Category: Opini

  • Ikhtiar Menjaga Marwah: Menuju Tata Kelola IKAPMAWI yang Koordinatif dan Akuntabel

    Ikhtiar Menjaga Marwah: Menuju Tata Kelola IKAPMAWI yang Koordinatif dan Akuntabel

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Telah terlaksana diskusi strategis pada 7 Februari 2026 di Teluk, Purwokerto Selatan. Pertemuan ini bukan sekadar bicara angka, tapi bicara tentang bagaimana kita menjaga kepercayaan (amanah) seluruh alumni MWI.

    Dihadiri oleh:

    • Ketua Umum: Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag, M.Hum., MA.
    • Kepala Bidang Penguatan & Pemberdayaan: Puji Handoko, S.Ag, M.Pd.
    • Kepala Bidang Kemitraan Pomesmawi: Suprapto, SH, MM.
    • Bidang Penguatan & Pemberdayaan Ikapmawi: Muhammad Rodlin S.Ag., M.M
    • Sekretaris: Amin Mustholih, S.Ag.
    • Bendahara Umum: Saefuddin, S.Ag, M.Ag.
    • Wakil Bendahara Umum: Nur Shofihah, S.Pd.I.
    • Divisi Peningkatan & Pengembangan SDM Alumni: Unsiyah Siti Marhamah, S.Th.I, M.A. dan Zida El Vada Dilla Ide, SE, MSC.
    • Divisi Kemitraan Akademik dan SDM: Khoerul Anam, S.Ag, M.Pd.
    • Divisi Pengabdian dan Dakwah: Saefudin Sholehudin Kamali.

    Identifikasi Kendala Organisasi (Temuan Lapangan)

    Berdasarkan laporan para Koordinator Bidang (Korbid) dan observasi manajerial, terdapat beberapa kendala mendasar yang perlu segera diatasi:

    1. Efektivitas Koordinasi: Jalur komunikasi dan koordinasi antar bidang serta divisi masih belum berjalan secara sinkron, sehingga eksekusi program seringkali berjalan sendiri-sendiri.
    2. Pemahaman Tupoksi: Terdapat indikasi masih banyaknya personil pengurus yang belum memahami posisi, fungsi, serta tanggung jawab spesifiknya dalam struktur kepengurusan.
    3. Kendala Partisipasi Rapat: Partisipasi rapat tatap muka masih terkendala jarak dan waktu, sehingga diperlukan transformasi mekanisme pertemuan yang lebih fleksibel namun tetap formal.

    Himbauan Manajemen dan Koordinasi Internal

    Sebagai hasil dari diskusi penguatan organisasi, berikut adalah himbauan yang perlu diperhatikan oleh seluruh jajaran pengurus:

    1. Komunikasi Berjenjang: Ketua dan Korbid agar menjaga komunikasi intensif dengan ketua divisi dan anggota-anggota divisi. Lakukan pengecekan berkala untuk mengidentifikasi pengurus yang aktif maupun yang belum bisa aktif agar roda organisasi tetap berjalan optimal.
    2. Agenda Rapat Rutin: Akan diberlakukan kegiatan rapat rutin pada berbagai tingkatan untuk sinkronisasi program:
      • Rapat Pimpinan (RAPIM)
      • Rapat Koordinasi (melibatkan hingga tingkat Ketua Divisi)
      • Rapat Pengurus
      • Rapat Bidang (dikomandani langsung oleh Ketua dan Korbid masing-masing)
    3. Optimalisasi Pertemuan Online: Mengingat kendala jarak, pertemuan rutin sangat disarankan dilakukan secara daring (online) agar jangkauan partisipasi pengurus bisa lebih maksimal tanpa mengurangi kualitas koordinasi.
    4. Fasilitas Kantor: Kantor IKAPMAWI di MWI untuk sementara waktu akan ditempatkan bersama dengan kantor Pengawas (mengingat Ketua Umum juga menjabat sebagai Dewan Pengawas).

