”

    Ketua Dewan Pengawas IKAPMAWI, Drs. Munbahij Al Khuluq, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini diraih setelah melalui proses dialog dan pembuktian komitmen kebangsaan:

    “Proses verifikasi kelembagaan sebelumnya sempat menghadapi tantangan akibat mispersepsi historis dan stigma ideologis yang melekat pada catatan kelembagaan antar-kementerian. Melalui konsolidasi yang gigih, transparansi, serta pembuktian komitmen kebangsaan, IKAPMAWI kini berhasil melampaui sekat-sekat miskonsepsi tersebut dan mengantongi legalitas resmi negara secara utuh.”

    Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat IKAPMAWI, Drs. H. Muslihun, M.M., menyambut optimis kemudahan gerak organisasi di seluruh tingkatan pasca-terbitnya SK:

    “Proses menuju badan hukum ini memang melalui perjalanan yang panjang. Walaupun berkas sempat bolak-balik dikembalikan, kita tetap taat dan konsisten mengikuti seluruh mekanisme yang berlaku. Alhamdulillah, dengan hadirnya payung hukum ini, kini pergerakan organisasi di seluruh cabang dan kabupaten se-Indonesia akan semakin mudah terkonsolidasi demi kejayaan IKAPMAWI ke depan.”

    Dukungan penguatan jejaring juga ditegaskan oleh Ketua Bidang Kemitraan IKAPMAWI, Suprapto, S.H., M.M.:

    “Setelah memiliki Akta Pendirian yang disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI, koordinasi antara Pengurus Pusat dengan Cabang akan jauh lebih efektif dan terstruktur. Selain itu, legitimasi hukum ini memberikan asas legalitas yang kuat dalam setiap eksekusi program kerja maupun penggalangan dana organisasi.”

    Dinamika administratif dan proses penyesuaian regulasi yang panjang ini juga diungkapkan oleh Bendahara Umum IKAPMAWI, Saefudin, M.Ag.:

    “Proses verifikasi dan pendaftaran kelembagaan di kementerian memang menghadirkan tantangan tersendiri, mengingat adanya dinamika evaluasi administratif dan catatan historis kelembagaan Islam di tingkat pusat. Namun berkat konsistensi, transparansi, dan pemenuhan seluruh persyaratan regulasi, alhamdulillah IKAPMAWI mampu membuktikan integritasnya hingga resmi memperoleh legitimasi penuh dari Kementerian Hukum RI.”

    Di balik rampungnya seluruh tahapan legalitas tersebut, tersimpan komitmen dan pengorbanan logistik yang luar biasa. Seluruh pembiayaan akomodasi, kebutuhan operasional, hingga konsumsi dalam rangkaian rapat koordinasi dan penandatanganan berkas legalitas di Purwokerto ditanggung secara mandiri oleh Saefudin, M.Ag selaku Bendum IKAPMAWI Pusat, tanpa membebani satu Rupiah pun kas IKAPMAWI. Sikap kedermawanan dan keikhlasan berkhidmat ini menjadi teladan nyata bahwa gerak langkah organisasi ditopang oleh dedikasi tulus para pengurusnya demi kemaslahatan bersama.

    Penandatanganan dokumen legalitas ini diwakili oleh 11 Pengurus Utama:

    1. Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., MA.
    2. Prof. Dr. H. Supriyanto, Lc., M.S.I.
    3. Saefudin, M.Ag.
    4. Drs. H. Muslihun, M.M.
    5. Suprapto, S.H., M.M.
    6. Puji Handoko, S.Ag., M.Pd.
    7. Muhammad Rodlin, S.Ag., M.M.
    8. Prof. Dr. Khusnul Khotimah, M.Ag.
    9. Hamidan Majdi, S.H.
    10. Drs. Munbahij Al Khuluq
    11. Ety Widiati, S.Ag., M.H.

    Pengesahan Badan Hukum ini menjadi kado berharga bagi seluruh keluarga besar alumni MWI Kebarongan sekaligus menegaskan bahwa IKAPMAWI siap melangkah lebih jauh, melompati batas-batas konvensional tanpa sedikit pun mengikis akar nilai luhur pesantren yang telah ditanamkan oleh para muassis sejak tahun 1878.

    Informasi Resmi Dokumen Legalitas:

    • Nama Organisasi: Perkumpulan Ikatan Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI)
    • SK Kemenkum RI: Nomor AHU-0005468.AH.01.07.TAHUN 2026
    • Tanggal Penetapan: 20 Juli 2026
    • Akta Notaris: Dr. Agus Pandoman, S.H., M.Kn. (No. 01 Tanggal 14 Juli 2026)
    • Kedudukan Legal: Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
    • Lokasi Penandatanganan: Sekretariat IKAPMAWI, Teluk, Purwokerto Selatan

    Media & Publikasi IKAPMAWI Pusat

    Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat.

  • Bangga! Dr. Erlin Kurnia (Alumni MWI) Lulus Disertasi Humanistik

    Bangga! Dr. Erlin Kurnia (Alumni MWI) Lulus Disertasi Humanistik

    Konsep Internalisasi Nilai Humanistik-Islam dalam Kurikulum Merdeka Karya Dr. Erlin Kurnia

    cms.ikapmawi.com BANYUMAS | Pendidikan bukan sekadar deretan angka di atas kertas rapor, melainkan fondasi utama peradaban. Tanpa sentuhan pendidikan yang tepat, manusia tidak hanya akan mengalami kemunduran moral, tetapi juga menghadapi ancaman “kepunahan” karakter kemanusiaannya.

