Tag: kebarongan

  • Resmi Berbadan Hukum, IKAPMAWI memasuki Era Tata Kelola Modern

    Resmi Berbadan Hukum, IKAPMAWI memasuki Era Tata Kelola Modern

    BANYUMAS, AGUSTUS 2026 – Ikatan Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) Kebarongan resmi mencatatkan sejarah baru dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan. Legalitas resmi bernomor AHU-0005468.AH.01.07.TAHUN 2026 ini menandai transformasi kelembagaan IKAPMAWI menuju organisasi modern yang akuntabel, diakui negara, dan siap mengembangkan kontribusi nyata bagi alumni, almamater, serta bangsa.

    Keputusan ini memberikan kekuatan hukum tetap (legal standing) bagi seluruh gerak langkah, kemitraan strategis, maupun tata kelola program yang dijalankan oleh Pengurus Pusat hingga Cabang IKAPMAWI di seluruh Indonesia.

    Ketua Umum Pengurus Pusat IKAPMAWI, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., MA., menegaskan bahwa pencapaian legalitas ini bukan sekadar pemenuhan aspek yuridis formal, melainkan momentum historis untuk memperkuat tata kelola organisasi yang mandiri, berintegritas, dan dipercaya publik.

    “Dinamika dalam proses verifikasi badan hukum tidak terlepas dari pembacaan catatan historis masa lalu terkait dinamika kelembagaan di Kebarongan. Namun, lahirnya SK Kementerian Hukum RI ini menjadi bukti sahih bahwa IKAPMAWI mampu melampaui stigma masa lalu dan menegaskan posisinya sebagai organisasi alumni yang berintegritas, moderat, serta berkomitmen penuh pada pilar kebangsaan.”

    Beliau menambahkan bahwa keberadaan struktur Dewan Pengawas yang disyaratkan oleh regulasi negara merupakan langkah konstruktif untuk mewujudkan tata kelola organisasi yang sehat (Good Organizational Governance):

    “Kemenkumham RI secara kelembagaan mensyaratkan hadirnya struktur Dewan Pengawas dalam kepengurusan. Langkah ini kami sambut positif sebagai ikhtiar membangun sistem tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, dan memiliki mekanisme check and balances, khususnya dalam pengelolaan amanah finansial organisasi.”

    Menjaga kepercayaan (trust) anggota menjadi prioritas mutlak kepengurusan. Dukungan nyata alumni yang terhimpun secara swadaya sejak awal konsolidasi menjadi amanah besar yang wajib dipertanggungjawabkan secara terbuka:

    “Sejak awal konsolidasi, antusiasme dan kepercayaan (trust) alumni sangat tinggi. Hal ini terbukti dari keberhasilan penghimpunan dana gotong royong alumni yang mencapai Ratusan juta pada fase awal, dengan sisa saldo aktif puluhan juta rupiah yang terkelola rapi dan siap dialokasikan untuk program-program kemaslahatan. Kepercayaan yang begitu besar ini menuntut tanggung jawab moral dan administratif yang mutlak, sehingga kehadiran Dewan Pengawas menjadi fondasi penting agar setiap rupiah dana umat dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.”

    Ketua Dewan Pengawas IKAPMAWI, Drs. Munbahij Al Khuluq, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini diraih setelah melalui proses dialog dan pembuktian komitmen kebangsaan:

    “Proses verifikasi kelembagaan sebelumnya sempat menghadapi tantangan akibat mispersepsi historis dan stigma ideologis yang melekat pada catatan kelembagaan antar-kementerian. Melalui konsolidasi yang gigih, transparansi, serta pembuktian komitmen kebangsaan, IKAPMAWI kini berhasil melampaui sekat-sekat miskonsepsi tersebut dan mengantongi legalitas resmi negara secara utuh.”

    Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat IKAPMAWI, Drs. H. Muslihun, M.M., menyambut optimis kemudahan gerak organisasi di seluruh tingkatan pasca-terbitnya SK:

    “Proses menuju badan hukum ini memang melalui perjalanan yang panjang. Walaupun berkas sempat bolak-balik dikembalikan, kita tetap taat dan konsisten mengikuti seluruh mekanisme yang berlaku. Alhamdulillah, dengan hadirnya payung hukum ini, kini pergerakan organisasi di seluruh cabang dan kabupaten se-Indonesia akan semakin mudah terkonsolidasi demi kejayaan IKAPMAWI ke depan.”

    Dukungan penguatan jejaring juga ditegaskan oleh Ketua Bidang Kemitraan IKAPMAWI, Suprapto, S.H., M.M.:

    “Setelah memiliki Akta Pendirian yang disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI, koordinasi antara Pengurus Pusat dengan Cabang akan jauh lebih efektif dan terstruktur. Selain itu, legitimasi hukum ini memberikan asas legalitas yang kuat dalam setiap eksekusi program kerja maupun penggalangan dana organisasi.”

    Dinamika administratif dan proses penyesuaian regulasi yang panjang ini juga diungkapkan oleh Bendahara Umum IKAPMAWI, Saefudin, M.Ag.:

    “Proses verifikasi dan pendaftaran kelembagaan di kementerian memang menghadirkan tantangan tersendiri, mengingat adanya dinamika evaluasi administratif dan catatan historis kelembagaan Islam di tingkat pusat. Namun berkat konsistensi, transparansi, dan pemenuhan seluruh persyaratan regulasi, alhamdulillah IKAPMAWI mampu membuktikan integritasnya hingga resmi memperoleh legitimasi penuh dari Kementerian Hukum RI.”

    Di balik rampungnya seluruh tahapan legalitas tersebut, tersimpan komitmen dan pengorbanan logistik yang luar biasa. Seluruh pembiayaan akomodasi, kebutuhan operasional, hingga konsumsi dalam rangkaian rapat koordinasi dan penandatanganan berkas legalitas di Purwokerto ditanggung secara mandiri oleh Saefudin, M.Ag selaku Bendum IKAPMAWI Pusat, tanpa membebani satu Rupiah pun kas IKAPMAWI. Sikap kedermawanan dan keikhlasan berkhidmat ini menjadi teladan nyata bahwa gerak langkah organisasi ditopang oleh dedikasi tulus para pengurusnya demi kemaslahatan bersama.