    Skema Kemandirian Ekonomi dan Potensi Internal

    Guna membangun kemandirian organisasi, telah dirumuskan skema penghimpunan dana yang berkelanjutan sebagai berikut:

    • Keteladanan Pengurus: Pemberlakuan iuran wajib bulanan bagi seluruh jajaran pengurus pusat sebagai manifestasi komitmen, solidaritas, dan rasa memiliki (self-belonging) terhadap almamater.
    • Solidaritas Anggota: Pengaktifan kembali iuran anggota yang dikelola secara sistematis melalui koordinasi antar angkatan.
    • Optimalisasi Zakat: Pengelolaan potensi Zakat Fitrah dan Zakat Mal dari jaringan alumni, khususnya para pengusaha sukses, untuk kemaslahatan yang lebih luas.
    • Target Strategis: Seluruh akumulasi potensi internal ini diproyeksikan untuk membangun kekuatan finansial organisasi secara mandiri, dengan target jangka panjang pembentukan LAZISMAWI (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah IKAPMAWI).

    Poin Strategis Tata Kelola Organisasi

    1. Membangun Fondasi Masa Depan (Dana Abadi) Kita sepakat bahwa keberlanjutan organisasi bergantung pada pengelolaan dana yang sehat. Dana yang bersumber dari iuran anggota dan zakat pengusaha alumni akan dikelola secara terukur: 80% dialokasikan untuk mendukung penuh seluruh kegiatan dan program kerja IKAPMAWI yang telah direncanakan, sementara sisa 20% akan diinvestasikan secara aman pada instrumen bonafid. Alokasi 20% ini berfungsi sebagai dana abadi sekaligus “Garda Terakhir” untuk kebutuhan yang sangat mendesak (urgent).
    2. Kebijakan Satu Pintu: Perlindungan, Bukan Pembatasan Seluruh aktivitas keuangan, investasi, dan kerjasama ekonomi wajib dikelola satu pintu melalui IKAPMAWI untuk menghindari dualisme organisasi. Setiap inisiatif usaha harus berbasis SOP yang transparan, menyertakan proposal serta cash flow yang jelas, dan mendapatkan persetujuan resmi melalui forum RAKOR sebelum dieksekusi.
    3. Standardisasi dan Akuntabilitas Teknis Inisiatif penghimpunan dana yang saat ini sedang berjalan wajib segera melakukan sinkronisasi dengan Bendahara Umum. Pengurus Pusat akan memberikan pendampingan teknis guna memastikan adanya mekanisme transparan dan sistem pelaporan yang baku. Penertiban ini adalah langkah mutlak untuk menjamin bahwa setiap rupiah dari alumni dapat dipertanggungjawabkan secara sah, akuntabel, dan amanah di dunia maupun akhirat.
    4. Penguatan Koordinasi Untuk mempermudah jalur komunikasi, kita akan menentukan koordinator per angkatan/wilayah. Ini agar arus informasi dan aspirasi finansial bisa mengalir lebih cepat dan efektif.

    Saat ini, proses legalitas di tingkat Dirjen sedang terus kita kawal. Mari kita doakan agar segala ikhtiar penertiban administrasi ini dimudahkan.

    Terima kasih kepada rekan-rekan yang selama ini sudah berkorban waktu dan materi. Mari kita rapatkan barisan, satukan pintu, demi IKAPMAWI yang lebih mandiri dan bermartabat.

    Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfa’at.

  • IKAPMAWI dan PPMWI Perkuat Sinergi Melalui Diskusi Strategis dan Silaturahmi Pengurus Pusat di Kebarongan

    IKAPMAWI dan PPMWI Perkuat Sinergi Melalui Diskusi Strategis dan Silaturahmi Pengurus Pusat di Kebarongan

    KEBARONGAN – Lantai atas Ruang Pertemuan Madrasah Aliyah Wathoniyah Islamiyah (MAWI) Kebarongan menjadi lokasi pertemuan krusial yang menandai babak baru kolaborasi antara alumni dan lembaga pendidikan pada Sabtu, 24 Januari 2026. Pertemuan formal ini dikemas dalam agenda silaturahmi serta diskusi strategis yang mempertemukan jajaran pengurus pusat ikapmawi periode terbaru dengan jajaran Yayasan POMESMAWI. Kunjungan ini terasa sangat monumental karena merupakan kehadiran perdana Ketua Umum ikapmawi, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag, M.Hum., MA., pasca dilantik secara resmi pada 11 Januari 2026 lalu, yang membawa delegasi besar sebagai pernyataan komitmen nyata untuk menjaga marwah dan eksistensi madrasah di tengah tantangan zaman yang kian dinamis.

