Tag: banyumas

  • Hadir di MA Wathoniyah Islamiyah, Prof. Inayah Rohmaniyah Ajak Gen Z Ubah Sejarah dengan Ilmu

    Hadir di MA Wathoniyah Islamiyah, Prof. Inayah Rohmaniyah Ajak Gen Z Ubah Sejarah dengan Ilmu

    KEBARONGAN – Suasana pagi di MA Wathoniyah Islamiyah terasa berbeda pada Sabtu, 10 Januari 2025. Ratusan siswa berkumpul dengan antusias mengikuti Talkshow Inspiratif bersama Ketua Umum IKAPMAWI, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah.

    Dalam acara yang bertajuk penguatan motivasi studi lanjut ini, Prof. Inayah menegaskan posisi strategis IKAPMAWI. “IKAPMAWI akan menjadi rumah besar bagi alumni untuk saling dukung, bekerja sama, dan saling menguatkan. Tidak ada yang berjalan sendirian,” ungkapnya.

    Kuliah: Bukan Sekadar Mencari Kerja Di hadapan para siswa yang mayoritas adalah Gen Z, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini meluruskan stigma tentang tujuan kuliah. Menurutnya, melanjutkan studi adalah manifestasi dari ajaran agama, di mana Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

    “Kuliah bukan hanya untuk mencari pekerjaan yang layak. Lebih dari itu, kuliah adalah proses mematangkan ilmu, meluaskan jaringan dan horison, serta mendewasakan diri. Dengan ilmu, kita bisa mengubah sejarah kehidupan menjadi lebih baik,” tegas Prof. Inayah.

    Resep Anti-Galau untuk Gen Z Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Banyak siswa meluapkan kegalauan khas anak muda: mulai dari overthinking, ketidakpercayaan diri, kebingungan memilih jurusan, hingga kecemasan akan tingginya angka pengangguran.

    Menanggapi fenomena “Gen Galau” ini, Prof. Inayah membagikan 5 Kunci Sukses dan Percaya Diri:

    1. Kenali Diri Sendiri: Pahami potensi dan kelemahanmu.
    2. Self-Love: Terima dan cintai dirimu sendiri apa adanya.
    3. Fokus pada Kendali Diri: Kendalikan apa yang bisa kita kendalikan, dan jangan berambisi mengendalikan hal-hal di luar kuasa kita.
    4. Kemandirian Kebahagiaan: Jangan gantungkan kebahagiaan dan standar kesuksesanmu pada orang lain.
    5. Keseimbangan: Ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan.

    “Bermimpilah setinggi-tingginya,” pesan Prof. Inayah menutup sesi yang penuh inspirasi tersebut. Acara ini diharapkan mampu membakar semangat santri MA Wathoniyah Islamiyah untuk berani melangkah menyongsong masa depan tanpa keraguan.

    TalkshowIKAPMAWI #GenZ #Motivation #MWIKebarongan #ProfInayah

    IKAPMAWI siap jadi rumah buat kita saling dukung. Yuk, semangat kejar mimpi! 🔥

  • Di Bawah Langit MWI: Istana tanpa Kasta (Part 1)

    Di Bawah Langit MWI: Istana tanpa Kasta (Part 1)

    Inayah Rohmaniyah

    Untuk Bapak dan Ibu yang teramat kucintai, yang mengajarkanku bahwa seluas dan seindah apapun rumah, takkan pernah cukup jika tanpa pintu yang selalu terbuka.”

    Rumahku Sebagai Ruang Publik

    Istana di Jantung MWI. Sekitar 160 kilometer dari keriuhan Kota Yogyakarta, tepat di jantung MWI, sebuah Pondok Pesantren tua di Desa Kebarongan Banyumas yang sarat sejarah, berdiri sebuah rumah yang lebih menyerupai pelukan besar bagi siapa pun yang datang. Bagi banyak orang, ia mungkin sekadar bangunan yang semakin renta, namun bagi saya, ia adalah istana dengan tembok-tembok kokoh yang menyimpan rahasia yang selama ini hanya menjadi nyanyian bisu dan tak terdengar. Rumah ini memiliki napasnya sendiri dan semua sisinya menjadi halaman depan yang selalu terbuka. Di sisi utara, sebuah ruang tamu yang luas menyambut setiap langkah kaki yang singgah. Di sisi selatan terhampar beranda atau balai yang apik, tempat ilmu, berbagai gagasan, dan silaturahmi berkelindan. Bahkan, di ujung ruang keluarga di sisi yang lain, semilir angin dari ruang yang setengah terbuka seringkali membuat siapapun terlena dalam ketenangan. Ruang ini memisahkan antara kehangatan ruang keluarga dengan hiruk-pikuk dapur yang sangat luas. Di dalam pelukan rumahku, juga berdiri asrama besar tempat teman-temanku para santri perempuan bernaung. Suara lantunan ayat, dzikir, dan canda tawa kecil mereka menjadi musik alami yang selalu menghiasi setiap sudut ruangan. Keberadaan mereka menjadikan rumah itu terus berdenyut dan jauh dari kesunyian.

