Tag: ikapmawi

  • IKAPMAWI Resmi Luncurkan Program PPSDA  Gelar Creative Talk dan Bazar Buku untuk Santri MWI Kebarongan

    IKAPMAWI Resmi Luncurkan Program PPSDA Gelar Creative Talk dan Bazar Buku untuk Santri MWI Kebarongan

    KEBARONGAN, 15 OKTOBER 2026 – Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) kembali menunjukkan komitmen nyatanya dalam mendampingi dan membesarkan almamater

    Melalui Bidang Penguatan & Pemberdayaan, IKAPMAWI sukses menggelar agenda literasi dan pengembangan santri berjudul IKAPMAWI Creative Talk 2026 di Lantai 2 MAWI Kebarongan, Banyumas.

    Acara ini diikuti oleh sekitar 100 santri dengan mengangkat tema “From Ideas to Books: Merajut Inspirasi, Menghidupkan Literasi!”

    Kegiatan ini terwujud atas kolaborasi Divisi PPSDA (Peningkatan dan Pengembangan Sumber Daya Alumni) IKAPMAWI bersama Klub Literasi MAWI Kebarongan, serta mendapat dukungan penuh dari PT Etos Kreatif Indonesia dan Gramedia Gelora Indah Purwokerto.

    Acara dibuka dengan sambutan dari pihak madrasah, dilanjutkan oleh Muhammad Rodlin, S.Ag., M.M. selaku Koordinator Bidang Penguatan & Pemberdayaan IKAPMAWI yang hadir memberikan pengantar resmi mewakili Ketua Umum, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., M.A.

    IKAPMAWI secara resmi meluncurkan program kerja baru dari Divisi PPSDA. Peluncuran ini menjadi pondasi penting bahwa pendampingan alumni terhadap santri tidak hanya dilakukan setelah lulus, melainkan dimulai sejak santri masih menimba ilmu di madrasah” ungkap Awaluddin Darmawan, S.Th.I, (anggota Tim PPSDA) saat diwawancarai oleh tim Media ikapmawi.

    Divisi PPSDA disiapkan sebagai wadah pembelajaran, pengembangan potensi, serta pembuka jejaring karier dan industri kreatif bagi para santri MWI, Seluruh alur diskusi dari awal hingga akhir berlangsung sangat hangat dan interaktif dengan dipandu oleh Unsiyah Siti Marhamah, S.Th.I, M.A. sebagai moderator acara.

    Sebagai bentuk kepedulian terhadap tumbuh kembang karakter santri, IKAPMAWI menghadirkan dua narasumber yang membedah dunia kepenulisan dari sudut pandang emosional maupun industri:

    • Koko Dwiyanto (Mas Koko), penulis buku “Berteman dengan Luka Masa Kecil”, memandu sesi reflektif lewat pertanyaan sederhana: “Kamu gakpapa?” Pertanyaan ini menciptakan momen hening yang menyentuh, bahkan membuat salah satu santriwati, Dhia Kamila, meneteskan air mata. Melalui sesi ini, santri diajak memahami bahwa menulis bisa menjadi media terapi untuk menyalurkan perasaan yang sulit diungkapkan secara lisan.
    • Kak Fatwa Aulia (Redaktur Gradien Mediatama), membagikan ilmu praktis tentang ekosistem penerbitan nasional serta tips agar naskah santri dapat dilirik penerbit.

    Para santri juga diajak langsung mempraktikkan ide mereka di media sticky notes sebagai latihan mengenali diri (self-awareness)

    .Tak hanya ruang diskusi yang penuh inspirasi, suasana di kompleks madrasah pun semakin riuh dengan hadirnya stan Bazar Buku di area lapangan dekat Perpustakaan madrasah.

    Berkolaborasi dengan Gramedia Gelora Indah Purwokerto, bazar buku ini menyajikan beragam koleksi buku bacaan berkualitas.

    Antusiasme para santri terlihat sangat tinggi saat memadati meja pameran buku di sela-sela kegiatan. Kehadiran bazar buku ini menjadi sarana nyata untuk memantik minat baca dan mendekatkan para santri pada literasi secara langsung di lingkungan madrasah.

    Kepedulian alumni kian terasa nyata saat Bapak Achmad Subarkah (Direktur PT Etos Kreatif Indonesia sekaligus alumni MWI) naik ke atas panggung, lewat gaya komunikasinya yang santai dan penuh keakraban, beliau membagikan apresiasi berupa dana pembinaan senilai total Rp1 Juta untuk 10 santri melalui kuis interaktif.

    Suasana menjadi lebih hidup dan penuh kebanggaan saat beliau melontarkan pertanyaan seputar wawasan almamater, 

    “Di daerah Banyumas, pesantren mana yang masih satu trah dan sejarah dengan MWI Kebarongan?”

    Seorang santriwati dengan sigap dan percaya diri menjawab: “Leler Kebasen!” (Pondok Pesantren Andalusia)

    Aksi ini menjadi bukti bagaimana alumni hadir merangkul adik-adiknya, tidak hanya memberikan bantuan materiil, tetapi juga menanamkan rasa bangga terhadap sanad keilmuan MWI.

    Rangkaian acara diakhiri dengan penyerahan plakat penghargaan kepada panitia Klub Literasi MAWI Kebarongan, Pengurus Pusat IKAPMAWI menegaskan akan terus menghadirkan program-program pemberdayaan yang berdampak langsung bagi santri dan almamater, sejalan dengan visi besar organisasi: “Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat”.

    -mediaikapmawi-

  • Resmi Berbadan Hukum, IKAPMAWI memasuki Era Tata Kelola Modern

    Resmi Berbadan Hukum, IKAPMAWI memasuki Era Tata Kelola Modern

    BANYUMAS, AGUSTUS 2026 – Ikatan Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) Kebarongan resmi mencatatkan sejarah baru dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan. Legalitas resmi bernomor AHU-0005468.AH.01.07.TAHUN 2026 ini menandai transformasi kelembagaan IKAPMAWI menuju organisasi modern yang akuntabel, diakui negara, dan siap mengembangkan kontribusi nyata bagi alumni, almamater, serta bangsa.

    Keputusan ini memberikan kekuatan hukum tetap (legal standing) bagi seluruh gerak langkah, kemitraan strategis, maupun tata kelola program yang dijalankan oleh Pengurus Pusat hingga Cabang IKAPMAWI di seluruh Indonesia.

    Ketua Umum Pengurus Pusat IKAPMAWI, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., MA., menegaskan bahwa pencapaian legalitas ini bukan sekadar pemenuhan aspek yuridis formal, melainkan momentum historis untuk memperkuat tata kelola organisasi yang mandiri, berintegritas, dan dipercaya publik.

    “Dinamika dalam proses verifikasi badan hukum tidak terlepas dari pembacaan catatan historis masa lalu terkait dinamika kelembagaan di Kebarongan. Namun, lahirnya SK Kementerian Hukum RI ini menjadi bukti sahih bahwa IKAPMAWI mampu melampaui stigma masa lalu dan menegaskan posisinya sebagai organisasi alumni yang berintegritas, moderat, serta berkomitmen penuh pada pilar kebangsaan.”