    Kesadaran filosofis mendalam inilah yang mengantarkan salah satu akademisi dan pengurus pusat IKAPMAWI, Dr. Erlin Kurnia Sri Rejeki, M.Pd.I., meraih gelar Doktor pada 13 Juli 2026 di Purwokerto.

    Melalui disertasi ilmiahnya yang berjudul “Internalisasi Nilai-Nilai Humanistik dalam Kurikulum Merdeka pada Sekolah Dasar di Kebumen – Jawa Tengah – Indonesia”, Dr. Erlin menawarkan formula segar: bagaimana mengintegrasikan nilai humanisme modern dengan nilai-nilai luhur Islam di ruang kelas Sekolah Dasar (SD).

    Secara idealita, pendidikan nasional kita mengemban misi suci yakni melahirkan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Sejalan dengan itu, para pemikir besar Islam seperti Al-Ghazali, Ibnu Miskawaih, dan Al-Farabi sejak berabad-abad lalu telah menekankan pentingnya mendidik manusia secara paripurna menyeimbangkan aspek intelektual, spiritual, dan moral (humanisme religius).

    Untuk mengejar idealita tersebut, Indonesia telah melakukan reformasi kurikulum berkali-kali, mulai dari kurikulum era kemerdekaan 1947 hingga lahirnya Kurikulum Merdeka pada Tahun 2022. Kurikulum Merdeka hadir sebagai paradigma baru yang dirancang untuk memulihkan pembelajaran pascapandemi (learning loss). Ciri khasnya adalah fleksibel, berpusat pada siswa (student-centered), fokus pada materi esensial, serta mengedepankan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang bermuara pada Profil Pelajar Pancasila.

    Namun, bagaimana realitanya di lapangan?

    Masih terdapat jurang pemisah (gap) yang lebar antara keindahan desain kurikulum dengan kenyataan di dalam kelas. Data PISA (Program for International Student Assessment) menunjukkan kualitas literasi, numerasi, dan sains anak-anak Indonesia masih berada di level bawah.

    Mengapa ini terjadi? Masalahnya terletak pada internalisasi nilai. Nilai-nilai seperti berpikir kritis, empati, dan tanggung jawab sering kali hanya dihafal, bukan dihayati. Padahal, jika nilai-nilai ini meresap dalam diri siswa, mereka akan memiliki kemampuan menalar dan memecahkan masalah dalam kehidupan nyata yang merupakan inti dari penilaian PISA itu sendiri.

    Dalam penelitiannya, Dr. Erlin mengambil lokus di Kabupaten Kebumen dengan membandingkan dua model sekolah dasar terbaik yang merepresentasikan lembaga negeri dan swasta Islam:

    1. SD – A : Mewakili sekolah negeri unggulan yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) dengan proses tata kelola yang sangat baik.
    2. SD – B: Mewakili sekolah swasta Islam modern yang sarat prestasi akademik maupun nonakademik.

    Melalui pendekatan komparatif ini, penelitian ini berhasil melahirkan peta jalan bagaimana nilai-nilai universal dapat diterapkan dengan sukses pada karakteristik sekolah yang berbeda.

    Kebaruan (novelty) utama dari riset Dr. Erlin adalah keberaniannya mengintegrasikan konsep humanisme universal Barat yang dirumuskan oleh American Humanist Association Center for Education bernama The Ten Commitments (Sepuluh Komitmen), lalu mendialogkannya secara ontologis dengan nilai-nilai luhur dalam Islam.

    Dr. Erlin memetakan 10 pilar nilai tersebut ke dalam konsep Islam secara indah:

    Altruism (Mementingkan orang lain) bersanding dengan nilai Īsār (mengutamakan orang lain).
    Empathy (Empati) bersanding dengan nilai Rahmah (kasih sayang).
    Critical Thinking (Berpikir kritis) bersanding dengan nilai Tafakkur (berpikir mendalam).
    Ethical Development (Perkembangan etika) bersanding dengan nilai Akhlakul Karimah (akhlak mulia).
    Responsibility (Tanggung jawab) bersanding dengan nilai Amanah (dapat dipercaya).
    Peace & Social Justice (Perdamaian & keadilan sosial) bersanding dengan nilai Salam & Adil.
    Humility (Rendah hati) bersanding dengan nilai Tawāḍuʿ.
    Environmentalism (Kepedulian lingkungan) bersanding dengan nilai Khalifah fi al-arḍ (pengelola bumi).
    Global Awareness (Kesadaran global) bersanding dengan nilai Ukhuwwah Insāniyyah (persaudaraan universal).
    Service & Participation (Pelayanan & partisipasi) bersanding dengan nilai Ta’āwun (tolong-menolong).