    Rumah untuk semua. Struktur rumah yang didominasi ruang publik ini adalah symbol nyata sosok Bapak dan Ibu yang teramat kucintai. Sebagai pengasuh pesantren, mereka adalah tauladan yang tanpa Lelah tiada henti menerima berbagai ragam manusia dengan keluh kesah dan cerita yang berbeda. Dulu aku sering bertanya, apa bapak dan ibu tidak Lelah? apa tidak merasa terganggu ketika bahkan hingga larut malam masih ada yang mengetuk pintu, atau tamu-tamu tak kunjung bergeming meninggalkan bangku-bangku di ruang tamu? Kini aku tahu, ruang-ruang ini adalah saksi abadi bagaimana privasi keluarga sering melebur demi pengabdian. Setiap sudut ruang itu menyaksikan bagaimana kehangatan ruang keluarga dan ruang publik terus terjalin, seiring lantunan doa yang tak henti mengalir dari ketulusan para hati yang datang. Sebuah Pelajaran indah tentang ketulusan, cinta, dan kebahagiaan sederhana. 

    Rumah ini adalah saksi bisu tempat jiwa dan diriku tertempa, melalui liku perjalanan yang tak mudah. Aku menuliskannya bukan sekadar untuk bernostalgia, tetapi untuk merawat ingatan dan cinta. Sebab, sejarah diri adalah ruh yang membentuk jati diri dan masa depan. Aku percaya, saat kita mampu memaknai setiap fragmen kehidupan, ia akan berubah menjadi cahaya, guru tak tertandingi, dan kompas kehidupan yang memandu kita menuju hidup yang lebih bermakna, bermanfaat, dan utuh dalam kebahagiaan.

    Guru Sejatiku di Rumahku 

    Gadis Kecil Di Tengah Riuh Saudara Laki-Laki. Kenangan ini masih terus terukir di sudut terdalam hatiku, saat kuhabiskan hari-hari bersama orang-orang yang sangat kucintai. Sebagai satu-satunya gadis kecil yang tumbuh menjadi remaja di keluarga itu, aku sering melihat dunia memperlakukanku dengan cara yang berbeda. Di sela riuh tawa dan tangis kelahi saudara-saudara laki-lakiku, aku kerap bertanya: Apakah karena aku Perempuan? Atau karena aku satu-satunya “Mutiara kecil” yang hadir di Tengah? Bagian ini akan akan kusimpan dan kutuliskan untuk cerita di lain waktu. Namun yang pasti, masa-masa itu menjadi kenangan terindah dan menjadi titik berangkatku menyusuri luasnya samudera kehidupan, melewati pasang surut tawa dan tangis, duka dan bahagia, hingga detik ini. 

    Bapak: Samudra Ilmu bagi Ribuan Santri. Bapakku, Kyai Asifuddin Zawawi, adalah sosok yang cintanya tak henti meluap melampaui dinding rumah kami. Beliau adalah panutan, sebuah oase tempat ribuan santri menimba dahaga ilmu. Cintanya yang melimpah terus mengalir ke dalam relung kehidupan para santri yang teramat menghormati dan juga mencintainya. Aku menyaksikan orang orang datang dan pergi, belajar kepada Bapak pada berbagai kesempatan dengan cara yang beragam. Ribuan santri tentu tidak seragam dalam menangkap ilmu dan intisari kehidupan dari setiap ucapan dan tindak laku yang diajarkan sang Guru, meski mereka mengaku sangat terpengaruh dan menggenggam erat setiap untaian hikmah yang dipelajari dari Bapak. Setiap santri mungkin dengan bangga membawa pulang kepingan hikmah yang berbeda-beda, tergantung pada bejana hati yang mereka bawa. Namun bagiku, hubunganku dengan beliau tentu jauh lebih dari sekadar guru dan murid.