    Dalam sambutannya, Prof. Inayah mengucapkan Terimakasih kepada Yayasan yang sudah menyambut hangat kedatangan ikapmawi, beliau juga secara resmi memperkenalkan struktur pengurus pusat IKAPMAWI yang baru. Beliau menekankan bahwa fokus kami ke depan adalah menjadi mitra strategis yang membantu MWI melalui tiga pilar utama yang bergerak di bawah semangat slogan “Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat”, yaitu:

    • Bidang Penguatan & Pemberdayaan IKAPMAWI: Berfokus pada penguatan internal melalui pengelolaan database alumni serta pengembangan divisi ekonomi untuk kemandirian finansial organisasi.
    • Bidang Kemitraan POMESMAWI: Menitikberatkan pada sinergi akademik, revitalisasi infrastruktur bangunan gedung, sertifikasi bahasa, serta modernisasi strategi branding madrasah.
    • Bidang Pengabdian pada Masyarakat: Menjalankan misi dakwah dan aksi sosial sebagai bentuk kontribusi nyata alumni yang berlandaskan nilai-nilai luhur pesantren.

    Beliau menyatakan bahwa ketiga bidang ini akan bekerja secara terintegrasi dalam aspek pemberdayaan alumni, pengembangan pendidikan, penyediaan beasiswa, hingga gerakan sosial. Sebagai langkah nyata di awal masa jabatannya, IKAPMAWI juga menginformasikan adanya bantuan infrastruktur untuk renovasi bangunan kelas Madrasah Aliyah (MA) guna memastikan fasilitas belajar mengajar di Kebarongan tetap representatif bagi para santri.

    Ketua Yayasan POMESMAWI, Drs. H. Ahmad Suaidi, dalam sambutannya apresiasi atas dukungan moral maupun materiil yang diberikan oleh IKAPMAWI. Selain mengucapkan selamat atas amanah baru yang diemban Prof. Inayah, beliau memberikan memaparkan peta jalan pembangunan yayasan saat ini. Beliau mengungkapkan bahwa alumni merupakan akselerator krusial dalam pembangunan madrasah. “Secara manajerial, yayasan tentu terus berupaya mandiri dalam mencari sumber pendanaan. Namun, sinergi dengan alumni melalui IKAPMAWI terbukti mampu meningkatkan progres pengembangan institusi secara jauh lebih signifikan dan terukur,” ungkapnya.

    Beliau juga mengajak para alumni untuk membangun pemahaman yang lebih dekat dan mendalam mengenai realitas kendala yang dihadapi di lingkungan MWI agar tidak terjadi mispersepsi dalam penilaian. Sebagai penanggungjawab Panitia Pembangunan, beliau juga memaparkan, kami telah mengalokasikan dana pengembangan secara penuh untuk memprioritaskan pembangunan asrama putra yang sejak tahun 2022 hingga kini telah menyerap anggaran sebesar 4 miliar rupiah.

    Sebagai bentuk transparansi, beliau juga menyampaikan bahwa kontribusi IKAPMAWI pada periode kepengurusan tahun lalu mencapai total 700 juta rupiah yang bersumber dari iuran rutin, ditambah 500 Juta dari hasil penggalangan dana pada Reuni Akbar 2025. Dari jumlah tersebut, saat ini masih tersisa saldo sebesar 130 juta rupiah di rekening BSI yang akan dialokasikan untuk melanjutkan Finishing dan Pengelolaan Gedung.

    Wakil Ketua Pembina Yayasan POMESMAWI, M. Fikri A. R., S.Kom., M.A, Ph.D., dalam tanggapannya memberikan perspektif yang sarat akan dialektika filosofis mengenai peran alumni. Beliau berharap agar kolaborasi ini diniatkan untuk ibadah dan mengingatkan bahwa representasi terbaik sebuah institusi terletak pada integritas para alumninya di tengah masyarakat.

