Blog

  • MWI, Akar yang Tak Boleh Lupa: Sebuah Renungan Menjemput Kembali “Captive Market” yang Hilang

    MWI, Akar yang Tak Boleh Lupa: Sebuah Renungan Menjemput Kembali “Captive Market” yang Hilang

    oleh : Yashir Mustaqim Angkatan ’93

    Seringkali saya merenung tentang MWI dan peran kita di IKAPMAWI. Sejarah mencatat, MWI bukan sekadar pesantren tua. Ia adalah pioneer, sang “Agent of Change” di Banyumas Raya yang berani mengusung purifikasi Islam dan menerapkan sistem klasikal di awal zamannya. Keunikan MWI kian terasa dengan adanya simbiosis yang hangat antara pesantren dengan masyarakat Dusun Teleng.

    Pengalaman saya—dan mungkin ribuan alumni lainnya—masuk ke MWI bukan sekadar mencari sekolah, melainkan sebuah penugasan ideologis dari orang tua. Mereka mengirim kita karena percaya MWI adalah benteng akidah. Inilah yang Ustad Sunaryo sebut sebagai Captive Market; 70-80% santri baru lahir dari keluarga yang memiliki DNA MWI.

    Namun, mari kita jujur melihat ke belakang. Kejayaan “pasar loyal” ini dibangun bukan oleh algoritma media sosial, melainkan oleh keringat para “Kyai Panggung” kita. Nama-nama besar seperti KH Asifudin Zawawi, KH Munji, dan KH Muslim adalah magnet yang berkeliling dari mimbar ke mimbar, menyapa umat di Kawunganten, Sidareja, Purbalingga, hingga Lampung. Mereka merawat silaturahmi secara fisik, membangun kepercayaan secara tatap muka.

    Sayangnya, inilah mata rantai yang mulai hilang. Kita memiliki “pasar” yang besar, namun kurang terawat. Kita rindu figur kharismatik yang mampu menjadi magnet baru.

    Mungkin terdengar kuno di era digital ini, namun mengembalikan tradisi “turun ke bawah” dan merawat ikatan emosional dengan basis massa adalah strategi yang mendesak untuk dipertahankan. Ini adalah PR besar bagi IKAPMAWI untuk duduk bersama Yayasan, menyusun peta jalan (road map) agar kita tidak hanya eksis di dunia maya, tapi kembali mengakar kuat di hati masyarakat.

    Sumonggo, para senior dan kawan-kawan, mari kita diskusikan jalan pulang untuk kejayaan masa depan.

  • Pentingnya Pendidikan Karakter

    Pentingnya Pendidikan Karakter

    oleh : Muflihatul Qiromah. M.Pd

    Pendidikan karakter di dunia pendidikan terasa mulai luntur, hal ini disebabkan berbagai faktor. Di antaranya adalah karena adanya pengaruh digitalisasi, pola perubahan sosial yang ada, dan adanya pola pendidikan yang muatan kurikulumnya terlalu banyak sehingga fokus hanya pada akademik yang seolah mengabaikan pendidikan karakter yang menjadi pondasi utama untuk membentuk generasi yang tangguh siap menghadapi berbagai macam tantangan zaman ke depan.

    Kurangnya pendidikan karakter mengakibatkan pada pola pergaulan anak yang mudah tersinggung, tidak punya kepedulian terhadap teman, kurangnya simpati dan empati, maunya menang sendiri, dan hal ini memicu adanya pola pembulian kepada teman, baik bullying  dalam bentuk fisik (mendorong), verbal (mengejek), sosial/relasional (mengucilkan), Siber (cyberbullying melalui media), seksualitas (pelecehan seksual). Hal ini yang menjadi permasalahan yang merata di semua jenjang pendidikan.