    Belajar pada Sang Murabbi di Rumah Sendiri. Jika ribuan santri dengan gempita mengaku telah mempelajari intisari kehidupan dari Bapak, maka aku memiliki keberuntungan yang jauh lebih dalam. Sebagai putrinya, aku tidak hanya mendengarkan percikan ilmu  beliau di depan mimbar atau di ruang-ruang kelas, tetapi aku melihat bagaimana ilmu itu menjelma menjadi denyut dan nafas serta gerak bapak dalam kehidupan sehari hari. Bapak dan Ibu adalah madrasah pertamaku dan rumah yang sesungguhnya, guru kehidupan yang tak pernah berhenti walau dalam diam. Di rumah yang luas ini dan dalam kehangatan dekapan cinta mereka, aku tidak hanya belajar tentang teks-teks agama. Lebih dari itu, aku mengerti bagaimana cinta, ketegasan, dan kelembutan bersatu dalam pengabdian. Inilah fragmen sejarah yang ingin kubagikan: sebuah kisah tentang bagaimana seorang anak perempuan belajar menjadi manusia dari dua guru sejati di rumahnya sendiri.

    Putri Kecil Belajar Ketangguhan, Kesetaraan dan Kelembutan

    Senyuman di Pagi Hari. Dalam ingatan masa kecilku, aku adalah seorang putri yang begitu dicintai dan dijaga. Bapak memanjakanku seperti puteri salju yang harus selalu menjadi nomor satu. Beliau memperlakukanku dengan kelembutan yang luar biasa, seolah memastikan bahwa tidak boleh ada yang membuatku menangis atau sakit hati. Di sisi lain, Ibu harus mencurahkan hamper seluruh waktunya untuk menemani dan merawat Bapak yang sakit, dan aku tumbuh dalam asuhan hangat Bu Lik (Mutmainnah), adik kandung Ibu.

    Masih jelas dalam ingatanku, Setiap pagi sebelum kaki kecilku melangkah menyusuri jalanan pegunungan menuju SD Negeri 1 di pinggir jalan raya, ada sebuah ritual yang tak pernah terlewatkan.  Bapak setiap pagi duduk di kursi depan, dan di sisinya selalu tersedia tumpukan uang receh untuk uang saku kami. Setelah ritual “salim” dan senyuman bapak, serta “sangu,” aku akan berangkat menembus semilir angin gunung yang segar. Sejak kecil aku menyaksikan bapak tidak bisa berjalan dengan tegak. Beliau sudah lumpuh separuh sejak aku belum dilahirkan (1971), dan setiap langkahnya harus selalu ditopang oleh tangan orang lain. 

    Cinta tanpa Batas. Aku sering tidak masuk sekolah karena harus mengikuti bapak berobat dari satu kota ke kota yang lain. Bapak seolah tak ingin berjarak denganku atau meninggalkanku. Beliau ingin aku ada di mana pun beliau mencari kesembuhan. Kami pernah tinggal lama di Bogor, menetap di Semarang, hingga menepi di pantai Petanahan. Masih terbayang jelas hingga kini, bagaimana rasanya duduk di atas dokar yang ditarik kuda, menempuh perjalanan panjang menuju rumah dokter atau kediaman Mbah. Pepohonan hijau yang berderet di pinggir jalan, dan semilir angin yang tak bosan mengibaskan rambutku, menjadi sensasi yang bahkan hingga detik ini masih bisa kurasakan. Di mana pun kami berada, rumah selalu penuh sesak oleh para alumni MWI yang datang membezuk dan mendoakan. Dalam keterbatasan fisiknya, bapak tetap menjadi magnet yang memancarkan kewibawaan dan cinta.