    Beliau menambahkan bahwa keberadaan struktur Dewan Pengawas yang disyaratkan oleh regulasi negara merupakan langkah konstruktif untuk mewujudkan tata kelola organisasi yang sehat (Good Organizational Governance):

    “Kemenkumham RI secara kelembagaan mensyaratkan hadirnya struktur Dewan Pengawas dalam kepengurusan. Langkah ini kami sambut positif sebagai ikhtiar membangun sistem tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, dan memiliki mekanisme check and balances, khususnya dalam pengelolaan amanah finansial organisasi.”

    Menjaga kepercayaan (trust) anggota menjadi prioritas mutlak kepengurusan. Dukungan nyata alumni yang terhimpun secara swadaya sejak awal konsolidasi menjadi amanah besar yang wajib dipertanggungjawabkan secara terbuka:

    “Sejak awal konsolidasi, antusiasme dan kepercayaan (trust) alumni sangat tinggi. Hal ini terbukti dari keberhasilan penghimpunan dana gotong royong alumni yang mencapai Ratusan juta pada fase awal, dengan sisa saldo aktif puluhan juta rupiah yang terkelola rapi dan siap dialokasikan untuk program-program kemaslahatan. Kepercayaan yang begitu besar ini menuntut tanggung jawab moral dan administratif yang mutlak, sehingga kehadiran Dewan Pengawas menjadi fondasi penting agar setiap rupiah dana umat dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.”

    Ketua Dewan Pengawas IKAPMAWI, Drs. Munbahij Al Khuluq, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini diraih setelah melalui proses dialog dan pembuktian komitmen kebangsaan:

    “Proses verifikasi kelembagaan sebelumnya sempat menghadapi tantangan akibat mispersepsi historis dan stigma ideologis yang melekat pada catatan kelembagaan antar-kementerian. Melalui konsolidasi yang gigih, transparansi, serta pembuktian komitmen kebangsaan, IKAPMAWI kini berhasil melampaui sekat-sekat miskonsepsi tersebut dan mengantongi legalitas resmi negara secara utuh.”

    Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat IKAPMAWI, Drs. H. Muslihun, M.M., menyambut optimis kemudahan gerak organisasi di seluruh tingkatan pasca-terbitnya SK:

    “Proses menuju badan hukum ini memang melalui perjalanan yang panjang. Walaupun berkas sempat bolak-balik dikembalikan, kita tetap taat dan konsisten mengikuti seluruh mekanisme yang berlaku. Alhamdulillah, dengan hadirnya payung hukum ini, kini pergerakan organisasi di seluruh cabang dan kabupaten se-Indonesia akan semakin mudah terkonsolidasi demi kejayaan IKAPMAWI ke depan.”

    Dukungan penguatan jejaring juga ditegaskan oleh Ketua Bidang Kemitraan IKAPMAWI, Suprapto, S.H., M.M.:

    “Setelah memiliki Akta Pendirian yang disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI, koordinasi antara Pengurus Pusat dengan Cabang akan jauh lebih efektif dan terstruktur. Selain itu, legitimasi hukum ini memberikan asas legalitas yang kuat dalam setiap eksekusi program kerja maupun penggalangan dana organisasi.”

    Dinamika administratif dan proses penyesuaian regulasi yang panjang ini juga diungkapkan oleh Bendahara Umum IKAPMAWI, Saefudin, M.Ag.:

    “Proses verifikasi dan pendaftaran kelembagaan di kementerian memang menghadirkan tantangan tersendiri, mengingat adanya dinamika evaluasi administratif dan catatan historis kelembagaan Islam di tingkat pusat. Namun berkat konsistensi, transparansi, dan pemenuhan seluruh persyaratan regulasi, alhamdulillah IKAPMAWI mampu membuktikan integritasnya hingga resmi memperoleh legitimasi penuh dari Kementerian Hukum RI.”

    Di balik rampungnya seluruh tahapan legalitas tersebut, tersimpan komitmen dan pengorbanan logistik yang luar biasa. Seluruh pembiayaan akomodasi, kebutuhan operasional, hingga konsumsi dalam rangkaian rapat koordinasi dan penandatanganan berkas legalitas di Purwokerto ditanggung secara mandiri oleh Saefudin, M.Ag selaku Bendum IKAPMAWI Pusat, tanpa membebani satu Rupiah pun kas IKAPMAWI. Sikap kedermawanan dan keikhlasan berkhidmat ini menjadi teladan nyata bahwa gerak langkah organisasi ditopang oleh dedikasi tulus para pengurusnya demi kemaslahatan bersama.

    Penandatanganan dokumen legalitas ini diwakili oleh 11 Pengurus Utama:

    1. Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., MA.
    2. Prof. Dr. H. Supriyanto, Lc., M.S.I.
    3. Saefudin, M.Ag.
    4. Drs. H. Muslihun, M.M.
    5. Suprapto, S.H., M.M.
    6. Puji Handoko, S.Ag., M.Pd.
    7. Muhammad Rodlin, S.Ag., M.M.
    8. Prof. Dr. Khusnul Khotimah, M.Ag.
    9. Hamidan Majdi, S.H.
    10. Drs. Munbahij Al Khuluq
    11. Ety Widiati, S.Ag., M.H.

    Pengesahan Badan Hukum ini menjadi kado berharga bagi seluruh keluarga besar alumni MWI Kebarongan sekaligus menegaskan bahwa IKAPMAWI siap melangkah lebih jauh, melompati batas-batas konvensional tanpa sedikit pun mengikis akar nilai luhur pesantren yang telah ditanamkan oleh para muassis sejak tahun 1878.

    Informasi Resmi Dokumen Legalitas:

    • Nama Organisasi: Perkumpulan Ikatan Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI)
    • SK Kemenkum RI: Nomor AHU-0005468.AH.01.07.TAHUN 2026
    • Tanggal Penetapan: 20 Juli 2026
    • Akta Notaris: Dr. Agus Pandoman, S.H., M.Kn. (No. 01 Tanggal 14 Juli 2026)
    • Kedudukan Legal: Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
    • Lokasi Penandatanganan: Sekretariat IKAPMAWI, Teluk, Purwokerto Selatan

    Media & Publikasi IKAPMAWI Pusat

    Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat.

  • Bangga! Dr. Erlin Kurnia (Alumni MWI) Lulus Disertasi Humanistik

    Bangga! Dr. Erlin Kurnia (Alumni MWI) Lulus Disertasi Humanistik

    Konsep Internalisasi Nilai Humanistik-Islam dalam Kurikulum Merdeka Karya Dr. Erlin Kurnia

    cms.ikapmawi.com BANYUMAS | Pendidikan bukan sekadar deretan angka di atas kertas rapor, melainkan fondasi utama peradaban. Tanpa sentuhan pendidikan yang tepat, manusia tidak hanya akan mengalami kemunduran moral, tetapi juga menghadapi ancaman “kepunahan” karakter kemanusiaannya.

    Kesadaran filosofis mendalam inilah yang mengantarkan salah satu akademisi dan pengurus pusat IKAPMAWI, Dr. Erlin Kurnia Sri Rejeki, M.Pd.I., meraih gelar Doktor pada 13 Juli 2026 di Purwokerto.