    Bagaimana cara memasukkan 10 nilai besar di atas agar tidak sekadar menjadi hafalan kognitif? Dr. Erlin mengadopsi teori internalisasi bertahap (Muhaimin) yang dibagi menjadi 3 fase berkesinambungan:

    • Transformasi Nilai (Transfer of Knowledge): Guru tidak hanya mendikte peraturan, melainkan mengenalkan dan memberikan pemahaman verbal yang logis tentang nilai-nilai humanistik berbasis Islam tersebut kepada siswa.
    • Transaksi Nilai (Two-Way Interaction): Terjadi interaksi aktif dua arah antara guru dan siswa. Di tahap ini, guru bertindak sebagai teladan (uswah), fasilitator, dan teman diskusi yang setara, sehingga siswa merasa dihargai.
    • Trans-internalisasi Nilai (Mental & Spiritual Integration): Nilai-nilai tersebut telah melewati proses penjiwaan yang mendalam hingga menyatu ke dalam kepribadian, struktur batin, dan refleks perilaku sehari-hari siswa tanpa perlu diawasi secara ketat.

    Disertasi ini tidak berhenti pada teori di atas awang-awang, melainkan merumuskan strategi taktis yang bisa langsung dipraktikkan oleh para kepala sekolah dan guru SD melalui enam pilar aksi:

    1. Pembelajaran Berdiferensiasi: Guru mengakomodasi keberagaman cara belajar, minat, serta potensi unik masing-masing anak. Tidak ada anak yang dianggap bodoh hanya karena ia berbeda.
    2. Project-Based Learning (PjBL): Pembelajaran berbasis proyek yang kontekstual dan dekat dengan realita kehidupan siswa guna melatih kemampuan kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah (problem solving).
    3. Outing Class: Mengajak siswa belajar di luar kelas secara berkala untuk menumbuhkan empati, rasa cinta tanah air, dan kepedulian nyata terhadap lingkungan sekitar.
    4. Pembiasaan Religius: Menghidupkan ibadah harian seperti doa bersama, dzikir, tilawah, shalat berjamaah, dan bersedekah secara konsisten sebagai jangkar spiritualitas anak.
    5. Budaya Sekolah Humanis: Menciptakan iklim sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan (bullying), di mana keteladanan ditunjukkan oleh seluruh warga sekolah.
    6. Kegiatan Ekstrakurikuler: Mengoptimalkan minat dan bakat anak untuk menumbuhkan sportivitas, jiwa kepemimpinan, dan kerja sama tim.

    Riset Dr. Erlin Kurnia Sri Rejeki, M.Pd.I., memberikan sumbangsih yang sangat berharga bagi arah masa depan pendidikan dasar di Indonesia. Beliau membuktikan bahwa Kurikulum Merdeka akan berjalan maksimal apabila “ruh” pembelajaran diisi dengan nilai-nilai humanistik yang bersumber dari spiritualitas Islam.

    Dengan strategi dan tahapan internalisasi yang tepat, sekolah-sekolah dasar di Indonesia tidak hanya akan mencetak siswa yang cerdas secara kognitif untuk menaikkan skor PISA, tetapi juga melahirkan generasi emas berkarakter mulia yang siap menjaga marwah kemanusiaan di masa depan.

    Selamat atas gelar Doktornya, Ibu Dr. Erlin! Karya mulia ini adalah bukti nyata komitmen alumni IKAPMAWI untuk terus menebar manfaat dan memajukan dunia pendidikan bangsa.

    Media IKAPMAWI

    Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat.

  • Menjadi “The Guardians of Legacy”: Pesan Ketum IKAPMAWI dalam Wisuda dan Penyerahan Alumni MWI Kebarongan

    Menjadi “The Guardians of Legacy”: Pesan Ketum IKAPMAWI dalam Wisuda dan Penyerahan Alumni MWI Kebarongan

    KEBARONGAN, 31 MEI 2026 – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI) Kebarongan pada hari ini, Ahad (31/5). Pondok bersejarah yang telah berdiri kokoh sejak tahun 1878 ini menggelar hajatan besar, yaitu Wisuda dan Penyerahan Santri Kelas XII untuk resmi melangkah ke tengah-tengah masyarakat sebagai alumni baru.

    Momen paling emosional dalam rangkaian acara inti terjadi saat prosesi penyerahan secara formal alumni kelas 12 dari pihak madrasah yang diwakili oleh Kepala MA WI, Ust. Taufiq, S.Ag., kepada Ikatan Keluarga Alumni Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) Nasional.

    Karena Ketua Umum IKAPMAWI Pusat, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag, M.Hum., MA. berhalangan hadir secara langsung di lokasi, pidato sambutan tersebut diwakilkan dan dibacakan  oleh Bp. Suprapto, SH (Ketua-II sekaligus Bidang Kemitraan Pomesmawi).

    Bukan Akhir, Melainkan “Starting Line” Perjuangan Nyata, Sambutan Ketua Umum menegaskan bahwa wisuda ini bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari babak kehidupan yang sesungguhnya.

    “Hari ini mungkin terasa sebagai garis akhir dari sebuah perjuangan panjang—belajar keras, mengaji, menghafal, dan berproses di pondok tercinta ini. Namun, izinkan saya mengingatkan: ini bukanlah garis akhir, melainkan awal (starting line) dari perjuangan yang sesungguhnya. Momentum peralihan kalian dari santri menjadi alumni dan anggota masyarakat yang sesungguhnya,” pesan Prof. Inayah.

    Pihak IKAPMAWI menyatakan menerima para wisudawan baru ini dengan tangan terbuka dan kebanggaan yang luar biasa dari Sabang sampai Merauke, bahkan yang kini berada di luar negeri. IKAPMAWI diposisikan sebagai “rumah baru” yang siap merangkul, membimbing, dan membersamai langkah mereka ke mana pun arah karir dan pendidikan yang akan dipilih.