    Kelembutan Laki-Laki sebagai Kekuatannya. Perjalanan berpindah-pindah kota dalam ikhtiar mencari kesembuhan bapak, tentu bersama ibu juga, ternyata menjadi madrasah alam bawah sadar yang membentuk fondasi jiwaku. Dari perjalanan yang bagaikan tiada akhir itu, aku mewarisi tiga obor kehidupan yang hingga kini terus menyala. Pertama, aku belajar untuk tidak takut pada perubahan, cepat beradaptasi dengan sekitarku, mudah berkawan dengan orang orang baru, dan menemukan kebahagiaan dimana pun aku menapakkan kaki. Aku akhirnya mengerti bahwa rumah bukan sekedar bangunan atau koordinat geografi, tetapi kemampuan anggotanya untuk saling merawat cinta, menjaga hati untuk tetap merasa nyaman tanpa dibatasi ruang dan waktu. Pelajaran kedua, aku melihat daya juang bapak dan ibu, berjuang melawan sakit tanpa kenal lelah, bahkan tak sekalipun aku mendengar kata-kata keluh kesah keluar dari lisan mereka. Bapak yang harus selalu dibantu bahkan hanya untuk sekedar berdiri atau berjalan tetap memancarkan wibawa, ketenangan, dan sekaligus kesabaran. Di sisi lain ibu adalah pilar ketulusan, kesetiaan, dan ketangguhan. Karakter ibu yang periang, super ramah, dan mudah bersahabat membuatnya tidak pernah kehilangan teman meski berada di lingkungan baru. Ketangguhan Ibu mendampingi Bapak menjadi bukti bahwa cinta dan kasih sayang adalah bahan bakar yang tak ada habisnya. Ibu mengajarkanku bahwa kita bisa tetap bahagia dan bahkan menjadi “cahaya” bagi orang lain, meskipun kita sendiri sedang memikul beban ujian yang tidak ringan. Ketiga, diantara pelajaran yang paling membekas dalam relung terdalam hatiku adalah kelembutan bapak. Aku tidak pernah mendengar sekalipun bapak bicara kasar, membentak apalagi memukul ibu. Beliau sangat menyayangi dan memanjakan ibu, selalu bicara lembut, dan tidak menuntut apapun darinya. Bapak mengajarkanku bahwa laki-laki sejati tidak akan menunjukkan kekuasaan dengan amarah dan dominasi, melainkan melalui kelembutan dan kasih sayang.

    Hidup Penuh Kesahajaan, Rumah Tanpa Kasta

    Senyum Yang Selalu Kurindukan. Meski waktu yang kualami bersama Bapak terasa sangat pendek (bapak meninggal tahun 1981 ketika usiaku baru 10 tahun), namun beliau dan Ibu berhasil menanamkan satu nilai yang menjadi lentera hidupku: kesahajaan. Bapak adalah pribadi yang tidak banyak bicara, namun kecerdasan terpancar dari ketenangannya. Beliau tidak banyak mengumbar kata, tapi senyumnya senantiasa menebar pada semua. Masih kuingat bagaimana Bapak selalu menyambut tamu-tamu dengan hangat, meski kaki dan tangannya yang lumpuh membatasi geraknya. Kelumpuhan fisik tak pernah sanggup melumpuhkan keramahannya. Tamu-tamu datang silih berganti, dan jika Bapak sedang sare (tidur), mereka dengan setia menunggu hingga beliau terbangun. Di rumah itu, pintu tidak pernah benar-benar tertutup; ia selalu terbuka lebar bagi siapa pun dan kapan pun. Sebuah ketulusan yang hingga kini masih terus kuperjuangkan untuk bisa kuteladani. 

    Meja dan Dapur Simbol Kesetaraan Sosial. Ibuku adalah belahan jiwa yang menyempurnakan kesahajaan bapak. Keramahannya sama sekali tidak mengenal kasta. Masih teringat dengan jelas, siapa pun yang datang —mulai dari tukang sampah, penjual sayur, hingga bakul tempe— disapa dengan senyum dan kehangatan yang sama. Mereka diminta duduk di meja yang sama dengan ibu dan Bapak, diajak mengobrol, dan disuguhi teh atau kopi (medang). Aku terbiasa dengan pemandangan ini di rumah, duduk dan makan bersama para asisten rumah tangga (ART) dan orang-orang kecil yang seringkali dipandang sebelah mata oleh dunia luar. Bagi kami, mereka bukan sekedar rewang atau pekerja: mereka adalah bagian dari keluarga. Di meja makan dan dapur, di sela canda tawa kami, tertanam lekat sebuah prinsio kuat dalam pikiran dan hatiku: Hidup tak mengenal kasta, semua manusia sama dan berhak tertawa.

    Guncangan terberat saat Cahaya itu Redup. Kebahagiaan, keceriaan, dan kesahajaan yang terajut akhirnya sampai pada titik ujian terberatnya, Bapak pergi untuk selama-lamanya. Masih terngiang jelas di telingaku, bagaimana pecah tangis ibu bersahutan dengan langkah orang-orang yang keluar dari kamar paling depan di rumah besar itu. Mereka berjalan tergesa sambil menyeka air mata: bapak telah menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan kami semua. Rasa sakit dan sedih menghujam begitu hebat saat itu, hingga aku ingin turut serta pergi bersamanya, menemani beliau di alam sana agar tidak sendirian. 
    Aku masih ingat barisan pelayat yang mengular sangat panjang, memenuhi sepanjang jalan menuju rumah kami. Seluruh desa bahkan negeri seolah turut berduka mengantarkan bapak menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Namun aneh, memori tentang hari itu terasa samar dan berkabut jika dibandingkan dengan hari-hari bahagiaku bersama Bapak. Mungkin, alam bawah sadarku bekerja melindungi jiwa yang terluka, menghapus detail-detail kepedihan agar aku tetap memiliki kekuatan untuk berdiri tegak dan melanjutkan  hidup demi meraih mimpi. Perpisahan itu adalah luka pertama yang mengajariku bahwa cinta yang besar akan meninggalkan kerinduan yang juga sama besarnya.