    Penandatanganan dokumen legalitas ini diwakili oleh 11 Pengurus Utama:

    1. Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., MA.
    2. Prof. Dr. H. Supriyanto, Lc., M.S.I.
    3. Saefudin, M.Ag.
    4. Drs. H. Muslihun, M.M.
    5. Suprapto, S.H., M.M.
    6. Puji Handoko, S.Ag., M.Pd.
    7. Muhammad Rodlin, S.Ag., M.M.
    8. Prof. Dr. Khusnul Khotimah, M.Ag.
    9. Hamidan Majdi, S.H.
    10. Drs. Munbahij Al Khuluq
    11. Ety Widiati, S.Ag., M.H.

    Pengesahan Badan Hukum ini menjadi kado berharga bagi seluruh keluarga besar alumni MWI Kebarongan sekaligus menegaskan bahwa IKAPMAWI siap melangkah lebih jauh, melompati batas-batas konvensional tanpa sedikit pun mengikis akar nilai luhur pesantren yang telah ditanamkan oleh para muassis sejak tahun 1878.

    Informasi Resmi Dokumen Legalitas:

    • Nama Organisasi: Perkumpulan Ikatan Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI)
    • SK Kemenkum RI: Nomor AHU-0005468.AH.01.07.TAHUN 2026
    • Tanggal Penetapan: 20 Juli 2026
    • Akta Notaris: Dr. Agus Pandoman, S.H., M.Kn. (No. 01 Tanggal 14 Juli 2026)
    • Kedudukan Legal: Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
    • Lokasi Penandatanganan: Sekretariat IKAPMAWI, Teluk, Purwokerto Selatan

    Media & Publikasi IKAPMAWI Pusat

    Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat.

  • Bangga! Dr. Erlin Kurnia (Alumni MWI) Lulus Disertasi Humanistik

    Bangga! Dr. Erlin Kurnia (Alumni MWI) Lulus Disertasi Humanistik

    Konsep Internalisasi Nilai Humanistik-Islam dalam Kurikulum Merdeka Karya Dr. Erlin Kurnia

    cms.ikapmawi.com BANYUMAS | Pendidikan bukan sekadar deretan angka di atas kertas rapor, melainkan fondasi utama peradaban. Tanpa sentuhan pendidikan yang tepat, manusia tidak hanya akan mengalami kemunduran moral, tetapi juga menghadapi ancaman “kepunahan” karakter kemanusiaannya.

    Kesadaran filosofis mendalam inilah yang mengantarkan salah satu akademisi dan pengurus pusat IKAPMAWI, Dr. Erlin Kurnia Sri Rejeki, M.Pd.I., meraih gelar Doktor pada 13 Juli 2026 di Purwokerto.

    Melalui disertasi ilmiahnya yang berjudul “Internalisasi Nilai-Nilai Humanistik dalam Kurikulum Merdeka pada Sekolah Dasar di Kebumen – Jawa Tengah – Indonesia”, Dr. Erlin menawarkan formula segar: bagaimana mengintegrasikan nilai humanisme modern dengan nilai-nilai luhur Islam di ruang kelas Sekolah Dasar (SD).

    Secara idealita, pendidikan nasional kita mengemban misi suci yakni melahirkan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Sejalan dengan itu, para pemikir besar Islam seperti Al-Ghazali, Ibnu Miskawaih, dan Al-Farabi sejak berabad-abad lalu telah menekankan pentingnya mendidik manusia secara paripurna menyeimbangkan aspek intelektual, spiritual, dan moral (humanisme religius).

    Untuk mengejar idealita tersebut, Indonesia telah melakukan reformasi kurikulum berkali-kali, mulai dari kurikulum era kemerdekaan 1947 hingga lahirnya Kurikulum Merdeka pada Tahun 2022. Kurikulum Merdeka hadir sebagai paradigma baru yang dirancang untuk memulihkan pembelajaran pascapandemi (learning loss). Ciri khasnya adalah fleksibel, berpusat pada siswa (student-centered), fokus pada materi esensial, serta mengedepankan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang bermuara pada Profil Pelajar Pancasila.

    Namun, bagaimana realitanya di lapangan?

    Masih terdapat jurang pemisah (gap) yang lebar antara keindahan desain kurikulum dengan kenyataan di dalam kelas. Data PISA (Program for International Student Assessment) menunjukkan kualitas literasi, numerasi, dan sains anak-anak Indonesia masih berada di level bawah.

    Mengapa ini terjadi? Masalahnya terletak pada internalisasi nilai. Nilai-nilai seperti berpikir kritis, empati, dan tanggung jawab sering kali hanya dihafal, bukan dihayati. Padahal, jika nilai-nilai ini meresap dalam diri siswa, mereka akan memiliki kemampuan menalar dan memecahkan masalah dalam kehidupan nyata yang merupakan inti dari penilaian PISA itu sendiri.

    Dalam penelitiannya, Dr. Erlin mengambil lokus di Kabupaten Kebumen dengan membandingkan dua model sekolah dasar terbaik yang merepresentasikan lembaga negeri dan swasta Islam:

    1. SD – A : Mewakili sekolah negeri unggulan yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) dengan proses tata kelola yang sangat baik.
    2. SD – B: Mewakili sekolah swasta Islam modern yang sarat prestasi akademik maupun nonakademik.

    Melalui pendekatan komparatif ini, penelitian ini berhasil melahirkan peta jalan bagaimana nilai-nilai universal dapat diterapkan dengan sukses pada karakteristik sekolah yang berbeda.

    Kebaruan (novelty) utama dari riset Dr. Erlin adalah keberaniannya mengintegrasikan konsep humanisme universal Barat yang dirumuskan oleh American Humanist Association Center for Education bernama The Ten Commitments (Sepuluh Komitmen), lalu mendialogkannya secara ontologis dengan nilai-nilai luhur dalam Islam.

    Dr. Erlin memetakan 10 pilar nilai tersebut ke dalam konsep Islam secara indah:

    Altruism (Mementingkan orang lain) bersanding dengan nilai Īsār (mengutamakan orang lain).
    Empathy (Empati) bersanding dengan nilai Rahmah (kasih sayang).
    Critical Thinking (Berpikir kritis) bersanding dengan nilai Tafakkur (berpikir mendalam).
    Ethical Development (Perkembangan etika) bersanding dengan nilai Akhlakul Karimah (akhlak mulia).
    Responsibility (Tanggung jawab) bersanding dengan nilai Amanah (dapat dipercaya).
    Peace & Social Justice (Perdamaian & keadilan sosial) bersanding dengan nilai Salam & Adil.
    Humility (Rendah hati) bersanding dengan nilai Tawāḍuʿ.
    Environmentalism (Kepedulian lingkungan) bersanding dengan nilai Khalifah fi al-arḍ (pengelola bumi).
    Global Awareness (Kesadaran global) bersanding dengan nilai Ukhuwwah Insāniyyah (persaudaraan universal).
    Service & Participation (Pelayanan & partisipasi) bersanding dengan nilai Ta’āwun (tolong-menolong).