    Melalui disertasi ilmiahnya yang berjudul “Internalisasi Nilai-Nilai Humanistik dalam Kurikulum Merdeka pada Sekolah Dasar di Kebumen – Jawa Tengah – Indonesia”, Dr. Erlin menawarkan formula segar: bagaimana mengintegrasikan nilai humanisme modern dengan nilai-nilai luhur Islam di ruang kelas Sekolah Dasar (SD).

    Secara idealita, pendidikan nasional kita mengemban misi suci yakni melahirkan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Sejalan dengan itu, para pemikir besar Islam seperti Al-Ghazali, Ibnu Miskawaih, dan Al-Farabi sejak berabad-abad lalu telah menekankan pentingnya mendidik manusia secara paripurna menyeimbangkan aspek intelektual, spiritual, dan moral (humanisme religius).

    Untuk mengejar idealita tersebut, Indonesia telah melakukan reformasi kurikulum berkali-kali, mulai dari kurikulum era kemerdekaan 1947 hingga lahirnya Kurikulum Merdeka pada Tahun 2022. Kurikulum Merdeka hadir sebagai paradigma baru yang dirancang untuk memulihkan pembelajaran pascapandemi (learning loss). Ciri khasnya adalah fleksibel, berpusat pada siswa (student-centered), fokus pada materi esensial, serta mengedepankan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang bermuara pada Profil Pelajar Pancasila.

    Namun, bagaimana realitanya di lapangan?

    Masih terdapat jurang pemisah (gap) yang lebar antara keindahan desain kurikulum dengan kenyataan di dalam kelas. Data PISA (Program for International Student Assessment) menunjukkan kualitas literasi, numerasi, dan sains anak-anak Indonesia masih berada di level bawah.

    Mengapa ini terjadi? Masalahnya terletak pada internalisasi nilai. Nilai-nilai seperti berpikir kritis, empati, dan tanggung jawab sering kali hanya dihafal, bukan dihayati. Padahal, jika nilai-nilai ini meresap dalam diri siswa, mereka akan memiliki kemampuan menalar dan memecahkan masalah dalam kehidupan nyata yang merupakan inti dari penilaian PISA itu sendiri.

    Dalam penelitiannya, Dr. Erlin mengambil lokus di Kabupaten Kebumen dengan membandingkan dua model sekolah dasar terbaik yang merepresentasikan lembaga negeri dan swasta Islam:

    1. SD – A : Mewakili sekolah negeri unggulan yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) dengan proses tata kelola yang sangat baik.
    2. SD – B: Mewakili sekolah swasta Islam modern yang sarat prestasi akademik maupun nonakademik.

    Melalui pendekatan komparatif ini, penelitian ini berhasil melahirkan peta jalan bagaimana nilai-nilai universal dapat diterapkan dengan sukses pada karakteristik sekolah yang berbeda.

    Kebaruan (novelty) utama dari riset Dr. Erlin adalah keberaniannya mengintegrasikan konsep humanisme universal Barat yang dirumuskan oleh American Humanist Association Center for Education bernama The Ten Commitments (Sepuluh Komitmen), lalu mendialogkannya secara ontologis dengan nilai-nilai luhur dalam Islam.

    Dr. Erlin memetakan 10 pilar nilai tersebut ke dalam konsep Islam secara indah:

    Altruism (Mementingkan orang lain) bersanding dengan nilai Īsār (mengutamakan orang lain).
    Empathy (Empati) bersanding dengan nilai Rahmah (kasih sayang).
    Critical Thinking (Berpikir kritis) bersanding dengan nilai Tafakkur (berpikir mendalam).
    Ethical Development (Perkembangan etika) bersanding dengan nilai Akhlakul Karimah (akhlak mulia).
    Responsibility (Tanggung jawab) bersanding dengan nilai Amanah (dapat dipercaya).
    Peace & Social Justice (Perdamaian & keadilan sosial) bersanding dengan nilai Salam & Adil.
    Humility (Rendah hati) bersanding dengan nilai Tawāḍuʿ.
    Environmentalism (Kepedulian lingkungan) bersanding dengan nilai Khalifah fi al-arḍ (pengelola bumi).
    Global Awareness (Kesadaran global) bersanding dengan nilai Ukhuwwah Insāniyyah (persaudaraan universal).
    Service & Participation (Pelayanan & partisipasi) bersanding dengan nilai Ta’āwun (tolong-menolong).

    Bagaimana cara memasukkan 10 nilai besar di atas agar tidak sekadar menjadi hafalan kognitif? Dr. Erlin mengadopsi teori internalisasi bertahap (Muhaimin) yang dibagi menjadi 3 fase berkesinambungan:

    • Transformasi Nilai (Transfer of Knowledge): Guru tidak hanya mendikte peraturan, melainkan mengenalkan dan memberikan pemahaman verbal yang logis tentang nilai-nilai humanistik berbasis Islam tersebut kepada siswa.
    • Transaksi Nilai (Two-Way Interaction): Terjadi interaksi aktif dua arah antara guru dan siswa. Di tahap ini, guru bertindak sebagai teladan (uswah), fasilitator, dan teman diskusi yang setara, sehingga siswa merasa dihargai.
    • Trans-internalisasi Nilai (Mental & Spiritual Integration): Nilai-nilai tersebut telah melewati proses penjiwaan yang mendalam hingga menyatu ke dalam kepribadian, struktur batin, dan refleks perilaku sehari-hari siswa tanpa perlu diawasi secara ketat.

    Disertasi ini tidak berhenti pada teori di atas awang-awang, melainkan merumuskan strategi taktis yang bisa langsung dipraktikkan oleh para kepala sekolah dan guru SD melalui enam pilar aksi:

    1. Pembelajaran Berdiferensiasi: Guru mengakomodasi keberagaman cara belajar, minat, serta potensi unik masing-masing anak. Tidak ada anak yang dianggap bodoh hanya karena ia berbeda.
    2. Project-Based Learning (PjBL): Pembelajaran berbasis proyek yang kontekstual dan dekat dengan realita kehidupan siswa guna melatih kemampuan kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah (problem solving).
    3. Outing Class: Mengajak siswa belajar di luar kelas secara berkala untuk menumbuhkan empati, rasa cinta tanah air, dan kepedulian nyata terhadap lingkungan sekitar.
    4. Pembiasaan Religius: Menghidupkan ibadah harian seperti doa bersama, dzikir, tilawah, shalat berjamaah, dan bersedekah secara konsisten sebagai jangkar spiritualitas anak.
    5. Budaya Sekolah Humanis: Menciptakan iklim sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan (bullying), di mana keteladanan ditunjukkan oleh seluruh warga sekolah.
    6. Kegiatan Ekstrakurikuler: Mengoptimalkan minat dan bakat anak untuk menumbuhkan sportivitas, jiwa kepemimpinan, dan kerja sama tim.

    Riset Dr. Erlin Kurnia Sri Rejeki, M.Pd.I., memberikan sumbangsih yang sangat berharga bagi arah masa depan pendidikan dasar di Indonesia. Beliau membuktikan bahwa Kurikulum Merdeka akan berjalan maksimal apabila “ruh” pembelajaran diisi dengan nilai-nilai humanistik yang bersumber dari spiritualitas Islam.