    Fenomena yang terjadi di atas sudah digambarkan oleh Mahatma Ghandi (Soedarsono 2010) yang menyebutkan bahwa di masa yang akan datang akan timbul indikasi yang sangat buruk mana kala tujuh fenomena ini sudah terjadi, di antaranya adalah (1) merebaknya nilai-nilai dan prilaku orang yang memperoleh kekayaan dengan menghalakan segala cara tanpa bekerja (wealth wisthout work); (2) orang mendapatkan kesenangan tanpa hati nurani (pleasure without consienci); (3) perjalanan proses pendidikan tanpa karakter (education without charakter); (4) Berjalannya bisnis tanpa memperdulikan moralitas (commerce without ethic) (5) Ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan nilai-nilai kemanusiaan (science without humanity) (6) Belajar agama tanpa diimbangi dengan pengorbanan (religiuon without sacrifice)  dan (7) perjalanan politik tanpa diimbangi dengan prinsip (politic without principle).

    Thomas Lickona (1992) menyatakan bahwa,”Suatu bangsa akan mengalami kehancuran, ketika karakter bangsa sudah kehilangan integritas, nilai-nilai atau prinsip-prinsip dalam diri bangsa itu sendiri”. Karena itu pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini secara terus menerus hingga mampu membentuk seseorang yang berkarakter kuat dan mulia. Seperti kata pepatah China,”Jika seseorang ingin membuat rencana satu tahun, maka tanamlah padi, jika ingin membuat rencana sepuluh tahun maka tanamlah pohon, dan jika ingin membuat rencana seumur hidup maka lakukan pendidikan dengan  baik”.

    Pendidikan karakter merupakan suatu usaha untuk membantu perkembangan anak baik secara lahir maupun batin. Pendidikan ini harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan (never ending proses) sehingga mampu menghasilkan pendidikan yang berkualitas yang berkesinambungan ( continous quality improvement) dalam mewujudkan hasil pendidikan yang berdasar pada nilai-nilai budaya bangsa. (Mulyasa:2011). Hal ini mendasari bahwa pendidikan karakter harus terus ditanamkan sejak dini  di lingkungan, baik itu lingkungan keluarga sebagai lingkungan pertama yang sepenuhnya berperan penting dalam membentuk karakter, lingkungan masyarakat dan lingkungan teman bermain. Pola Pendidikan karakter yang berpengaruh terhadap anak dapat dilakukan  melalui pola keteladanan, pembiasaan, nasehat, perhatian/pengawasan dan hukuman. Kelima pola tersebut saling berkesinambungan antara satu dengan lainnya, untuk mencapai pembentukan karakter dengan maksimal, maka kelima pola tersebut berjalan beriringan.

    Pendidikan karakter merupakan suatu proses pendidikan yang membutuhkan ruang lingkup pembiasaan melalui pola pendidikan di setiap waktu dan setiap saat. Hingga pola tersebut membentuk karakter yang diharapkan, yang mampu membentuk karakter yang melekat pada seseorang. Pendidikan karakter ini dimulai dari pendidikan keluarga yang menjadi pondasi awal dalam membentuk karakter. Bila pendidikan keluarga dan  lingkungan serta adanya  pola pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan (continous) baik dalam keluarga, masyarakat dan dunia pendidikan khususnya. Maka  karakter yang baik akan menjadi  pilar utama dalam mendasari pola kehidupan anak dalam proses pendidikan seumur hidup (lifelong education).

    Daftar Pustaka

    Ni Putu Suwardani. (2020). Quo Vadis Pendidikan Karakter. Bali: UNHI Press

    Sri Zulfida, MA. (2020). Pendidikan karakter dalam Buku Ajar, Yogyakarta: Sulur Pustaka

    Dr. Abdullah Nashih ‘ulwan Tahqiq Syaikh Ihsan Al-“utaibi. (2018). Tarbiyatul Aulad Fil Islam. Solo: Insan Kamil

  • Prof Dr Inayah Rohmaniah Terpilih Memimpin IKAPMAWI Nasional Periode 2025-2030

    Prof Dr Inayah Rohmaniah Terpilih Memimpin IKAPMAWI Nasional Periode 2025-2030

    Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) telah sukses menyelenggarakan Musyawarah Besar (MUBES) II Tahun 2025. Acara yang menjadi forum tertinggi organisasi ini berlangsung khidmat di Cilacap selama dua hari, dari Sabtu hingga Ahad, 25-26 Oktober 2025.