    Bagaimana cara memasukkan 10 nilai besar di atas agar tidak sekadar menjadi hafalan kognitif? Dr. Erlin mengadopsi teori internalisasi bertahap (Muhaimin) yang dibagi menjadi 3 fase berkesinambungan:

    • Transformasi Nilai (Transfer of Knowledge): Guru tidak hanya mendikte peraturan, melainkan mengenalkan dan memberikan pemahaman verbal yang logis tentang nilai-nilai humanistik berbasis Islam tersebut kepada siswa.
    • Transaksi Nilai (Two-Way Interaction): Terjadi interaksi aktif dua arah antara guru dan siswa. Di tahap ini, guru bertindak sebagai teladan (uswah), fasilitator, dan teman diskusi yang setara, sehingga siswa merasa dihargai.
    • Trans-internalisasi Nilai (Mental & Spiritual Integration): Nilai-nilai tersebut telah melewati proses penjiwaan yang mendalam hingga menyatu ke dalam kepribadian, struktur batin, dan refleks perilaku sehari-hari siswa tanpa perlu diawasi secara ketat.

    Disertasi ini tidak berhenti pada teori di atas awang-awang, melainkan merumuskan strategi taktis yang bisa langsung dipraktikkan oleh para kepala sekolah dan guru SD melalui enam pilar aksi:

    1. Pembelajaran Berdiferensiasi: Guru mengakomodasi keberagaman cara belajar, minat, serta potensi unik masing-masing anak. Tidak ada anak yang dianggap bodoh hanya karena ia berbeda.
    2. Project-Based Learning (PjBL): Pembelajaran berbasis proyek yang kontekstual dan dekat dengan realita kehidupan siswa guna melatih kemampuan kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah (problem solving).
    3. Outing Class: Mengajak siswa belajar di luar kelas secara berkala untuk menumbuhkan empati, rasa cinta tanah air, dan kepedulian nyata terhadap lingkungan sekitar.
    4. Pembiasaan Religius: Menghidupkan ibadah harian seperti doa bersama, dzikir, tilawah, shalat berjamaah, dan bersedekah secara konsisten sebagai jangkar spiritualitas anak.
    5. Budaya Sekolah Humanis: Menciptakan iklim sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan (bullying), di mana keteladanan ditunjukkan oleh seluruh warga sekolah.
    6. Kegiatan Ekstrakurikuler: Mengoptimalkan minat dan bakat anak untuk menumbuhkan sportivitas, jiwa kepemimpinan, dan kerja sama tim.

    Riset Dr. Erlin Kurnia Sri Rejeki, M.Pd.I., memberikan sumbangsih yang sangat berharga bagi arah masa depan pendidikan dasar di Indonesia. Beliau membuktikan bahwa Kurikulum Merdeka akan berjalan maksimal apabila “ruh” pembelajaran diisi dengan nilai-nilai humanistik yang bersumber dari spiritualitas Islam.

    Dengan strategi dan tahapan internalisasi yang tepat, sekolah-sekolah dasar di Indonesia tidak hanya akan mencetak siswa yang cerdas secara kognitif untuk menaikkan skor PISA, tetapi juga melahirkan generasi emas berkarakter mulia yang siap menjaga marwah kemanusiaan di masa depan.

    Selamat atas gelar Doktornya, Ibu Dr. Erlin! Karya mulia ini adalah bukti nyata komitmen alumni IKAPMAWI untuk terus menebar manfaat dan memajukan dunia pendidikan bangsa.

    Media IKAPMAWI

    Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat.

  • IKAPMAWI dan PPMWI Perkuat Sinergi Melalui Diskusi Strategis dan Silaturahmi Pengurus Pusat di Kebarongan

    IKAPMAWI dan PPMWI Perkuat Sinergi Melalui Diskusi Strategis dan Silaturahmi Pengurus Pusat di Kebarongan

    KEBARONGAN – Lantai atas Ruang Pertemuan Madrasah Aliyah Wathoniyah Islamiyah (MAWI) Kebarongan menjadi lokasi pertemuan krusial yang menandai babak baru kolaborasi antara alumni dan lembaga pendidikan pada Sabtu, 24 Januari 2026. Pertemuan formal ini dikemas dalam agenda silaturahmi serta diskusi strategis yang mempertemukan jajaran pengurus pusat ikapmawi periode terbaru dengan jajaran Yayasan POMESMAWI. Kunjungan ini terasa sangat monumental karena merupakan kehadiran perdana Ketua Umum ikapmawi, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag, M.Hum., MA., pasca dilantik secara resmi pada 11 Januari 2026 lalu, yang membawa delegasi besar sebagai pernyataan komitmen nyata untuk menjaga marwah dan eksistensi madrasah di tengah tantangan zaman yang kian dinamis.

    Dalam sambutannya, Prof. Inayah mengucapkan Terimakasih kepada Yayasan yang sudah menyambut hangat kedatangan ikapmawi, beliau juga secara resmi memperkenalkan struktur pengurus pusat IKAPMAWI yang baru. Beliau menekankan bahwa fokus kami ke depan adalah menjadi mitra strategis yang membantu MWI melalui tiga pilar utama yang bergerak di bawah semangat slogan “Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat”, yaitu:

    • Bidang Penguatan & Pemberdayaan IKAPMAWI: Berfokus pada penguatan internal melalui pengelolaan database alumni serta pengembangan divisi ekonomi untuk kemandirian finansial organisasi.
    • Bidang Kemitraan POMESMAWI: Menitikberatkan pada sinergi akademik, revitalisasi infrastruktur bangunan gedung, sertifikasi bahasa, serta modernisasi strategi branding madrasah.
    • Bidang Pengabdian pada Masyarakat: Menjalankan misi dakwah dan aksi sosial sebagai bentuk kontribusi nyata alumni yang berlandaskan nilai-nilai luhur pesantren.

    Beliau menyatakan bahwa ketiga bidang ini akan bekerja secara terintegrasi dalam aspek pemberdayaan alumni, pengembangan pendidikan, penyediaan beasiswa, hingga gerakan sosial. Sebagai langkah nyata di awal masa jabatannya, IKAPMAWI juga menginformasikan adanya bantuan infrastruktur untuk renovasi bangunan kelas Madrasah Aliyah (MA) guna memastikan fasilitas belajar mengajar di Kebarongan tetap representatif bagi para santri.