    Beliau menekankan bahwa melahirkan alumni yang mampu berkiprah secara nyata di tengah dinamika masyarakat tidaklah mudah, karena itulah alumni merupakan ujung tombak yang memikul marwah institusi. Beliau memandang bahwa kiprah nyata para alumni di masyarakat juga merupakan sebuah kontribusi.

    Terkait Kurikulum Santri, Basis keilmuan yang rigid, khususnya penguasaan Bahasa Arab adalah bekal bagi para santri kedepannya, yaitu secara otomatis akan sangat mudah mempelajari ilmu lainnya, serta pengembangan diri pada masing masing pribadi santri.

    Kami menaruh harapan agar alumni menjadi manifestasi nyata kualitas almamater di luar sana, sebagai duta yang mengharumkan nama institusi melalui rekaman jejak yang empiris, sekaligus berpesan bahwa sekalipun alumni belum bisa memberikan kontribusi, maka menjaga nama baik dan citra positif MWI di tengah masyarakat merupakan sebuah kontribusi yang paling fundamental.

    Suasana diskusi semakin mendalam ketika Bapak Puji Handoko, S.Ag, M.Pd., selaku Ketua Bidang Penguatan & Pemberdayaan, menyampaikan refleksi historis yang sangat mendetail mengenai posisi tawar MWI Kebarongan. Beliau menegaskan bahwa secara sejarah, MWI Kebarongan adalah standar emas bagi banyak lembaga pendidikan lainnya.

    Beliau memberikan bukti nyata melalui pengalamannya mendampingi beberapa lembaga pendidikan, seperti salah satu MI terpadu dan sebuah pondok pesantren di daerah Gombong, yang mengadopsi kurikulum klasik dan ilmu Nahwu Shorof dari Kebarongan. “Anak-anak tingkat dasar di sana sudah diajarkan fasih melantunkan “Fa’ala Yaf’ilu Fa’lan Maf’alan”,” kenang beliau. Bahkan, berkat berguru ke Kebarongan, lembaga-lembaga tersebut kini mampu mengirimkan alumninya ke luar negeri seperti Turki, Sudan, hingga Al-Azhar di Mesir. Beliau juga mengenang masa-masa saat masih didampingi oleh tokoh-tokoh seperti KH. Adnan Rois dan H. Sutardjo dalam membina hubungan tersebut.

    Namun, di tengah kejayaan tersebut, Bapak Puji memberikan peringatan keras (early warning) yang dirangkum dalam beberapa poin utama:

    • Analisis Penurunan (Early Warning): Beliau memaparkan data perbandingan dengan sebuah pondok di daerah Pabelan. Jika pada era 1991 jumlah santri MWI setara dengan Pabelan di angka 1.400-an, kini pondok tersebut hanya mengurusi sekitar 260 santri. “Mereka sedang berada di titik nadirnya,” ungkap beliau sebagai pengingat agar MWI Kebarongan waspada dan tidak mengalami penurunan serupa.
    • Sikap “Jantan” dalam Kompetisi: MWI harus berani menghadapi persaingan dengan pondok modern. Beliau menekankan bahwa menyalahkan kemajuan pihak lain bukanlah solusi. Sebaliknya, kemajuan kompetitor harus dijadikan pemacu semangat untuk “lari lebih kencang.” Mundur sambil menyalahkan orang yang maju dianggap beliau sebagai sikap yang tidak jantan.
    • Kualitas Isi di Atas Sarana Fisik: Yayasan diingatkan untuk tidak terjebak hanya pada pembangunan fisik. Beliau mewanti-wanti agar madrasah tidak menjadi “menara gading” yang megah secara fasilitas namun kosong secara substansi akademik dan nilai.
    • Kritik Alumni sebagai Wujud Cinta: Pengurus yayasan diharapkan tidak berkecil hati jika alumni bersikap kritis atau “cerewet.” Hal tersebut ditegaskan sebagai ekspresi cinta yang mendalam dan kepedulian alumni untuk menjaga eksistensi serta marwah MWI Kebarongan.