    Dengan strategi dan tahapan internalisasi yang tepat, sekolah-sekolah dasar di Indonesia tidak hanya akan mencetak siswa yang cerdas secara kognitif untuk menaikkan skor PISA, tetapi juga melahirkan generasi emas berkarakter mulia yang siap menjaga marwah kemanusiaan di masa depan.

    Selamat atas gelar Doktornya, Ibu Dr. Erlin! Karya mulia ini adalah bukti nyata komitmen alumni IKAPMAWI untuk terus menebar manfaat dan memajukan dunia pendidikan bangsa.

    Media IKAPMAWI

    Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat.

  • Menjadi “The Guardians of Legacy”: Pesan Ketum IKAPMAWI dalam Wisuda dan Penyerahan Alumni MWI Kebarongan

    Menjadi “The Guardians of Legacy”: Pesan Ketum IKAPMAWI dalam Wisuda dan Penyerahan Alumni MWI Kebarongan

    KEBARONGAN, 31 MEI 2026 – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI) Kebarongan pada hari ini, Ahad (31/5). Pondok bersejarah yang telah berdiri kokoh sejak tahun 1878 ini menggelar hajatan besar, yaitu Wisuda dan Penyerahan Santri Kelas XII untuk resmi melangkah ke tengah-tengah masyarakat sebagai alumni baru.

    Momen paling emosional dalam rangkaian acara inti terjadi saat prosesi penyerahan secara formal alumni kelas 12 dari pihak madrasah yang diwakili oleh Kepala MA WI, Ust. Taufiq, S.Ag., kepada Ikatan Keluarga Alumni Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) Nasional.

    Karena Ketua Umum IKAPMAWI Pusat, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag, M.Hum., MA. berhalangan hadir secara langsung di lokasi, pidato sambutan tersebut diwakilkan dan dibacakan  oleh Bp. Suprapto, SH (Ketua-II sekaligus Bidang Kemitraan Pomesmawi).

    Bukan Akhir, Melainkan “Starting Line” Perjuangan Nyata, Sambutan Ketua Umum menegaskan bahwa wisuda ini bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari babak kehidupan yang sesungguhnya.

    “Hari ini mungkin terasa sebagai garis akhir dari sebuah perjuangan panjang—belajar keras, mengaji, menghafal, dan berproses di pondok tercinta ini. Namun, izinkan saya mengingatkan: ini bukanlah garis akhir, melainkan awal (starting line) dari perjuangan yang sesungguhnya. Momentum peralihan kalian dari santri menjadi alumni dan anggota masyarakat yang sesungguhnya,” pesan Prof. Inayah.

    Pihak IKAPMAWI menyatakan menerima para wisudawan baru ini dengan tangan terbuka dan kebanggaan yang luar biasa dari Sabang sampai Merauke, bahkan yang kini berada di luar negeri. IKAPMAWI diposisikan sebagai “rumah baru” yang siap merangkul, membimbing, dan membersamai langkah mereka ke mana pun arah karir dan pendidikan yang akan dipilih.

    Melalui sambutan tersebut, Ibu Ketua juga mengingatkan kembali visi dasar organisasi sebagaimana tertuang dalam AD/ART Bab II Pasal 6 tentang Asas, Visi, Misi, Tujuan, dan Usaha:

    “Terwujudnya kesatuan alumni Pondok Pesantren dan Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan dan peran sertanya dalam memajukan almamater, alumni, dan masyarakat.”

    Visi besar ini mencakup tiga ruang pengabdian strategis yang saling menopang:

    1. Dimensi Internal: Mempererat solidaritas dan memberdayakan potensi alumni agar kompetitif di kancah lokal, nasional, maupun global.
    2. Dimensi Institusional: Berkhidmat menjaga marwah, kehormatan, dan kemajuan fisik serta akademik almamater MWI.
    3. Dimensi Sosial: Menebar kemaslahatan dan manfaat nyata bagi seluruh umat.

    Lima Prinsip Dasar Menjaga Kesehatan Mental dan Keberhasilan: Menghadapi dunia luar pesantren yang penuh dengan dinamika teknologi dan sosial, Ketua Umum menitipkan lima prinsip hidup esensial bagi para alumni baru agar tetap tangguh:

    • Prinsip 1 (Self-Love & Control): Perkuat benteng diri dengan menerima kelebihan serta kekurangan diri sendiri, kontrol pikiran, sikap, dan tindakan, serta jangan menggantungkan kebahagiaan pada validasi eksternal.
    • Prinsip 2 (Ikhtiar & Syukur): Selalu berikhtiar maksimal dan bersyukur dalam kondisi apa pun sebagai sumber kebahagiaan sejati.
    • Prinsip 3 (Silaturahim): Jaga selalu ikatan batin dengan pondok, madrasah, para asatidz, dan sesama teman seperjuangan.
    • Prinsip 4 (Kerukunan): Bangun kerja sama dan kebersamaan, serta jangan mudah terpecah belah oleh perbedaan.
    • Prinsip 5 (Ta’awun / Saling Menolong): Utamakan tolong-menolong. “Jika kelak kalian sukses, jangan lupakan teman yang masih berjuang. Tarik tangan mereka agar kita bisa sukses dan bahagia bersama.”

    “The Guardians of Legacy”: Penjaga Warisan Sejak 1878

    Menutup pembacaan sambutan, Suprapto mengajak para wisudawan untuk menyadari tanggung jawab besar yang kini ada di pundak mereka. Sebagai alumni dari institusi yang usianya jauh lebih tua dari Republik Indonesia, para wisudawan adalah “The Guardians of Legacy” (para penjaga warisan perjuangan).

    “Ada kehormatan, darah, dan air mata perjuangan para pendiri (muassis) di pundak kalian. Oleh karena itu, jagalah marwah MWI Kebarongan di mana pun kaki kalian berpijak. Tunjukkan akhlak seorang santri Wathoniyah yang moderat, cerdas, beradab, religius, berjiwa nasionalis, dan bahagia.”

    Acara diakhiri dengan Ucapan slogan perjuangan yang disampaikan kepada seluruh hadirin: “IKAPMAWI: Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat!”

    Santri kelas 12 Takhasus yang baru saja didaulat membacakan Ikrar Wisudawan di hadapan ratusan hadirin ini, juga merupakan Ketua OSIM (Ikatan Pelajar Madrasah Wathoniyah Islamiyah – IPMAWI) periode aktif yang kini resmi menyandang status baru sebagai alumni.

    Tim Media IKAPMAWI berkesempatan menemui Rijal di sela-sela momentum kelulusannya untuk melakukan wawancara singkat mengenai pandangan generasi muda terhadap wadah alumni ini.

    Kenangan Manis Bersama Kakak-Kakak Alumni, Saat ditanya mengenai sejauh mana ia mengenal IKAPMAWI, pemuda yang akrab disapa Rijal ini menjawab dengan antusias. Menurutnya, kiprah IKAPMAWI sudah sangat akrab di telinga para santri aktif melalui berbagai program kolaboratif.