    Ketua Yayasan POMESMAWI, Drs. H. Ahmad Suaidi, dalam sambutannya apresiasi atas dukungan moral maupun materiil yang diberikan oleh IKAPMAWI. Selain mengucapkan selamat atas amanah baru yang diemban Prof. Inayah, beliau memberikan memaparkan peta jalan pembangunan yayasan saat ini. Beliau mengungkapkan bahwa alumni merupakan akselerator krusial dalam pembangunan madrasah. “Secara manajerial, yayasan tentu terus berupaya mandiri dalam mencari sumber pendanaan. Namun, sinergi dengan alumni melalui IKAPMAWI terbukti mampu meningkatkan progres pengembangan institusi secara jauh lebih signifikan dan terukur,” ungkapnya.

    Beliau juga mengajak para alumni untuk membangun pemahaman yang lebih dekat dan mendalam mengenai realitas kendala yang dihadapi di lingkungan MWI agar tidak terjadi mispersepsi dalam penilaian. Sebagai penanggungjawab Panitia Pembangunan, beliau juga memaparkan, kami telah mengalokasikan dana pengembangan secara penuh untuk memprioritaskan pembangunan asrama putra yang sejak tahun 2022 hingga kini telah menyerap anggaran sebesar 4 miliar rupiah.

    Sebagai bentuk transparansi, beliau juga menyampaikan bahwa kontribusi IKAPMAWI pada periode kepengurusan tahun lalu mencapai total 700 juta rupiah yang bersumber dari iuran rutin, ditambah 500 Juta dari hasil penggalangan dana pada Reuni Akbar 2025. Dari jumlah tersebut, saat ini masih tersisa saldo sebesar 130 juta rupiah di rekening BSI yang akan dialokasikan untuk melanjutkan Finishing dan Pengelolaan Gedung.

    Wakil Ketua Pembina Yayasan POMESMAWI, M. Fikri A. R., S.Kom., M.A, Ph.D., dalam tanggapannya memberikan perspektif yang sarat akan dialektika filosofis mengenai peran alumni. Beliau berharap agar kolaborasi ini diniatkan untuk ibadah dan mengingatkan bahwa representasi terbaik sebuah institusi terletak pada integritas para alumninya di tengah masyarakat.

    Beliau menekankan bahwa melahirkan alumni yang mampu berkiprah secara nyata di tengah dinamika masyarakat tidaklah mudah, karena itulah alumni merupakan ujung tombak yang memikul marwah institusi. Beliau memandang bahwa kiprah nyata para alumni di masyarakat juga merupakan sebuah kontribusi.

    Terkait Kurikulum Santri, Basis keilmuan yang rigid, khususnya penguasaan Bahasa Arab adalah bekal bagi para santri kedepannya, yaitu secara otomatis akan sangat mudah mempelajari ilmu lainnya, serta pengembangan diri pada masing masing pribadi santri.

    Kami menaruh harapan agar alumni menjadi manifestasi nyata kualitas almamater di luar sana, sebagai duta yang mengharumkan nama institusi melalui rekaman jejak yang empiris, sekaligus berpesan bahwa sekalipun alumni belum bisa memberikan kontribusi, maka menjaga nama baik dan citra positif MWI di tengah masyarakat merupakan sebuah kontribusi yang paling fundamental.

    Suasana diskusi semakin mendalam ketika Bapak Puji Handoko, S.Ag, M.Pd., selaku Ketua Bidang Penguatan & Pemberdayaan, menyampaikan refleksi historis yang sangat mendetail mengenai posisi tawar MWI Kebarongan. Beliau menegaskan bahwa secara sejarah, MWI Kebarongan adalah standar emas bagi banyak lembaga pendidikan lainnya.

    Beliau memberikan bukti nyata melalui pengalamannya mendampingi beberapa lembaga pendidikan, seperti salah satu MI terpadu dan sebuah pondok pesantren di daerah Gombong, yang mengadopsi kurikulum klasik dan ilmu Nahwu Shorof dari Kebarongan. “Anak-anak tingkat dasar di sana sudah diajarkan fasih melantunkan “Fa’ala Yaf’ilu Fa’lan Maf’alan”,” kenang beliau. Bahkan, berkat berguru ke Kebarongan, lembaga-lembaga tersebut kini mampu mengirimkan alumninya ke luar negeri seperti Turki, Sudan, hingga Al-Azhar di Mesir. Beliau juga mengenang masa-masa saat masih didampingi oleh tokoh-tokoh seperti KH. Adnan Rois dan H. Sutardjo dalam membina hubungan tersebut.

    Namun, di tengah kejayaan tersebut, Bapak Puji memberikan peringatan keras (early warning) yang dirangkum dalam beberapa poin utama:

    • Analisis Penurunan (Early Warning): Beliau memaparkan data perbandingan dengan sebuah pondok di daerah Pabelan. Jika pada era 1991 jumlah santri MWI setara dengan Pabelan di angka 1.400-an, kini pondok tersebut hanya mengurusi sekitar 260 santri. “Mereka sedang berada di titik nadirnya,” ungkap beliau sebagai pengingat agar MWI Kebarongan waspada dan tidak mengalami penurunan serupa.
    • Sikap “Jantan” dalam Kompetisi: MWI harus berani menghadapi persaingan dengan pondok modern. Beliau menekankan bahwa menyalahkan kemajuan pihak lain bukanlah solusi. Sebaliknya, kemajuan kompetitor harus dijadikan pemacu semangat untuk “lari lebih kencang.” Mundur sambil menyalahkan orang yang maju dianggap beliau sebagai sikap yang tidak jantan.
    • Kualitas Isi di Atas Sarana Fisik: Yayasan diingatkan untuk tidak terjebak hanya pada pembangunan fisik. Beliau mewanti-wanti agar madrasah tidak menjadi “menara gading” yang megah secara fasilitas namun kosong secara substansi akademik dan nilai.
    • Kritik Alumni sebagai Wujud Cinta: Pengurus yayasan diharapkan tidak berkecil hati jika alumni bersikap kritis atau “cerewet.” Hal tersebut ditegaskan sebagai ekspresi cinta yang mendalam dan kepedulian alumni untuk menjaga eksistensi serta marwah MWI Kebarongan.