    Melalui sambutan tersebut, Ibu Ketua juga mengingatkan kembali visi dasar organisasi sebagaimana tertuang dalam AD/ART Bab II Pasal 6 tentang Asas, Visi, Misi, Tujuan, dan Usaha:

    “Terwujudnya kesatuan alumni Pondok Pesantren dan Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan dan peran sertanya dalam memajukan almamater, alumni, dan masyarakat.”

    Visi besar ini mencakup tiga ruang pengabdian strategis yang saling menopang:

    1. Dimensi Internal: Mempererat solidaritas dan memberdayakan potensi alumni agar kompetitif di kancah lokal, nasional, maupun global.
    2. Dimensi Institusional: Berkhidmat menjaga marwah, kehormatan, dan kemajuan fisik serta akademik almamater MWI.
    3. Dimensi Sosial: Menebar kemaslahatan dan manfaat nyata bagi seluruh umat.

    Lima Prinsip Dasar Menjaga Kesehatan Mental dan Keberhasilan: Menghadapi dunia luar pesantren yang penuh dengan dinamika teknologi dan sosial, Ketua Umum menitipkan lima prinsip hidup esensial bagi para alumni baru agar tetap tangguh:

    • Prinsip 1 (Self-Love & Control): Perkuat benteng diri dengan menerima kelebihan serta kekurangan diri sendiri, kontrol pikiran, sikap, dan tindakan, serta jangan menggantungkan kebahagiaan pada validasi eksternal.
    • Prinsip 2 (Ikhtiar & Syukur): Selalu berikhtiar maksimal dan bersyukur dalam kondisi apa pun sebagai sumber kebahagiaan sejati.
    • Prinsip 3 (Silaturahim): Jaga selalu ikatan batin dengan pondok, madrasah, para asatidz, dan sesama teman seperjuangan.
    • Prinsip 4 (Kerukunan): Bangun kerja sama dan kebersamaan, serta jangan mudah terpecah belah oleh perbedaan.
    • Prinsip 5 (Ta’awun / Saling Menolong): Utamakan tolong-menolong. “Jika kelak kalian sukses, jangan lupakan teman yang masih berjuang. Tarik tangan mereka agar kita bisa sukses dan bahagia bersama.”

    “The Guardians of Legacy”: Penjaga Warisan Sejak 1878

    Menutup pembacaan sambutan, Suprapto mengajak para wisudawan untuk menyadari tanggung jawab besar yang kini ada di pundak mereka. Sebagai alumni dari institusi yang usianya jauh lebih tua dari Republik Indonesia, para wisudawan adalah “The Guardians of Legacy” (para penjaga warisan perjuangan).

    “Ada kehormatan, darah, dan air mata perjuangan para pendiri (muassis) di pundak kalian. Oleh karena itu, jagalah marwah MWI Kebarongan di mana pun kaki kalian berpijak. Tunjukkan akhlak seorang santri Wathoniyah yang moderat, cerdas, beradab, religius, berjiwa nasionalis, dan bahagia.”

    Acara diakhiri dengan Ucapan slogan perjuangan yang disampaikan kepada seluruh hadirin: “IKAPMAWI: Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat!”

    Santri kelas 12 Takhasus yang baru saja didaulat membacakan Ikrar Wisudawan di hadapan ratusan hadirin ini, juga merupakan Ketua OSIM (Ikatan Pelajar Madrasah Wathoniyah Islamiyah – IPMAWI) periode aktif yang kini resmi menyandang status baru sebagai alumni.

    Tim Media IKAPMAWI berkesempatan menemui Rijal di sela-sela momentum kelulusannya untuk melakukan wawancara singkat mengenai pandangan generasi muda terhadap wadah alumni ini.

    Kenangan Manis Bersama Kakak-Kakak Alumni, Saat ditanya mengenai sejauh mana ia mengenal IKAPMAWI, pemuda yang akrab disapa Rijal ini menjawab dengan antusias. Menurutnya, kiprah IKAPMAWI sudah sangat akrab di telinga para santri aktif melalui berbagai program kolaboratif.

    “Tentu pernah (mendengar tentang IKAPMAWI). Yang paling menonjol dan diingat santri adalah ketika kakak-kakak IKAPMAWI hadir menjadi pemateri dalam agenda Upgrading IPMAWI. Selain itu, ada juga acara IKAPMAWI Expo di mana seluruh pengisinya adalah para alumni sendiri,” kenang Rijal dengan wajah bangga.

    Rijal juga dengan fasih menyebutkan nama Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag, M.Hum., MA. sebagai Ketua Umum IKAPMAWI Pusat saat ini, menunjukkan bahwa komunikasi dan figur kepemimpinan alumni telah tersosialisasi dengan sangat baik bahkan ke tingkat santri aktif.

    Sebagai representasi dari angkatan kelulusan tahun 2026, Rijal menitipkan pesan yang sangat kuat dan to-the-point untuk teman-teman seangkatannya serta para alumni senior yang sedang menempuh jalan hidup masing-masing.

    “Untuk teman-teman alumni yang satu angkatan, atau kakak-kakak alumni di atas saya, mari kita ikuti dan aktif di IKAPMAWI. Karena IKAPMAWI itu sangat berguna untuk kita, utamanya dalam menyambung tali silaturahmi. Selain itu, wadah ini sangat penting untuk menambah relasi kita tentang dunia perkuliahan, maupun dalam mempersiapkan diri menuju dunia kerja nanti,” ungkap Rijal dengan penuh harap.