    CILACAP – Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) telah sukses menyelenggarakan Musyawarah Besar (MUBES) II Tahun 2025. Acara yang menjadi forum tertinggi organisasi ini berlangsung khidmat di Cilacap selama dua hari, dari Sabtu hingga Ahad, 25-26 Oktober 2025.

    Puncak dari MUBES II adalah penetapan kepemimpinan baru. Melalui proses Sidang Tim Formatur, musyawarah resmi menetapkan Prof. Dr. Inayah Rohmaniah sebagai Ketua Umum IKAPMAWI Pusat terpilih untuk periode 2025-2030.

    Dalam menjalankan amanah ini, beliau akan didampingi oleh Profesor Suprianto sebagai Sekretaris dan Bapak Yusa Fathudin sebagai Bendahara.

    MUBES II Tahun 2025 mengusung sejumlah agenda penting yang diawali dengan Pidato Iftitah dari Ketua Umum IKAPMAWI Pusat periode 2020-2025, Drs. Praptono Zamzam, M.Sc., dan sambutan dari Ketua Yayasan Pomesmawi. Agenda dilanjutkan dengan Sidang Pleno II untuk mendengarkan dan mengesahkan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus IKAPMAWI Pusat periode 2020-2025.

    Untuk merumuskan arah dan strategi organisasi, peserta Mubes dibagi menjadi empat komisi strategis, yaitu:

    • Komisi A: Organisasi
    • Komisi B: Penggalian Dana (Fundraising)
    • Komisi C: Program Kerja
    • Komisi D: Pemberdayaan Alumni

    Hasil dari setiap komisi kemudian dilaporkan dan disahkan dalam Sidang Pleno III. Proses regenerasi kepemimpinan mencapai puncaknya pada Sidang Pleno V melalui penetapan Ketua Umum dan Sekretaris Umum terpilih.

    Dalam pidato pertamanya sebagai Ketua Umum terpilih, Prof. Dr. Inayah Rohmaniah menyampaikan visi utamanya untuk membawa IKAPMAWI ke depan. “Mudah-mudahan di kepemimpinan mendatang kita bersama-sama bisa menguatkan silaturahmi lintas generasi untuk perubahan yang lebih baik dan untuk membangun peradaban,” ujar Prof. Inayah.

    Beliau juga menekankan pentingnya semangat kolaborasi dari seluruh potensi alumni. “Kita semua sebenarnya guru besar di bidang masing-masing. Mari kita bersama-sama bergandengan tangan, mengidentifikasi apa yang kita punya sesuai keahlian untuk bersama-sama membesarkan sesama alumni, membesarkan MWI, dan untuk berkiprah di masyarakat.”

    Kepemimpinan baru ini secara resmi menerima estafet dari pengurus periode 2020-2025. Drs. Praptono Zamzam, M.Sc., dalam sambutannya, mengucapkan selamat dan menitipkan pesan persatuan. “Saya yakin seyakin-yakinnya MWI akan maju,” pesannya.

    Beliau juga mengingatkan fokus organisasi ke depan. “IKAPMAWI itu bukan organisasi politik. Fokus saja kepada peran concern to almamater (peduli pada almamater), concern to the alumni (peduli pada alumni), dan concern to the Muslim Society (peduli pada masyarakat Muslim).”

    Musyawarah Besar II IKAPMAWI ini berjalan lancar dan dihadiri oleh 93 peserta yang tercatat , terdiri dari berbagai unsur meliputi Pengurus IKAPMAWI Pusat, perwakilan IKAPMAWI Cabang, Pengurus Yayasan Pomesmawi, serta Panitia Mubes.