    Menyambung gagasan tersebut, Prof. Dr. Khusnul Khotimah, M.Ag., selaku Koordinator Bidang Kemitraan POMESMAWI, memberikan paparan yang sangat komprehensif mengenai kontribusi nyata yang ingin diberikan alumni. Beliau mengawali dengan komitmen bahwa alumni tidak memiliki maksud untuk melakukan intervensi atau “merusuhi” manajemen internal yayasan, melainkan murni ingin mendedikasikan ide, gagasan, dan jaringan demi kemajuan almamater. Berikut adalah rincian rencana strategis yang beliau paparkan:

    • Modernisasi Sosialisasi dan Branding: Beliau menyoroti bahwa pola promosi atau pamflet MWI saat ini masih sangat sederhana. Alumni membutuhkan akses terhadap database prestasi santri yang lengkap dan kuat agar dapat dikemas secara profesional guna membantu proses sosialisasi ke berbagai kepala sekolah di wilayah Kabupaten Purbalingga dan Banyumas. Hal ini bertujuan agar kepercayaan masyarakat semakin mantap terhadap potensi yang ada di MWI.
    • Program Bahasa Asing dan Sertifikasi TOEFL: Menjalin kerja sama strategis dengan pihak UIN Sunan Kalijaga untuk memfasilitasi kursus bahasa asing sekaligus tes TOEFL. Program ini dinilai sangat krusial sebagai prasyarat bagi santri yang ingin melanjutkan kuliah maupun mendaftar kerja. Untuk itu, diperlukan draf MOU (Nota Kesepahaman) segera agar rencana ini dapat dijalankan secara sistematis.
    • Profesionalisme Kurikulum Tahfidz: Mengingat banyaknya beasiswa dan jalur karir strategis yang mensyaratkan hafalan Al-Qur’an (seperti jalur prestasi masuk Kepolisian), kurikulum Tahfidz di MWI harus dikelola lebih profesional. Hal ini mencakup penyediaan program khusus tahfidz serta kehadiran musyrif atau pembimbing yang mumpuni agar program ini memiliki hasil yang terukur dan kompetitif.
    • Revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK): Mengaktifkan kembali peran BLK yang saat ini dianggap kurang produktif atau “hidup segan mati tak mau”. Alumni siap memfasilitasi pelatihan keterampilan, khususnya bahasa Inggris dan Mandarin, yang dijalankan dengan format hybrid (perpaduan online dan offline) guna membekali santri dengan kecakapan praktis yang diharapkan di era global.
    • Penguatan Karakter melalui Mabit dan Pelatihan Akademik: Mengusulkan pengaktifan kembali tradisi Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) untuk memperkuat mental kepemimpinan dan karakter khas santri MWI. Selain itu, beliau merencanakan audit akademik melalui penyelengaraan seminar-seminar rutin bagi para tenaga pendidik (ustaz/ustazah) dengan tema-tema kontekstual dan ilmiah, agar prosesnya tidak menjemukan dan selalu mengikuti perkembangan zaman.

    Keseriusan kunjungan ini terlihat dari lengkapnya delegasi IKAPMAWI yang hadir mendampingi Ketua Umum. Di jajaran pimpinan tampak hadir Saefuddin, S.Ag, M.Ag selaku Bendahara Umum, Muhammad Rodlin S.Ag., M.M sebagai Koordinator Bidang Penguatan & Pemberdayaan, Suprapto, SH, MM sebagai Ketua Bidang Kemitraan POMESMAWI, serta Drs. H. Muslihun, M.A selaku Ketua Bidang Pengabdian Pada Masyarakat. Sekretariat IKAPMAWI diwakili oleh Amin Mustholih, S.Ag. dan Dr. H. Wachudin, M.Pd., serta didukung oleh Tim Media dan Humas. Dari divisi teknis, hadir pula Wafir Sangud, SE dan Sunaryo, S.Pd. dari Divisi Ekonomi, Taufiq, S.Ag. dari Divisi Database, serta Khoerul Anam, S.Ag, M.Pd. dari Divisi Kemitraan Akademik.

    Dalam penutup diskusi, Prof. Dr. Khusnul Khotimah, M.Ag. menyampaikan bahwa sebagai proses awal untuk memulai seluruh agenda besar tersebut, mutlak diperlukan adanya penyusunan Nota Kesepahaman (MOU) formal antara IKAPMAWI dan POMESMAWI. Pihak yayasan menyatakan apresiasi setinggi-tingginya atas masukan kritis serta dukungan bantuan renovasi yang diberikan oleh alumni. Melalui sinergi ini, IKAPMAWI menegaskan posisinya bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan ujung tombak untuk memastikan masa depan santri MWI Kebarongan tetap gemilang dan mampu menjawab tantangan dunia global tanpa meninggalkan akar identitas madrasahnya.

    Media IKAPMAWI

    Lokasi: Kebarongan, 24 Januari 2026

  • Ketua Yayasan POMESMAWI: IKAPMAWI Harus Menjadi Penguat Amanah dan Pemersatu Alumni

    Ketua Yayasan POMESMAWI: IKAPMAWI Harus Menjadi Penguat Amanah dan Pemersatu Alumni

    Purwokerto — Ketua Yayasan POMESMAWI, Drs. K.H. Ahmad Su’aidi, menegaskan bahwa pelantikan Pengurus Pusat Ikatan Alumni POMESMAWI (IKAPMAWI) masa khidmat 2025–2030 bukan sekadar seremonial organisasi, melainkan momentum penguatan amanah dan tanggung jawab moral alumni terhadap almamater dan umat. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada acara Pengukuhan dan Rapat Kerja IKAPMAWI yang digelar di Dominic Hotel Purwokerto, Sabtu (11/1/2026).

    Menurut Ahmad Su’aidi, kepengurusan IKAPMAWI yang baru diharapkan semakin bersemangat dalam mengemban amanah organisasi. Semangat tersebut tidak hanya diwujudkan melalui aktivitas kelembagaan, tetapi juga melalui kesungguhan menjaga nilai, etika, dan cita-cita luhur yang menjadi fondasi berdirinya POMESMAWI dan IKAPMAWI.

    Ia menekankan bahwa kekuatan utama dalam menyatukan alumni terletak pada kesamaan akidah dan cita-cita mulia. Kesamaan nilai tersebut, menurutnya, menjadi perekat yang mampu menjaga soliditas alumni lintas generasi, profesi, dan wilayah pengabdian.