    “Tentu pernah (mendengar tentang IKAPMAWI). Yang paling menonjol dan diingat santri adalah ketika kakak-kakak IKAPMAWI hadir menjadi pemateri dalam agenda Upgrading IPMAWI. Selain itu, ada juga acara IKAPMAWI Expo di mana seluruh pengisinya adalah para alumni sendiri,” kenang Rijal dengan wajah bangga.

    Rijal juga dengan fasih menyebutkan nama Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag, M.Hum., MA. sebagai Ketua Umum IKAPMAWI Pusat saat ini, menunjukkan bahwa komunikasi dan figur kepemimpinan alumni telah tersosialisasi dengan sangat baik bahkan ke tingkat santri aktif.

    Sebagai representasi dari angkatan kelulusan tahun 2026, Rijal menitipkan pesan yang sangat kuat dan to-the-point untuk teman-teman seangkatannya serta para alumni senior yang sedang menempuh jalan hidup masing-masing.

    “Untuk teman-teman alumni yang satu angkatan, atau kakak-kakak alumni di atas saya, mari kita ikuti dan aktif di IKAPMAWI. Karena IKAPMAWI itu sangat berguna untuk kita, utamanya dalam menyambung tali silaturahmi. Selain itu, wadah ini sangat penting untuk menambah relasi kita tentang dunia perkuliahan, maupun dalam mempersiapkan diri menuju dunia kerja nanti,” ungkap Rijal dengan penuh harap.

    Pernyataan dari Ketua IPMAWI ini menjadi bukti bahwa visi IKAPMAWI sebagai navigator masa depan lulusan telah disambut dengan sangat positif oleh generasi muda. Kesiapan para wisudawan baru untuk langsung melebur dalam barisan keluarga besar IKAPMAWI menjadi suntikan energi segar bagi organisasi untuk terus berbenah dan menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas.

    Selamat datang di IKAPMAWI, Rijal dan seluruh jajaran wisudawan angkatan 2026! Kepakkan sayap kalian tinggi-tinggi, karena rumah besar alumni siap membersamai setiap jengkal langkah perjuangan kalian.

    Media IKAPMAWI

  • Bukti Cinta Almamater: IKAPMAWI Salurkan Bingkisan Lebaran untuk Guru dan Pensiunan MWI

    Bukti Cinta Almamater: IKAPMAWI Salurkan Bingkisan Lebaran untuk Guru dan Pensiunan MWI

    KEBARONGAN, 18 Maret 2026 – Suasana penuh ta’zhim menyelimuti Masjid Jami’ Teleng, kompleks Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI) Kebarongan pada Rabu siang (18/3). Ikatan Keluarga Alumni Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) melaksanakan penyaluran “Bingkisan Hari Raya” Tahap II yang ditujukan khusus bagi para asatidz, serta para pensiunan PPMWI Kebarongan.

    Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum IKAPMAWI Pusat, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag, M.Hum., MA., beserta jajaran pengurus harian. Kehadiran rombongan pengurus pusat disambut antusias oleh ratusan tenaga pendidik dari berbagai unit, mulai dari RA, MI, MTs, MA, hingga perwakilan dari unit Masjid dan Pondok Pesantren.

    Dalam sambutannya, Prof. Inayah mengungkapkan bahwa agenda ini direncanakan secara “super kilat” sebagai bentuk ujian loyalitas. “Kegiatan ini sebenarnya direncanakan super kilat. Kita sebenarnya ingin mengetes seberapa dalam sih cintanya alumni kepada almamater. Dan alhamdulillah, ternyata sudah terbukti cinta alumni pada almamater itu tidak perlu dipertanyakan lagi,” ungkap beliau. 

    Beliau menjelaskan adanya fenomena unik di kalangan lulusan Kebarongan yang disebut dengan istilah “Mambu MWI”. “Ciri alumni kita itu selalu ‘Mambu MWI’. Kalau sudah disebut MWI atau almamater, hatinya katanya langsung bergetar, istilahnya seperti Wajilat qulubuhum,” sembari disambut senyum haru para hadirin.

    Saat sesi wawancara, Prof. Inayah menegaskan bahwa kepedulian alumni kini telah bergeser dari sekadar wacana menjadi aksi nyata. “Ini adalah sebuah simbol bahwa alumni mempunyai perhatian yang tidak akan pernah hilang dan mempunyai kepedulian yang terus berlanjut. Kepedulian itu tidak hanya di ranah abstrak seperti hanya berdoa atau berharap, tetapi turun langsung ke lapangan,” tegasnya.

    Penyaluran tahap kedua ini merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang telah menyentuh 180 santri yatim dan dhuafa. Kali ini, fokus dialihkan kepada para pejuang di jalan Allah, yakni para guru dan pensiunan. “Bapak-ibu guru ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Kami ingin memastikan kehadiran alumni bisa menambah kebahagiaan bapak-ibu menjelang lebaran nanti,” tambahnya.

    Di hadapan para guru, Prof. Inayah juga membawa kabar penting mengenai penataan manajerial IKAPMAWI. Saat ini, organisasi sedang mengurus legalitas resmi di Kementerian Hukum dan HAM sebagai bentuk “Perkumpulan” yang diakui negara.

    “Selama ini IKAPMAWI belum punya legalitas. Sekarang kita sedang proses di Kemenkumham agar diakui negara. Kita juga akan membuat rekening atas nama organisasi sehingga semuanya transparan. Melalui website cms.ikapmawi.com, semua uang yang masuk dan keluarnya ke mana bisa dimonitor langsung, tidak masuk ke rekening personal,” jelas beliau guna memastikan akuntabilitas amanah para alumni.

    IKAPMAWI telah memetakan tiga area khidmat: kepada Almamater, sesama alumni, dan umat. Beliau menyebutkan rencana bantuan fisik yang mendesak, seperti rehabilitasi ruang kelas yang kondisinya memprihatinkan. “Ada rencana untuk merehab beberapa gedung, sesuai masukan guru-guru ada ruang kelas yang mau ambruk, itu akan kita tindak lanjuti pelan-pelan,” ujarnya.

    Selain fisik, kualitas akademik juga menjadi perhatian utama. Prof. Inayah menginginkan agar lulusan MWI memiliki kompetensi yang unggul. “Jangan ada lagi kisah sedih lulusan MWI tapi baca tulis Al-Qur’annya tidak lulus. Kita ingin kualitasnya oke, daftar kuliah di universitas ternama bisa bersaing. Kami punya banyak profesor dan doktor di alumni yang siap mendampingi bapak-ibu guru untuk mengoptimalkan potensi yang ada.”

    Acara ditutup dengan doa bersama untuk kesehatan para guru. “Bapak-ibu guru harus sehat, karena kalau jenengan tidak sehat, nanti murid-muridnya bagaimana?” pungkas beliau dengan penuh perhatian. Penyerahan simbolis bingkisan kepada para guru senior pun menjadi penutup manis yang mengabadikan momen kebersamaan di bawah langit MWI.

    Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat.