    Bersambung ke- Part 2

  • Prof Dr Inayah Rohmaniah Terpilih Memimpin IKAPMAWI Nasional Periode 2025-2030

    Prof Dr Inayah Rohmaniah Terpilih Memimpin IKAPMAWI Nasional Periode 2025-2030

    Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) telah sukses menyelenggarakan Musyawarah Besar (MUBES) II Tahun 2025. Acara yang menjadi forum tertinggi organisasi ini berlangsung khidmat di Cilacap selama dua hari, dari Sabtu hingga Ahad, 25-26 Oktober 2025.

    CILACAP – Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) telah sukses menyelenggarakan Musyawarah Besar (MUBES) II Tahun 2025. Acara yang menjadi forum tertinggi organisasi ini berlangsung khidmat di Cilacap selama dua hari, dari Sabtu hingga Ahad, 25-26 Oktober 2025.

    Puncak dari MUBES II adalah penetapan kepemimpinan baru. Melalui proses Sidang Tim Formatur, musyawarah resmi menetapkan Prof. Dr. Inayah Rohmaniah sebagai Ketua Umum IKAPMAWI Pusat terpilih untuk periode 2025-2030.

    Dalam menjalankan amanah ini, beliau akan didampingi oleh Profesor Suprianto sebagai Sekretaris dan Bapak Yusa Fathudin sebagai Bendahara.

    MUBES II Tahun 2025 mengusung sejumlah agenda penting yang diawali dengan Pidato Iftitah dari Ketua Umum IKAPMAWI Pusat periode 2020-2025, Drs. Praptono Zamzam, M.Sc., dan sambutan dari Ketua Yayasan Pomesmawi. Agenda dilanjutkan dengan Sidang Pleno II untuk mendengarkan dan mengesahkan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus IKAPMAWI Pusat periode 2020-2025.

    Untuk merumuskan arah dan strategi organisasi, peserta Mubes dibagi menjadi empat komisi strategis, yaitu:

    • Komisi A: Organisasi
    • Komisi B: Penggalian Dana (Fundraising)
    • Komisi C: Program Kerja
    • Komisi D: Pemberdayaan Alumni

    Hasil dari setiap komisi kemudian dilaporkan dan disahkan dalam Sidang Pleno III. Proses regenerasi kepemimpinan mencapai puncaknya pada Sidang Pleno V melalui penetapan Ketua Umum dan Sekretaris Umum terpilih.

    Dalam pidato pertamanya sebagai Ketua Umum terpilih, Prof. Dr. Inayah Rohmaniah menyampaikan visi utamanya untuk membawa IKAPMAWI ke depan. “Mudah-mudahan di kepemimpinan mendatang kita bersama-sama bisa menguatkan silaturahmi lintas generasi untuk perubahan yang lebih baik dan untuk membangun peradaban,” ujar Prof. Inayah.

    Beliau juga menekankan pentingnya semangat kolaborasi dari seluruh potensi alumni. “Kita semua sebenarnya guru besar di bidang masing-masing. Mari kita bersama-sama bergandengan tangan, mengidentifikasi apa yang kita punya sesuai keahlian untuk bersama-sama membesarkan sesama alumni, membesarkan MWI, dan untuk berkiprah di masyarakat.”

    Kepemimpinan baru ini secara resmi menerima estafet dari pengurus periode 2020-2025. Drs. Praptono Zamzam, M.Sc., dalam sambutannya, mengucapkan selamat dan menitipkan pesan persatuan. “Saya yakin seyakin-yakinnya MWI akan maju,” pesannya.

    Beliau juga mengingatkan fokus organisasi ke depan. “IKAPMAWI itu bukan organisasi politik. Fokus saja kepada peran concern to almamater (peduli pada almamater), concern to the alumni (peduli pada alumni), dan concern to the Muslim Society (peduli pada masyarakat Muslim).”

    Musyawarah Besar II IKAPMAWI ini berjalan lancar dan dihadiri oleh 93 peserta yang tercatat , terdiri dari berbagai unsur meliputi Pengurus IKAPMAWI Pusat, perwakilan IKAPMAWI Cabang, Pengurus Yayasan Pomesmawi, serta Panitia Mubes.