    Lebih lanjut, Ahmad Su’aidi mengingatkan bahwa peran IKAPMAWI tidak terbatas pada kontribusi yang bersifat fisik atau material semata. Peran nonfisik seperti keteladanan moral, dukungan pemikiran, jejaring dakwah, serta penguatan nilai keislaman dan keumatan justru menjadi kekuatan strategis yang harus terus dihidupkan.

    Dalam konteks pengembangan lembaga, ia menegaskan bahwa amanah untuk memajukan POMESMAWI membutuhkan dukungan dan peran aktif IKAPMAWI sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem almamater. Sinergi antara yayasan, institusi pendidikan, dan alumni dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan dan kemajuan POMESMAWI di masa depan.

    Menutup sambutannya, Ahmad Su’aidi berharap IKAPMAWI mampu tampil sebagai organisasi alumni yang tidak hanya besar secara struktur, tetapi juga kuat secara nilai dan kontribusi. Dengan semangat amanah dan persatuan, IKAPMAWI diharapkan terus menjadi mitra strategis dalam membangun almamater, masyarakat, dan peradaban yang berkemajuan.

  • Hadir di MA Wathoniyah Islamiyah, Prof. Inayah Rohmaniyah Ajak Gen Z Ubah Sejarah dengan Ilmu

    Hadir di MA Wathoniyah Islamiyah, Prof. Inayah Rohmaniyah Ajak Gen Z Ubah Sejarah dengan Ilmu

    KEBARONGAN – Suasana pagi di MA Wathoniyah Islamiyah terasa berbeda pada Sabtu, 10 Januari 2025. Ratusan siswa berkumpul dengan antusias mengikuti Talkshow Inspiratif bersama Ketua Umum IKAPMAWI, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah.

    Dalam acara yang bertajuk penguatan motivasi studi lanjut ini, Prof. Inayah menegaskan posisi strategis IKAPMAWI. “IKAPMAWI akan menjadi rumah besar bagi alumni untuk saling dukung, bekerja sama, dan saling menguatkan. Tidak ada yang berjalan sendirian,” ungkapnya.

    Kuliah: Bukan Sekadar Mencari Kerja Di hadapan para siswa yang mayoritas adalah Gen Z, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini meluruskan stigma tentang tujuan kuliah. Menurutnya, melanjutkan studi adalah manifestasi dari ajaran agama, di mana Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

    “Kuliah bukan hanya untuk mencari pekerjaan yang layak. Lebih dari itu, kuliah adalah proses mematangkan ilmu, meluaskan jaringan dan horison, serta mendewasakan diri. Dengan ilmu, kita bisa mengubah sejarah kehidupan menjadi lebih baik,” tegas Prof. Inayah.

    Resep Anti-Galau untuk Gen Z Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Banyak siswa meluapkan kegalauan khas anak muda: mulai dari overthinking, ketidakpercayaan diri, kebingungan memilih jurusan, hingga kecemasan akan tingginya angka pengangguran.

    Menanggapi fenomena “Gen Galau” ini, Prof. Inayah membagikan 5 Kunci Sukses dan Percaya Diri:

    1. Kenali Diri Sendiri: Pahami potensi dan kelemahanmu.
    2. Self-Love: Terima dan cintai dirimu sendiri apa adanya.
    3. Fokus pada Kendali Diri: Kendalikan apa yang bisa kita kendalikan, dan jangan berambisi mengendalikan hal-hal di luar kuasa kita.
    4. Kemandirian Kebahagiaan: Jangan gantungkan kebahagiaan dan standar kesuksesanmu pada orang lain.
    5. Keseimbangan: Ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan.

    “Bermimpilah setinggi-tingginya,” pesan Prof. Inayah menutup sesi yang penuh inspirasi tersebut. Acara ini diharapkan mampu membakar semangat santri MA Wathoniyah Islamiyah untuk berani melangkah menyongsong masa depan tanpa keraguan.

    TalkshowIKAPMAWI #GenZ #Motivation #MWIKebarongan #ProfInayah

    IKAPMAWI siap jadi rumah buat kita saling dukung. Yuk, semangat kejar mimpi! 🔥

  • Di Bawah Langit MWI: Istana tanpa Kasta (Part 1)

    Di Bawah Langit MWI: Istana tanpa Kasta (Part 1)

    Inayah Rohmaniyah

    Untuk Bapak dan Ibu yang teramat kucintai, yang mengajarkanku bahwa seluas dan seindah apapun rumah, takkan pernah cukup jika tanpa pintu yang selalu terbuka.”

    Rumahku Sebagai Ruang Publik

    Istana di Jantung MWI. Sekitar 160 kilometer dari keriuhan Kota Yogyakarta, tepat di jantung MWI, sebuah Pondok Pesantren tua di Desa Kebarongan Banyumas yang sarat sejarah, berdiri sebuah rumah yang lebih menyerupai pelukan besar bagi siapa pun yang datang. Bagi banyak orang, ia mungkin sekadar bangunan yang semakin renta, namun bagi saya, ia adalah istana dengan tembok-tembok kokoh yang menyimpan rahasia yang selama ini hanya menjadi nyanyian bisu dan tak terdengar. Rumah ini memiliki napasnya sendiri dan semua sisinya menjadi halaman depan yang selalu terbuka. Di sisi utara, sebuah ruang tamu yang luas menyambut setiap langkah kaki yang singgah. Di sisi selatan terhampar beranda atau balai yang apik, tempat ilmu, berbagai gagasan, dan silaturahmi berkelindan. Bahkan, di ujung ruang keluarga di sisi yang lain, semilir angin dari ruang yang setengah terbuka seringkali membuat siapapun terlena dalam ketenangan. Ruang ini memisahkan antara kehangatan ruang keluarga dengan hiruk-pikuk dapur yang sangat luas. Di dalam pelukan rumahku, juga berdiri asrama besar tempat teman-temanku para santri perempuan bernaung. Suara lantunan ayat, dzikir, dan canda tawa kecil mereka menjadi musik alami yang selalu menghiasi setiap sudut ruangan. Keberadaan mereka menjadikan rumah itu terus berdenyut dan jauh dari kesunyian.

    Rumah untuk semua. Struktur rumah yang didominasi ruang publik ini adalah symbol nyata sosok Bapak dan Ibu yang teramat kucintai. Sebagai pengasuh pesantren, mereka adalah tauladan yang tanpa Lelah tiada henti menerima berbagai ragam manusia dengan keluh kesah dan cerita yang berbeda. Dulu aku sering bertanya, apa bapak dan ibu tidak Lelah? apa tidak merasa terganggu ketika bahkan hingga larut malam masih ada yang mengetuk pintu, atau tamu-tamu tak kunjung bergeming meninggalkan bangku-bangku di ruang tamu? Kini aku tahu, ruang-ruang ini adalah saksi abadi bagaimana privasi keluarga sering melebur demi pengabdian. Setiap sudut ruang itu menyaksikan bagaimana kehangatan ruang keluarga dan ruang publik terus terjalin, seiring lantunan doa yang tak henti mengalir dari ketulusan para hati yang datang. Sebuah Pelajaran indah tentang ketulusan, cinta, dan kebahagiaan sederhana. 