    Redaksi-ikapmawi

    Lokasi: Masjid Jami’ Teleng, MWI Kebarongan

  • IKAPMAWI dan PPMWI Perkuat Sinergi Melalui Diskusi Strategis dan Silaturahmi Pengurus Pusat di Kebarongan

    IKAPMAWI dan PPMWI Perkuat Sinergi Melalui Diskusi Strategis dan Silaturahmi Pengurus Pusat di Kebarongan

    KEBARONGAN – Lantai atas Ruang Pertemuan Madrasah Aliyah Wathoniyah Islamiyah (MAWI) Kebarongan menjadi lokasi pertemuan krusial yang menandai babak baru kolaborasi antara alumni dan lembaga pendidikan pada Sabtu, 24 Januari 2026. Pertemuan formal ini dikemas dalam agenda silaturahmi serta diskusi strategis yang mempertemukan jajaran pengurus pusat ikapmawi periode terbaru dengan jajaran Yayasan POMESMAWI. Kunjungan ini terasa sangat monumental karena merupakan kehadiran perdana Ketua Umum ikapmawi, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag, M.Hum., MA., pasca dilantik secara resmi pada 11 Januari 2026 lalu, yang membawa delegasi besar sebagai pernyataan komitmen nyata untuk menjaga marwah dan eksistensi madrasah di tengah tantangan zaman yang kian dinamis.

    Dalam sambutannya, Prof. Inayah mengucapkan Terimakasih kepada Yayasan yang sudah menyambut hangat kedatangan ikapmawi, beliau juga secara resmi memperkenalkan struktur pengurus pusat IKAPMAWI yang baru. Beliau menekankan bahwa fokus kami ke depan adalah menjadi mitra strategis yang membantu MWI melalui tiga pilar utama yang bergerak di bawah semangat slogan “Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat”, yaitu:

    • Bidang Penguatan & Pemberdayaan IKAPMAWI: Berfokus pada penguatan internal melalui pengelolaan database alumni serta pengembangan divisi ekonomi untuk kemandirian finansial organisasi.
    • Bidang Kemitraan POMESMAWI: Menitikberatkan pada sinergi akademik, revitalisasi infrastruktur bangunan gedung, sertifikasi bahasa, serta modernisasi strategi branding madrasah.
    • Bidang Pengabdian pada Masyarakat: Menjalankan misi dakwah dan aksi sosial sebagai bentuk kontribusi nyata alumni yang berlandaskan nilai-nilai luhur pesantren.

    Beliau menyatakan bahwa ketiga bidang ini akan bekerja secara terintegrasi dalam aspek pemberdayaan alumni, pengembangan pendidikan, penyediaan beasiswa, hingga gerakan sosial. Sebagai langkah nyata di awal masa jabatannya, IKAPMAWI juga menginformasikan adanya bantuan infrastruktur untuk renovasi bangunan kelas Madrasah Aliyah (MA) guna memastikan fasilitas belajar mengajar di Kebarongan tetap representatif bagi para santri.

    Ketua Yayasan POMESMAWI, Drs. H. Ahmad Suaidi, dalam sambutannya apresiasi atas dukungan moral maupun materiil yang diberikan oleh IKAPMAWI. Selain mengucapkan selamat atas amanah baru yang diemban Prof. Inayah, beliau memberikan memaparkan peta jalan pembangunan yayasan saat ini. Beliau mengungkapkan bahwa alumni merupakan akselerator krusial dalam pembangunan madrasah. “Secara manajerial, yayasan tentu terus berupaya mandiri dalam mencari sumber pendanaan. Namun, sinergi dengan alumni melalui IKAPMAWI terbukti mampu meningkatkan progres pengembangan institusi secara jauh lebih signifikan dan terukur,” ungkapnya.

    Beliau juga mengajak para alumni untuk membangun pemahaman yang lebih dekat dan mendalam mengenai realitas kendala yang dihadapi di lingkungan MWI agar tidak terjadi mispersepsi dalam penilaian. Sebagai penanggungjawab Panitia Pembangunan, beliau juga memaparkan, kami telah mengalokasikan dana pengembangan secara penuh untuk memprioritaskan pembangunan asrama putra yang sejak tahun 2022 hingga kini telah menyerap anggaran sebesar 4 miliar rupiah.

    Sebagai bentuk transparansi, beliau juga menyampaikan bahwa kontribusi IKAPMAWI pada periode kepengurusan tahun lalu mencapai total 700 juta rupiah yang bersumber dari iuran rutin, ditambah 500 Juta dari hasil penggalangan dana pada Reuni Akbar 2025. Dari jumlah tersebut, saat ini masih tersisa saldo sebesar 130 juta rupiah di rekening BSI yang akan dialokasikan untuk melanjutkan Finishing dan Pengelolaan Gedung.

    Wakil Ketua Pembina Yayasan POMESMAWI, M. Fikri A. R., S.Kom., M.A, Ph.D., dalam tanggapannya memberikan perspektif yang sarat akan dialektika filosofis mengenai peran alumni. Beliau berharap agar kolaborasi ini diniatkan untuk ibadah dan mengingatkan bahwa representasi terbaik sebuah institusi terletak pada integritas para alumninya di tengah masyarakat.

    Beliau menekankan bahwa melahirkan alumni yang mampu berkiprah secara nyata di tengah dinamika masyarakat tidaklah mudah, karena itulah alumni merupakan ujung tombak yang memikul marwah institusi. Beliau memandang bahwa kiprah nyata para alumni di masyarakat juga merupakan sebuah kontribusi.

    Terkait Kurikulum Santri, Basis keilmuan yang rigid, khususnya penguasaan Bahasa Arab adalah bekal bagi para santri kedepannya, yaitu secara otomatis akan sangat mudah mempelajari ilmu lainnya, serta pengembangan diri pada masing masing pribadi santri.

    Kami menaruh harapan agar alumni menjadi manifestasi nyata kualitas almamater di luar sana, sebagai duta yang mengharumkan nama institusi melalui rekaman jejak yang empiris, sekaligus berpesan bahwa sekalipun alumni belum bisa memberikan kontribusi, maka menjaga nama baik dan citra positif MWI di tengah masyarakat merupakan sebuah kontribusi yang paling fundamental.

    Suasana diskusi semakin mendalam ketika Bapak Puji Handoko, S.Ag, M.Pd., selaku Ketua Bidang Penguatan & Pemberdayaan, menyampaikan refleksi historis yang sangat mendetail mengenai posisi tawar MWI Kebarongan. Beliau menegaskan bahwa secara sejarah, MWI Kebarongan adalah standar emas bagi banyak lembaga pendidikan lainnya.

    Beliau memberikan bukti nyata melalui pengalamannya mendampingi beberapa lembaga pendidikan, seperti salah satu MI terpadu dan sebuah pondok pesantren di daerah Gombong, yang mengadopsi kurikulum klasik dan ilmu Nahwu Shorof dari Kebarongan. “Anak-anak tingkat dasar di sana sudah diajarkan fasih melantunkan “Fa’ala Yaf’ilu Fa’lan Maf’alan”,” kenang beliau. Bahkan, berkat berguru ke Kebarongan, lembaga-lembaga tersebut kini mampu mengirimkan alumninya ke luar negeri seperti Turki, Sudan, hingga Al-Azhar di Mesir. Beliau juga mengenang masa-masa saat masih didampingi oleh tokoh-tokoh seperti KH. Adnan Rois dan H. Sutardjo dalam membina hubungan tersebut.