    Pernyataan dari Ketua IPMAWI ini menjadi bukti bahwa visi IKAPMAWI sebagai navigator masa depan lulusan telah disambut dengan sangat positif oleh generasi muda. Kesiapan para wisudawan baru untuk langsung melebur dalam barisan keluarga besar IKAPMAWI menjadi suntikan energi segar bagi organisasi untuk terus berbenah dan menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas.

    Selamat datang di IKAPMAWI, Rijal dan seluruh jajaran wisudawan angkatan 2026! Kepakkan sayap kalian tinggi-tinggi, karena rumah besar alumni siap membersamai setiap jengkal langkah perjuangan kalian.

    Media IKAPMAWI

  • Bukti Cinta Almamater: IKAPMAWI Salurkan Bingkisan Lebaran untuk Guru dan Pensiunan MWI

    Bukti Cinta Almamater: IKAPMAWI Salurkan Bingkisan Lebaran untuk Guru dan Pensiunan MWI

    KEBARONGAN, 18 Maret 2026 – Suasana penuh ta’zhim menyelimuti Masjid Jami’ Teleng, kompleks Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI) Kebarongan pada Rabu siang (18/3). Ikatan Keluarga Alumni Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) melaksanakan penyaluran “Bingkisan Hari Raya” Tahap II yang ditujukan khusus bagi para asatidz, serta para pensiunan PPMWI Kebarongan.

    Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum IKAPMAWI Pusat, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag, M.Hum., MA., beserta jajaran pengurus harian. Kehadiran rombongan pengurus pusat disambut antusias oleh ratusan tenaga pendidik dari berbagai unit, mulai dari RA, MI, MTs, MA, hingga perwakilan dari unit Masjid dan Pondok Pesantren.

    Dalam sambutannya, Prof. Inayah mengungkapkan bahwa agenda ini direncanakan secara “super kilat” sebagai bentuk ujian loyalitas. “Kegiatan ini sebenarnya direncanakan super kilat. Kita sebenarnya ingin mengetes seberapa dalam sih cintanya alumni kepada almamater. Dan alhamdulillah, ternyata sudah terbukti cinta alumni pada almamater itu tidak perlu dipertanyakan lagi,” ungkap beliau. 

    Beliau menjelaskan adanya fenomena unik di kalangan lulusan Kebarongan yang disebut dengan istilah “Mambu MWI”. “Ciri alumni kita itu selalu ‘Mambu MWI’. Kalau sudah disebut MWI atau almamater, hatinya katanya langsung bergetar, istilahnya seperti Wajilat qulubuhum,” sembari disambut senyum haru para hadirin.

    Saat sesi wawancara, Prof. Inayah menegaskan bahwa kepedulian alumni kini telah bergeser dari sekadar wacana menjadi aksi nyata. “Ini adalah sebuah simbol bahwa alumni mempunyai perhatian yang tidak akan pernah hilang dan mempunyai kepedulian yang terus berlanjut. Kepedulian itu tidak hanya di ranah abstrak seperti hanya berdoa atau berharap, tetapi turun langsung ke lapangan,” tegasnya.

    Penyaluran tahap kedua ini merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang telah menyentuh 180 santri yatim dan dhuafa. Kali ini, fokus dialihkan kepada para pejuang di jalan Allah, yakni para guru dan pensiunan. “Bapak-ibu guru ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Kami ingin memastikan kehadiran alumni bisa menambah kebahagiaan bapak-ibu menjelang lebaran nanti,” tambahnya.

    Di hadapan para guru, Prof. Inayah juga membawa kabar penting mengenai penataan manajerial IKAPMAWI. Saat ini, organisasi sedang mengurus legalitas resmi di Kementerian Hukum dan HAM sebagai bentuk “Perkumpulan” yang diakui negara.

    “Selama ini IKAPMAWI belum punya legalitas. Sekarang kita sedang proses di Kemenkumham agar diakui negara. Kita juga akan membuat rekening atas nama organisasi sehingga semuanya transparan. Melalui website cms.ikapmawi.com, semua uang yang masuk dan keluarnya ke mana bisa dimonitor langsung, tidak masuk ke rekening personal,” jelas beliau guna memastikan akuntabilitas amanah para alumni.

    IKAPMAWI telah memetakan tiga area khidmat: kepada Almamater, sesama alumni, dan umat. Beliau menyebutkan rencana bantuan fisik yang mendesak, seperti rehabilitasi ruang kelas yang kondisinya memprihatinkan. “Ada rencana untuk merehab beberapa gedung, sesuai masukan guru-guru ada ruang kelas yang mau ambruk, itu akan kita tindak lanjuti pelan-pelan,” ujarnya.

    Selain fisik, kualitas akademik juga menjadi perhatian utama. Prof. Inayah menginginkan agar lulusan MWI memiliki kompetensi yang unggul. “Jangan ada lagi kisah sedih lulusan MWI tapi baca tulis Al-Qur’annya tidak lulus. Kita ingin kualitasnya oke, daftar kuliah di universitas ternama bisa bersaing. Kami punya banyak profesor dan doktor di alumni yang siap mendampingi bapak-ibu guru untuk mengoptimalkan potensi yang ada.”