    Rumah ini adalah saksi bisu tempat jiwa dan diriku tertempa, melalui liku perjalanan yang tak mudah. Aku menuliskannya bukan sekadar untuk bernostalgia, tetapi untuk merawat ingatan dan cinta. Sebab, sejarah diri adalah ruh yang membentuk jati diri dan masa depan. Aku percaya, saat kita mampu memaknai setiap fragmen kehidupan, ia akan berubah menjadi cahaya, guru tak tertandingi, dan kompas kehidupan yang memandu kita menuju hidup yang lebih bermakna, bermanfaat, dan utuh dalam kebahagiaan.

    Guru Sejatiku di Rumahku 

    Gadis Kecil Di Tengah Riuh Saudara Laki-Laki. Kenangan ini masih terus terukir di sudut terdalam hatiku, saat kuhabiskan hari-hari bersama orang-orang yang sangat kucintai. Sebagai satu-satunya gadis kecil yang tumbuh menjadi remaja di keluarga itu, aku sering melihat dunia memperlakukanku dengan cara yang berbeda. Di sela riuh tawa dan tangis kelahi saudara-saudara laki-lakiku, aku kerap bertanya: Apakah karena aku Perempuan? Atau karena aku satu-satunya “Mutiara kecil” yang hadir di Tengah? Bagian ini akan akan kusimpan dan kutuliskan untuk cerita di lain waktu. Namun yang pasti, masa-masa itu menjadi kenangan terindah dan menjadi titik berangkatku menyusuri luasnya samudera kehidupan, melewati pasang surut tawa dan tangis, duka dan bahagia, hingga detik ini. 

    Bapak: Samudra Ilmu bagi Ribuan Santri. Bapakku, Kyai Asifuddin Zawawi, adalah sosok yang cintanya tak henti meluap melampaui dinding rumah kami. Beliau adalah panutan, sebuah oase tempat ribuan santri menimba dahaga ilmu. Cintanya yang melimpah terus mengalir ke dalam relung kehidupan para santri yang teramat menghormati dan juga mencintainya. Aku menyaksikan orang orang datang dan pergi, belajar kepada Bapak pada berbagai kesempatan dengan cara yang beragam. Ribuan santri tentu tidak seragam dalam menangkap ilmu dan intisari kehidupan dari setiap ucapan dan tindak laku yang diajarkan sang Guru, meski mereka mengaku sangat terpengaruh dan menggenggam erat setiap untaian hikmah yang dipelajari dari Bapak. Setiap santri mungkin dengan bangga membawa pulang kepingan hikmah yang berbeda-beda, tergantung pada bejana hati yang mereka bawa. Namun bagiku, hubunganku dengan beliau tentu jauh lebih dari sekadar guru dan murid.

    Belajar pada Sang Murabbi di Rumah Sendiri. Jika ribuan santri dengan gempita mengaku telah mempelajari intisari kehidupan dari Bapak, maka aku memiliki keberuntungan yang jauh lebih dalam. Sebagai putrinya, aku tidak hanya mendengarkan percikan ilmu  beliau di depan mimbar atau di ruang-ruang kelas, tetapi aku melihat bagaimana ilmu itu menjelma menjadi denyut dan nafas serta gerak bapak dalam kehidupan sehari hari. Bapak dan Ibu adalah madrasah pertamaku dan rumah yang sesungguhnya, guru kehidupan yang tak pernah berhenti walau dalam diam. Di rumah yang luas ini dan dalam kehangatan dekapan cinta mereka, aku tidak hanya belajar tentang teks-teks agama. Lebih dari itu, aku mengerti bagaimana cinta, ketegasan, dan kelembutan bersatu dalam pengabdian. Inilah fragmen sejarah yang ingin kubagikan: sebuah kisah tentang bagaimana seorang anak perempuan belajar menjadi manusia dari dua guru sejati di rumahnya sendiri.

    Putri Kecil Belajar Ketangguhan, Kesetaraan dan Kelembutan

    Senyuman di Pagi Hari. Dalam ingatan masa kecilku, aku adalah seorang putri yang begitu dicintai dan dijaga. Bapak memanjakanku seperti puteri salju yang harus selalu menjadi nomor satu. Beliau memperlakukanku dengan kelembutan yang luar biasa, seolah memastikan bahwa tidak boleh ada yang membuatku menangis atau sakit hati. Di sisi lain, Ibu harus mencurahkan hamper seluruh waktunya untuk menemani dan merawat Bapak yang sakit, dan aku tumbuh dalam asuhan hangat Bu Lik (Mutmainnah), adik kandung Ibu.

    Masih jelas dalam ingatanku, Setiap pagi sebelum kaki kecilku melangkah menyusuri jalanan pegunungan menuju SD Negeri 1 di pinggir jalan raya, ada sebuah ritual yang tak pernah terlewatkan.  Bapak setiap pagi duduk di kursi depan, dan di sisinya selalu tersedia tumpukan uang receh untuk uang saku kami. Setelah ritual “salim” dan senyuman bapak, serta “sangu,” aku akan berangkat menembus semilir angin gunung yang segar. Sejak kecil aku menyaksikan bapak tidak bisa berjalan dengan tegak. Beliau sudah lumpuh separuh sejak aku belum dilahirkan (1971), dan setiap langkahnya harus selalu ditopang oleh tangan orang lain. 

    Cinta tanpa Batas. Aku sering tidak masuk sekolah karena harus mengikuti bapak berobat dari satu kota ke kota yang lain. Bapak seolah tak ingin berjarak denganku atau meninggalkanku. Beliau ingin aku ada di mana pun beliau mencari kesembuhan. Kami pernah tinggal lama di Bogor, menetap di Semarang, hingga menepi di pantai Petanahan. Masih terbayang jelas hingga kini, bagaimana rasanya duduk di atas dokar yang ditarik kuda, menempuh perjalanan panjang menuju rumah dokter atau kediaman Mbah. Pepohonan hijau yang berderet di pinggir jalan, dan semilir angin yang tak bosan mengibaskan rambutku, menjadi sensasi yang bahkan hingga detik ini masih bisa kurasakan. Di mana pun kami berada, rumah selalu penuh sesak oleh para alumni MWI yang datang membezuk dan mendoakan. Dalam keterbatasan fisiknya, bapak tetap menjadi magnet yang memancarkan kewibawaan dan cinta.