    Namun, di tengah kejayaan tersebut, Bapak Puji memberikan peringatan keras (early warning) yang dirangkum dalam beberapa poin utama:

    • Analisis Penurunan (Early Warning): Beliau memaparkan data perbandingan dengan sebuah pondok di daerah Pabelan. Jika pada era 1991 jumlah santri MWI setara dengan Pabelan di angka 1.400-an, kini pondok tersebut hanya mengurusi sekitar 260 santri. “Mereka sedang berada di titik nadirnya,” ungkap beliau sebagai pengingat agar MWI Kebarongan waspada dan tidak mengalami penurunan serupa.
    • Sikap “Jantan” dalam Kompetisi: MWI harus berani menghadapi persaingan dengan pondok modern. Beliau menekankan bahwa menyalahkan kemajuan pihak lain bukanlah solusi. Sebaliknya, kemajuan kompetitor harus dijadikan pemacu semangat untuk “lari lebih kencang.” Mundur sambil menyalahkan orang yang maju dianggap beliau sebagai sikap yang tidak jantan.
    • Kualitas Isi di Atas Sarana Fisik: Yayasan diingatkan untuk tidak terjebak hanya pada pembangunan fisik. Beliau mewanti-wanti agar madrasah tidak menjadi “menara gading” yang megah secara fasilitas namun kosong secara substansi akademik dan nilai.
    • Kritik Alumni sebagai Wujud Cinta: Pengurus yayasan diharapkan tidak berkecil hati jika alumni bersikap kritis atau “cerewet.” Hal tersebut ditegaskan sebagai ekspresi cinta yang mendalam dan kepedulian alumni untuk menjaga eksistensi serta marwah MWI Kebarongan.

    Menyambung gagasan tersebut, Prof. Dr. Khusnul Khotimah, M.Ag., selaku Koordinator Bidang Kemitraan POMESMAWI, memberikan paparan yang sangat komprehensif mengenai kontribusi nyata yang ingin diberikan alumni. Beliau mengawali dengan komitmen bahwa alumni tidak memiliki maksud untuk melakukan intervensi atau “merusuhi” manajemen internal yayasan, melainkan murni ingin mendedikasikan ide, gagasan, dan jaringan demi kemajuan almamater. Berikut adalah rincian rencana strategis yang beliau paparkan:

    • Modernisasi Sosialisasi dan Branding: Beliau menyoroti bahwa pola promosi atau pamflet MWI saat ini masih sangat sederhana. Alumni membutuhkan akses terhadap database prestasi santri yang lengkap dan kuat agar dapat dikemas secara profesional guna membantu proses sosialisasi ke berbagai kepala sekolah di wilayah Kabupaten Purbalingga dan Banyumas. Hal ini bertujuan agar kepercayaan masyarakat semakin mantap terhadap potensi yang ada di MWI.
    • Program Bahasa Asing dan Sertifikasi TOEFL: Menjalin kerja sama strategis dengan pihak UIN Sunan Kalijaga untuk memfasilitasi kursus bahasa asing sekaligus tes TOEFL. Program ini dinilai sangat krusial sebagai prasyarat bagi santri yang ingin melanjutkan kuliah maupun mendaftar kerja. Untuk itu, diperlukan draf MOU (Nota Kesepahaman) segera agar rencana ini dapat dijalankan secara sistematis.
    • Profesionalisme Kurikulum Tahfidz: Mengingat banyaknya beasiswa dan jalur karir strategis yang mensyaratkan hafalan Al-Qur’an (seperti jalur prestasi masuk Kepolisian), kurikulum Tahfidz di MWI harus dikelola lebih profesional. Hal ini mencakup penyediaan program khusus tahfidz serta kehadiran musyrif atau pembimbing yang mumpuni agar program ini memiliki hasil yang terukur dan kompetitif.
    • Revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK): Mengaktifkan kembali peran BLK yang saat ini dianggap kurang produktif atau “hidup segan mati tak mau”. Alumni siap memfasilitasi pelatihan keterampilan, khususnya bahasa Inggris dan Mandarin, yang dijalankan dengan format hybrid (perpaduan online dan offline) guna membekali santri dengan kecakapan praktis yang diharapkan di era global.
    • Penguatan Karakter melalui Mabit dan Pelatihan Akademik: Mengusulkan pengaktifan kembali tradisi Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) untuk memperkuat mental kepemimpinan dan karakter khas santri MWI. Selain itu, beliau merencanakan audit akademik melalui penyelengaraan seminar-seminar rutin bagi para tenaga pendidik (ustaz/ustazah) dengan tema-tema kontekstual dan ilmiah, agar prosesnya tidak menjemukan dan selalu mengikuti perkembangan zaman.

    Keseriusan kunjungan ini terlihat dari lengkapnya delegasi IKAPMAWI yang hadir mendampingi Ketua Umum. Di jajaran pimpinan tampak hadir Saefuddin, S.Ag, M.Ag selaku Bendahara Umum, Muhammad Rodlin S.Ag., M.M sebagai Koordinator Bidang Penguatan & Pemberdayaan, Suprapto, SH, MM sebagai Ketua Bidang Kemitraan POMESMAWI, serta Drs. H. Muslihun, M.A selaku Ketua Bidang Pengabdian Pada Masyarakat. Sekretariat IKAPMAWI diwakili oleh Amin Mustholih, S.Ag. dan Dr. H. Wachudin, M.Pd., serta didukung oleh Tim Media dan Humas. Dari divisi teknis, hadir pula Wafir Sangud, SE dan Sunaryo, S.Pd. dari Divisi Ekonomi, Taufiq, S.Ag. dari Divisi Database, serta Khoerul Anam, S.Ag, M.Pd. dari Divisi Kemitraan Akademik.

    Dalam penutup diskusi, Prof. Dr. Khusnul Khotimah, M.Ag. menyampaikan bahwa sebagai proses awal untuk memulai seluruh agenda besar tersebut, mutlak diperlukan adanya penyusunan Nota Kesepahaman (MOU) formal antara IKAPMAWI dan POMESMAWI. Pihak yayasan menyatakan apresiasi setinggi-tingginya atas masukan kritis serta dukungan bantuan renovasi yang diberikan oleh alumni. Melalui sinergi ini, IKAPMAWI menegaskan posisinya bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan ujung tombak untuk memastikan masa depan santri MWI Kebarongan tetap gemilang dan mampu menjawab tantangan dunia global tanpa meninggalkan akar identitas madrasahnya.

    Media IKAPMAWI

    Lokasi: Kebarongan, 24 Januari 2026

  • Menjahit “Trust”, Menebar Manfaat: Catatan Penting Pra-Raker IKAPMAWI 2025-2030

    Menjahit “Trust”, Menebar Manfaat: Catatan Penting Pra-Raker IKAPMAWI 2025-2030

    Ruang digital Google Meet pada Ahad malam (4/1/2026) menjadi saksi geliat semangat baru para alumni Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI). Dalam agenda Pra-Rapat Kerja (Pra-Raker) Pengurus IKAPMAWI Periode 2025-2030, sebuah fondasi kokoh mulai diletakkan: bukan hanya sekadar program kerja, melainkan tentang membangun kepercayaan (trust) dan persaudaraan yang saling menguatkan.