    Acara ditutup dengan doa bersama untuk kesehatan para guru. “Bapak-ibu guru harus sehat, karena kalau jenengan tidak sehat, nanti murid-muridnya bagaimana?” pungkas beliau dengan penuh perhatian. Penyerahan simbolis bingkisan kepada para guru senior pun menjadi penutup manis yang mengabadikan momen kebersamaan di bawah langit MWI.

    Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat.

    Redaksi-ikapmawi

    Lokasi: Masjid Jami’ Teleng, MWI Kebarongan

  • Di Bawah Langit MWI: Istana tanpa Kasta (Part 1)

    Di Bawah Langit MWI: Istana tanpa Kasta (Part 1)

    Inayah Rohmaniyah

    Untuk Bapak dan Ibu yang teramat kucintai, yang mengajarkanku bahwa seluas dan seindah apapun rumah, takkan pernah cukup jika tanpa pintu yang selalu terbuka.”

    Rumahku Sebagai Ruang Publik

    Istana di Jantung MWI. Sekitar 160 kilometer dari keriuhan Kota Yogyakarta, tepat di jantung MWI, sebuah Pondok Pesantren tua di Desa Kebarongan Banyumas yang sarat sejarah, berdiri sebuah rumah yang lebih menyerupai pelukan besar bagi siapa pun yang datang. Bagi banyak orang, ia mungkin sekadar bangunan yang semakin renta, namun bagi saya, ia adalah istana dengan tembok-tembok kokoh yang menyimpan rahasia yang selama ini hanya menjadi nyanyian bisu dan tak terdengar. Rumah ini memiliki napasnya sendiri dan semua sisinya menjadi halaman depan yang selalu terbuka. Di sisi utara, sebuah ruang tamu yang luas menyambut setiap langkah kaki yang singgah. Di sisi selatan terhampar beranda atau balai yang apik, tempat ilmu, berbagai gagasan, dan silaturahmi berkelindan. Bahkan, di ujung ruang keluarga di sisi yang lain, semilir angin dari ruang yang setengah terbuka seringkali membuat siapapun terlena dalam ketenangan. Ruang ini memisahkan antara kehangatan ruang keluarga dengan hiruk-pikuk dapur yang sangat luas. Di dalam pelukan rumahku, juga berdiri asrama besar tempat teman-temanku para santri perempuan bernaung. Suara lantunan ayat, dzikir, dan canda tawa kecil mereka menjadi musik alami yang selalu menghiasi setiap sudut ruangan. Keberadaan mereka menjadikan rumah itu terus berdenyut dan jauh dari kesunyian.

    Rumah untuk semua. Struktur rumah yang didominasi ruang publik ini adalah symbol nyata sosok Bapak dan Ibu yang teramat kucintai. Sebagai pengasuh pesantren, mereka adalah tauladan yang tanpa Lelah tiada henti menerima berbagai ragam manusia dengan keluh kesah dan cerita yang berbeda. Dulu aku sering bertanya, apa bapak dan ibu tidak Lelah? apa tidak merasa terganggu ketika bahkan hingga larut malam masih ada yang mengetuk pintu, atau tamu-tamu tak kunjung bergeming meninggalkan bangku-bangku di ruang tamu? Kini aku tahu, ruang-ruang ini adalah saksi abadi bagaimana privasi keluarga sering melebur demi pengabdian. Setiap sudut ruang itu menyaksikan bagaimana kehangatan ruang keluarga dan ruang publik terus terjalin, seiring lantunan doa yang tak henti mengalir dari ketulusan para hati yang datang. Sebuah Pelajaran indah tentang ketulusan, cinta, dan kebahagiaan sederhana. 

    Rumah ini adalah saksi bisu tempat jiwa dan diriku tertempa, melalui liku perjalanan yang tak mudah. Aku menuliskannya bukan sekadar untuk bernostalgia, tetapi untuk merawat ingatan dan cinta. Sebab, sejarah diri adalah ruh yang membentuk jati diri dan masa depan. Aku percaya, saat kita mampu memaknai setiap fragmen kehidupan, ia akan berubah menjadi cahaya, guru tak tertandingi, dan kompas kehidupan yang memandu kita menuju hidup yang lebih bermakna, bermanfaat, dan utuh dalam kebahagiaan.

    Guru Sejatiku di Rumahku 

    Gadis Kecil Di Tengah Riuh Saudara Laki-Laki. Kenangan ini masih terus terukir di sudut terdalam hatiku, saat kuhabiskan hari-hari bersama orang-orang yang sangat kucintai. Sebagai satu-satunya gadis kecil yang tumbuh menjadi remaja di keluarga itu, aku sering melihat dunia memperlakukanku dengan cara yang berbeda. Di sela riuh tawa dan tangis kelahi saudara-saudara laki-lakiku, aku kerap bertanya: Apakah karena aku Perempuan? Atau karena aku satu-satunya “Mutiara kecil” yang hadir di Tengah? Bagian ini akan akan kusimpan dan kutuliskan untuk cerita di lain waktu. Namun yang pasti, masa-masa itu menjadi kenangan terindah dan menjadi titik berangkatku menyusuri luasnya samudera kehidupan, melewati pasang surut tawa dan tangis, duka dan bahagia, hingga detik ini. 