    Kelembutan Laki-Laki sebagai Kekuatannya. Perjalanan berpindah-pindah kota dalam ikhtiar mencari kesembuhan bapak, tentu bersama ibu juga, ternyata menjadi madrasah alam bawah sadar yang membentuk fondasi jiwaku. Dari perjalanan yang bagaikan tiada akhir itu, aku mewarisi tiga obor kehidupan yang hingga kini terus menyala. Pertama, aku belajar untuk tidak takut pada perubahan, cepat beradaptasi dengan sekitarku, mudah berkawan dengan orang orang baru, dan menemukan kebahagiaan dimana pun aku menapakkan kaki. Aku akhirnya mengerti bahwa rumah bukan sekedar bangunan atau koordinat geografi, tetapi kemampuan anggotanya untuk saling merawat cinta, menjaga hati untuk tetap merasa nyaman tanpa dibatasi ruang dan waktu. Pelajaran kedua, aku melihat daya juang bapak dan ibu, berjuang melawan sakit tanpa kenal lelah, bahkan tak sekalipun aku mendengar kata-kata keluh kesah keluar dari lisan mereka. Bapak yang harus selalu dibantu bahkan hanya untuk sekedar berdiri atau berjalan tetap memancarkan wibawa, ketenangan, dan sekaligus kesabaran. Di sisi lain ibu adalah pilar ketulusan, kesetiaan, dan ketangguhan. Karakter ibu yang periang, super ramah, dan mudah bersahabat membuatnya tidak pernah kehilangan teman meski berada di lingkungan baru. Ketangguhan Ibu mendampingi Bapak menjadi bukti bahwa cinta dan kasih sayang adalah bahan bakar yang tak ada habisnya. Ibu mengajarkanku bahwa kita bisa tetap bahagia dan bahkan menjadi “cahaya” bagi orang lain, meskipun kita sendiri sedang memikul beban ujian yang tidak ringan. Ketiga, diantara pelajaran yang paling membekas dalam relung terdalam hatiku adalah kelembutan bapak. Aku tidak pernah mendengar sekalipun bapak bicara kasar, membentak apalagi memukul ibu. Beliau sangat menyayangi dan memanjakan ibu, selalu bicara lembut, dan tidak menuntut apapun darinya. Bapak mengajarkanku bahwa laki-laki sejati tidak akan menunjukkan kekuasaan dengan amarah dan dominasi, melainkan melalui kelembutan dan kasih sayang.

    Hidup Penuh Kesahajaan, Rumah Tanpa Kasta

    Senyum Yang Selalu Kurindukan. Meski waktu yang kualami bersama Bapak terasa sangat pendek (bapak meninggal tahun 1981 ketika usiaku baru 10 tahun), namun beliau dan Ibu berhasil menanamkan satu nilai yang menjadi lentera hidupku: kesahajaan. Bapak adalah pribadi yang tidak banyak bicara, namun kecerdasan terpancar dari ketenangannya. Beliau tidak banyak mengumbar kata, tapi senyumnya senantiasa menebar pada semua. Masih kuingat bagaimana Bapak selalu menyambut tamu-tamu dengan hangat, meski kaki dan tangannya yang lumpuh membatasi geraknya. Kelumpuhan fisik tak pernah sanggup melumpuhkan keramahannya. Tamu-tamu datang silih berganti, dan jika Bapak sedang sare (tidur), mereka dengan setia menunggu hingga beliau terbangun. Di rumah itu, pintu tidak pernah benar-benar tertutup; ia selalu terbuka lebar bagi siapa pun dan kapan pun. Sebuah ketulusan yang hingga kini masih terus kuperjuangkan untuk bisa kuteladani. 

    Meja dan Dapur Simbol Kesetaraan Sosial. Ibuku adalah belahan jiwa yang menyempurnakan kesahajaan bapak. Keramahannya sama sekali tidak mengenal kasta. Masih teringat dengan jelas, siapa pun yang datang —mulai dari tukang sampah, penjual sayur, hingga bakul tempe— disapa dengan senyum dan kehangatan yang sama. Mereka diminta duduk di meja yang sama dengan ibu dan Bapak, diajak mengobrol, dan disuguhi teh atau kopi (medang). Aku terbiasa dengan pemandangan ini di rumah, duduk dan makan bersama para asisten rumah tangga (ART) dan orang-orang kecil yang seringkali dipandang sebelah mata oleh dunia luar. Bagi kami, mereka bukan sekedar rewang atau pekerja: mereka adalah bagian dari keluarga. Di meja makan dan dapur, di sela canda tawa kami, tertanam lekat sebuah prinsio kuat dalam pikiran dan hatiku: Hidup tak mengenal kasta, semua manusia sama dan berhak tertawa.

    Guncangan terberat saat Cahaya itu Redup. Kebahagiaan, keceriaan, dan kesahajaan yang terajut akhirnya sampai pada titik ujian terberatnya, Bapak pergi untuk selama-lamanya. Masih terngiang jelas di telingaku, bagaimana pecah tangis ibu bersahutan dengan langkah orang-orang yang keluar dari kamar paling depan di rumah besar itu. Mereka berjalan tergesa sambil menyeka air mata: bapak telah menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan kami semua. Rasa sakit dan sedih menghujam begitu hebat saat itu, hingga aku ingin turut serta pergi bersamanya, menemani beliau di alam sana agar tidak sendirian. 
    Aku masih ingat barisan pelayat yang mengular sangat panjang, memenuhi sepanjang jalan menuju rumah kami. Seluruh desa bahkan negeri seolah turut berduka mengantarkan bapak menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Namun aneh, memori tentang hari itu terasa samar dan berkabut jika dibandingkan dengan hari-hari bahagiaku bersama Bapak. Mungkin, alam bawah sadarku bekerja melindungi jiwa yang terluka, menghapus detail-detail kepedihan agar aku tetap memiliki kekuatan untuk berdiri tegak dan melanjutkan  hidup demi meraih mimpi. Perpisahan itu adalah luka pertama yang mengajariku bahwa cinta yang besar akan meninggalkan kerinduan yang juga sama besarnya.

    Bersambung ke- Part 2