    “Trust” sebagai Napas Organisasi

    Ketua Umum IKAPMAWI, Prof. Dr. Inayah Rohmaniyah, membuka pertemuan dengan pesan yang sangat mendalam. Beliau menekankan bahwa kekuatan utama organisasi ini bukan terletak pada besarnya dana atau megahnya program semata, melainkan pada rasa saling percaya dan kasih sayang antar pengurus.

    “Jika ada kelemahan di satu orang, akan dipenuhi oleh teman lainnya. Kita menjaga trust satu sama lain,” ujar Prof. Inayah.

    Semangat inilah yang menjadi landasan bagi IKAPMAWI untuk bertransformasi menjadi organisasi yang profesional. Salah satu langkah konkretnya adalah peluncuran Website IKAPMAWI yang diproyeksikan sebagai “Kantor Digital”. Ini adalah simbol bahwa di mana pun alumni berada, rumah besar ini selalu bisa diakses, transparan, dan hidup.

    Tiga Pilar Utama Pengabdian

    Dalam diskusi yang hangat dan produktif, terpetakan tiga fokus besar arah gerak IKAPMAWI lima tahun ke depan, yang dibagi secara strategis agar tidak tumpang tindih:

    1. Bidang 1 (Internal Alumni): Fokus pada penguatan “rumah sendiri”. Mulai dari profiling database alumni nasional, pengembangan SDM (webinar, bootcamp bahasa), hingga pemberdayaan ekonomi yang konkret. Rencana pembentukan unit usaha berbadan hukum (seperti CV atau Konveksi) menjadi terobosan agar organisasi memiliki kemandirian finansial yang akuntabel.
    2. Bidang 2 (Kemitraan Pomesmawi): Berfokus sebagai mitra strategis bagi almamater (MWI). Program beasiswa dan jaringan kerjasama (networking) disiapkan untuk mendukung kemajuan pendidikan di MWI tanpa mengintervensi kebijakan pesantren.
    3. Bidang 3 (Pengabdian Masyarakat): Menjadi wajah diaspora alumni bagi publik luas. Mulai dari tanggap bencana, desa binaan, hingga syiar dakwah digital dan konvensional.

    Profesionalisme dan Keberlanjutan

    Sekretaris Umum dan Bendahara Umum turut menggarisbawahi pentingnya tertib administrasi dan strategi fundraising yang terukur. IKAPMAWI tidak ingin hanya “panas” di awal, melainkan merancang program rutin (triwulan/tahunan) yang menjadi unggulan.

    Visi besar periode ini adalah menyiapkan estafet kepemimpinan. Dengan sistem yang mapan (AD/ART yang jelas, Standard Operating Procedure, dan manajemen digital), IKAPMAWI berharap dapat terus mewariskan manfaat bagi siapa pun yang kelak memegang tongkat estafet kepemimpinan.

    Pra-Raker ini baru permulaan. Dengan draf kepengurusan yang solid dan semangat ta’awun (tolong-menolong), IKAPMAWI 2025-2030 siap berlayar membawa maslahat—bagi alumni, bagi almamater, dan bagi umat.

    Salam IKAPMAWI!

  • Prof Dr Inayah Rohmaniah Terpilih Memimpin IKAPMAWI Nasional Periode 2025-2030

    Prof Dr Inayah Rohmaniah Terpilih Memimpin IKAPMAWI Nasional Periode 2025-2030

    Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) telah sukses menyelenggarakan Musyawarah Besar (MUBES) II Tahun 2025. Acara yang menjadi forum tertinggi organisasi ini berlangsung khidmat di Cilacap selama dua hari, dari Sabtu hingga Ahad, 25-26 Oktober 2025.

    CILACAP – Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) telah sukses menyelenggarakan Musyawarah Besar (MUBES) II Tahun 2025. Acara yang menjadi forum tertinggi organisasi ini berlangsung khidmat di Cilacap selama dua hari, dari Sabtu hingga Ahad, 25-26 Oktober 2025.

    Puncak dari MUBES II adalah penetapan kepemimpinan baru. Melalui proses Sidang Tim Formatur, musyawarah resmi menetapkan Prof. Dr. Inayah Rohmaniah sebagai Ketua Umum IKAPMAWI Pusat terpilih untuk periode 2025-2030.

    Dalam menjalankan amanah ini, beliau akan didampingi oleh Profesor Suprianto sebagai Sekretaris dan Bapak Yusa Fathudin sebagai Bendahara.

    MUBES II Tahun 2025 mengusung sejumlah agenda penting yang diawali dengan Pidato Iftitah dari Ketua Umum IKAPMAWI Pusat periode 2020-2025, Drs. Praptono Zamzam, M.Sc., dan sambutan dari Ketua Yayasan Pomesmawi. Agenda dilanjutkan dengan Sidang Pleno II untuk mendengarkan dan mengesahkan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus IKAPMAWI Pusat periode 2020-2025.

    Untuk merumuskan arah dan strategi organisasi, peserta Mubes dibagi menjadi empat komisi strategis, yaitu:

    • Komisi A: Organisasi
    • Komisi B: Penggalian Dana (Fundraising)
    • Komisi C: Program Kerja
    • Komisi D: Pemberdayaan Alumni

    Hasil dari setiap komisi kemudian dilaporkan dan disahkan dalam Sidang Pleno III. Proses regenerasi kepemimpinan mencapai puncaknya pada Sidang Pleno V melalui penetapan Ketua Umum dan Sekretaris Umum terpilih.

    Dalam pidato pertamanya sebagai Ketua Umum terpilih, Prof. Dr. Inayah Rohmaniah menyampaikan visi utamanya untuk membawa IKAPMAWI ke depan. “Mudah-mudahan di kepemimpinan mendatang kita bersama-sama bisa menguatkan silaturahmi lintas generasi untuk perubahan yang lebih baik dan untuk membangun peradaban,” ujar Prof. Inayah.

    Beliau juga menekankan pentingnya semangat kolaborasi dari seluruh potensi alumni. “Kita semua sebenarnya guru besar di bidang masing-masing. Mari kita bersama-sama bergandengan tangan, mengidentifikasi apa yang kita punya sesuai keahlian untuk bersama-sama membesarkan sesama alumni, membesarkan MWI, dan untuk berkiprah di masyarakat.”

    Kepemimpinan baru ini secara resmi menerima estafet dari pengurus periode 2020-2025. Drs. Praptono Zamzam, M.Sc., dalam sambutannya, mengucapkan selamat dan menitipkan pesan persatuan. “Saya yakin seyakin-yakinnya MWI akan maju,” pesannya.

    Beliau juga mengingatkan fokus organisasi ke depan. “IKAPMAWI itu bukan organisasi politik. Fokus saja kepada peran concern to almamater (peduli pada almamater), concern to the alumni (peduli pada alumni), dan concern to the Muslim Society (peduli pada masyarakat Muslim).”

    Musyawarah Besar II IKAPMAWI ini berjalan lancar dan dihadiri oleh 93 peserta yang tercatat , terdiri dari berbagai unsur meliputi Pengurus IKAPMAWI Pusat, perwakilan IKAPMAWI Cabang, Pengurus Yayasan Pomesmawi, serta Panitia Mubes.