    Bapak: Samudra Ilmu bagi Ribuan Santri. Bapakku, Kyai Asifuddin Zawawi, adalah sosok yang cintanya tak henti meluap melampaui dinding rumah kami. Beliau adalah panutan, sebuah oase tempat ribuan santri menimba dahaga ilmu. Cintanya yang melimpah terus mengalir ke dalam relung kehidupan para santri yang teramat menghormati dan juga mencintainya. Aku menyaksikan orang orang datang dan pergi, belajar kepada Bapak pada berbagai kesempatan dengan cara yang beragam. Ribuan santri tentu tidak seragam dalam menangkap ilmu dan intisari kehidupan dari setiap ucapan dan tindak laku yang diajarkan sang Guru, meski mereka mengaku sangat terpengaruh dan menggenggam erat setiap untaian hikmah yang dipelajari dari Bapak. Setiap santri mungkin dengan bangga membawa pulang kepingan hikmah yang berbeda-beda, tergantung pada bejana hati yang mereka bawa. Namun bagiku, hubunganku dengan beliau tentu jauh lebih dari sekadar guru dan murid.

    Belajar pada Sang Murabbi di Rumah Sendiri. Jika ribuan santri dengan gempita mengaku telah mempelajari intisari kehidupan dari Bapak, maka aku memiliki keberuntungan yang jauh lebih dalam. Sebagai putrinya, aku tidak hanya mendengarkan percikan ilmu  beliau di depan mimbar atau di ruang-ruang kelas, tetapi aku melihat bagaimana ilmu itu menjelma menjadi denyut dan nafas serta gerak bapak dalam kehidupan sehari hari. Bapak dan Ibu adalah madrasah pertamaku dan rumah yang sesungguhnya, guru kehidupan yang tak pernah berhenti walau dalam diam. Di rumah yang luas ini dan dalam kehangatan dekapan cinta mereka, aku tidak hanya belajar tentang teks-teks agama. Lebih dari itu, aku mengerti bagaimana cinta, ketegasan, dan kelembutan bersatu dalam pengabdian. Inilah fragmen sejarah yang ingin kubagikan: sebuah kisah tentang bagaimana seorang anak perempuan belajar menjadi manusia dari dua guru sejati di rumahnya sendiri.

    Putri Kecil Belajar Ketangguhan, Kesetaraan dan Kelembutan

    Senyuman di Pagi Hari. Dalam ingatan masa kecilku, aku adalah seorang putri yang begitu dicintai dan dijaga. Bapak memanjakanku seperti puteri salju yang harus selalu menjadi nomor satu. Beliau memperlakukanku dengan kelembutan yang luar biasa, seolah memastikan bahwa tidak boleh ada yang membuatku menangis atau sakit hati. Di sisi lain, Ibu harus mencurahkan hamper seluruh waktunya untuk menemani dan merawat Bapak yang sakit, dan aku tumbuh dalam asuhan hangat Bu Lik (Mutmainnah), adik kandung Ibu.

    Masih jelas dalam ingatanku, Setiap pagi sebelum kaki kecilku melangkah menyusuri jalanan pegunungan menuju SD Negeri 1 di pinggir jalan raya, ada sebuah ritual yang tak pernah terlewatkan.  Bapak setiap pagi duduk di kursi depan, dan di sisinya selalu tersedia tumpukan uang receh untuk uang saku kami. Setelah ritual “salim” dan senyuman bapak, serta “sangu,” aku akan berangkat menembus semilir angin gunung yang segar. Sejak kecil aku menyaksikan bapak tidak bisa berjalan dengan tegak. Beliau sudah lumpuh separuh sejak aku belum dilahirkan (1971), dan setiap langkahnya harus selalu ditopang oleh tangan orang lain. 

    Cinta tanpa Batas. Aku sering tidak masuk sekolah karena harus mengikuti bapak berobat dari satu kota ke kota yang lain. Bapak seolah tak ingin berjarak denganku atau meninggalkanku. Beliau ingin aku ada di mana pun beliau mencari kesembuhan. Kami pernah tinggal lama di Bogor, menetap di Semarang, hingga menepi di pantai Petanahan. Masih terbayang jelas hingga kini, bagaimana rasanya duduk di atas dokar yang ditarik kuda, menempuh perjalanan panjang menuju rumah dokter atau kediaman Mbah. Pepohonan hijau yang berderet di pinggir jalan, dan semilir angin yang tak bosan mengibaskan rambutku, menjadi sensasi yang bahkan hingga detik ini masih bisa kurasakan. Di mana pun kami berada, rumah selalu penuh sesak oleh para alumni MWI yang datang membezuk dan mendoakan. Dalam keterbatasan fisiknya, bapak tetap menjadi magnet yang memancarkan kewibawaan dan cinta.

    Kelembutan Laki-Laki sebagai Kekuatannya. Perjalanan berpindah-pindah kota dalam ikhtiar mencari kesembuhan bapak, tentu bersama ibu juga, ternyata menjadi madrasah alam bawah sadar yang membentuk fondasi jiwaku. Dari perjalanan yang bagaikan tiada akhir itu, aku mewarisi tiga obor kehidupan yang hingga kini terus menyala. Pertama, aku belajar untuk tidak takut pada perubahan, cepat beradaptasi dengan sekitarku, mudah berkawan dengan orang orang baru, dan menemukan kebahagiaan dimana pun aku menapakkan kaki. Aku akhirnya mengerti bahwa rumah bukan sekedar bangunan atau koordinat geografi, tetapi kemampuan anggotanya untuk saling merawat cinta, menjaga hati untuk tetap merasa nyaman tanpa dibatasi ruang dan waktu. Pelajaran kedua, aku melihat daya juang bapak dan ibu, berjuang melawan sakit tanpa kenal lelah, bahkan tak sekalipun aku mendengar kata-kata keluh kesah keluar dari lisan mereka. Bapak yang harus selalu dibantu bahkan hanya untuk sekedar berdiri atau berjalan tetap memancarkan wibawa, ketenangan, dan sekaligus kesabaran. Di sisi lain ibu adalah pilar ketulusan, kesetiaan, dan ketangguhan. Karakter ibu yang periang, super ramah, dan mudah bersahabat membuatnya tidak pernah kehilangan teman meski berada di lingkungan baru. Ketangguhan Ibu mendampingi Bapak menjadi bukti bahwa cinta dan kasih sayang adalah bahan bakar yang tak ada habisnya. Ibu mengajarkanku bahwa kita bisa tetap bahagia dan bahkan menjadi “cahaya” bagi orang lain, meskipun kita sendiri sedang memikul beban ujian yang tidak ringan. Ketiga, diantara pelajaran yang paling membekas dalam relung terdalam hatiku adalah kelembutan bapak. Aku tidak pernah mendengar sekalipun bapak bicara kasar, membentak apalagi memukul ibu. Beliau sangat menyayangi dan memanjakan ibu, selalu bicara lembut, dan tidak menuntut apapun darinya. Bapak mengajarkanku bahwa laki-laki sejati tidak akan menunjukkan kekuasaan dengan amarah dan dominasi, melainkan melalui kelembutan dan kasih sayang.

    Hidup Penuh Kesahajaan, Rumah Tanpa Kasta

    Senyum Yang Selalu Kurindukan. Meski waktu yang kualami bersama Bapak terasa sangat pendek (bapak meninggal tahun 1981 ketika usiaku baru 10 tahun), namun beliau dan Ibu berhasil menanamkan satu nilai yang menjadi lentera hidupku: kesahajaan. Bapak adalah pribadi yang tidak banyak bicara, namun kecerdasan terpancar dari ketenangannya. Beliau tidak banyak mengumbar kata, tapi senyumnya senantiasa menebar pada semua. Masih kuingat bagaimana Bapak selalu menyambut tamu-tamu dengan hangat, meski kaki dan tangannya yang lumpuh membatasi geraknya. Kelumpuhan fisik tak pernah sanggup melumpuhkan keramahannya. Tamu-tamu datang silih berganti, dan jika Bapak sedang sare (tidur), mereka dengan setia menunggu hingga beliau terbangun. Di rumah itu, pintu tidak pernah benar-benar tertutup; ia selalu terbuka lebar bagi siapa pun dan kapan pun. Sebuah ketulusan yang hingga kini masih terus kuperjuangkan untuk bisa kuteladani. 

    Meja dan Dapur Simbol Kesetaraan Sosial. Ibuku adalah belahan jiwa yang menyempurnakan kesahajaan bapak. Keramahannya sama sekali tidak mengenal kasta. Masih teringat dengan jelas, siapa pun yang datang —mulai dari tukang sampah, penjual sayur, hingga bakul tempe— disapa dengan senyum dan kehangatan yang sama. Mereka diminta duduk di meja yang sama dengan ibu dan Bapak, diajak mengobrol, dan disuguhi teh atau kopi (medang). Aku terbiasa dengan pemandangan ini di rumah, duduk dan makan bersama para asisten rumah tangga (ART) dan orang-orang kecil yang seringkali dipandang sebelah mata oleh dunia luar. Bagi kami, mereka bukan sekedar rewang atau pekerja: mereka adalah bagian dari keluarga. Di meja makan dan dapur, di sela canda tawa kami, tertanam lekat sebuah prinsio kuat dalam pikiran dan hatiku: Hidup tak mengenal kasta, semua manusia sama dan berhak tertawa.

    Guncangan terberat saat Cahaya itu Redup. Kebahagiaan, keceriaan, dan kesahajaan yang terajut akhirnya sampai pada titik ujian terberatnya, Bapak pergi untuk selama-lamanya. Masih terngiang jelas di telingaku, bagaimana pecah tangis ibu bersahutan dengan langkah orang-orang yang keluar dari kamar paling depan di rumah besar itu. Mereka berjalan tergesa sambil menyeka air mata: bapak telah menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan kami semua. Rasa sakit dan sedih menghujam begitu hebat saat itu, hingga aku ingin turut serta pergi bersamanya, menemani beliau di alam sana agar tidak sendirian. 
    Aku masih ingat barisan pelayat yang mengular sangat panjang, memenuhi sepanjang jalan menuju rumah kami. Seluruh desa bahkan negeri seolah turut berduka mengantarkan bapak menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Namun aneh, memori tentang hari itu terasa samar dan berkabut jika dibandingkan dengan hari-hari bahagiaku bersama Bapak. Mungkin, alam bawah sadarku bekerja melindungi jiwa yang terluka, menghapus detail-detail kepedihan agar aku tetap memiliki kekuatan untuk berdiri tegak dan melanjutkan  hidup demi meraih mimpi. Perpisahan itu adalah luka pertama yang mengajariku bahwa cinta yang besar akan meninggalkan kerinduan yang juga sama besarnya.

    Bersambung ke- Part 2