    Menyambung gagasan tersebut, Prof. Dr. Khusnul Khotimah, M.Ag., selaku Koordinator Bidang Kemitraan POMESMAWI, memberikan paparan yang sangat komprehensif mengenai kontribusi nyata yang ingin diberikan alumni. Beliau mengawali dengan komitmen bahwa alumni tidak memiliki maksud untuk melakukan intervensi atau “merusuhi” manajemen internal yayasan, melainkan murni ingin mendedikasikan ide, gagasan, dan jaringan demi kemajuan almamater. Berikut adalah rincian rencana strategis yang beliau paparkan:

    • Modernisasi Sosialisasi dan Branding: Beliau menyoroti bahwa pola promosi atau pamflet MWI saat ini masih sangat sederhana. Alumni membutuhkan akses terhadap database prestasi santri yang lengkap dan kuat agar dapat dikemas secara profesional guna membantu proses sosialisasi ke berbagai kepala sekolah di wilayah Kabupaten Purbalingga dan Banyumas. Hal ini bertujuan agar kepercayaan masyarakat semakin mantap terhadap potensi yang ada di MWI.
    • Program Bahasa Asing dan Sertifikasi TOEFL: Menjalin kerja sama strategis dengan pihak UIN Sunan Kalijaga untuk memfasilitasi kursus bahasa asing sekaligus tes TOEFL. Program ini dinilai sangat krusial sebagai prasyarat bagi santri yang ingin melanjutkan kuliah maupun mendaftar kerja. Untuk itu, diperlukan draf MOU (Nota Kesepahaman) segera agar rencana ini dapat dijalankan secara sistematis.
    • Profesionalisme Kurikulum Tahfidz: Mengingat banyaknya beasiswa dan jalur karir strategis yang mensyaratkan hafalan Al-Qur’an (seperti jalur prestasi masuk Kepolisian), kurikulum Tahfidz di MWI harus dikelola lebih profesional. Hal ini mencakup penyediaan program khusus tahfidz serta kehadiran musyrif atau pembimbing yang mumpuni agar program ini memiliki hasil yang terukur dan kompetitif.
    • Revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK): Mengaktifkan kembali peran BLK yang saat ini dianggap kurang produktif atau “hidup segan mati tak mau”. Alumni siap memfasilitasi pelatihan keterampilan, khususnya bahasa Inggris dan Mandarin, yang dijalankan dengan format hybrid (perpaduan online dan offline) guna membekali santri dengan kecakapan praktis yang diharapkan di era global.
    • Penguatan Karakter melalui Mabit dan Pelatihan Akademik: Mengusulkan pengaktifan kembali tradisi Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) untuk memperkuat mental kepemimpinan dan karakter khas santri MWI. Selain itu, beliau merencanakan audit akademik melalui penyelengaraan seminar-seminar rutin bagi para tenaga pendidik (ustaz/ustazah) dengan tema-tema kontekstual dan ilmiah, agar prosesnya tidak menjemukan dan selalu mengikuti perkembangan zaman.

    Keseriusan kunjungan ini terlihat dari lengkapnya delegasi IKAPMAWI yang hadir mendampingi Ketua Umum. Di jajaran pimpinan tampak hadir Saefuddin, S.Ag, M.Ag selaku Bendahara Umum, Muhammad Rodlin S.Ag., M.M sebagai Koordinator Bidang Penguatan & Pemberdayaan, Suprapto, SH, MM sebagai Ketua Bidang Kemitraan POMESMAWI, serta Drs. H. Muslihun, M.A selaku Ketua Bidang Pengabdian Pada Masyarakat. Sekretariat IKAPMAWI diwakili oleh Amin Mustholih, S.Ag. dan Dr. H. Wachudin, M.Pd., serta didukung oleh Tim Media dan Humas. Dari divisi teknis, hadir pula Wafir Sangud, SE dan Sunaryo, S.Pd. dari Divisi Ekonomi, Taufiq, S.Ag. dari Divisi Database, serta Khoerul Anam, S.Ag, M.Pd. dari Divisi Kemitraan Akademik.

    Dalam penutup diskusi, Prof. Dr. Khusnul Khotimah, M.Ag. menyampaikan bahwa sebagai proses awal untuk memulai seluruh agenda besar tersebut, mutlak diperlukan adanya penyusunan Nota Kesepahaman (MOU) formal antara IKAPMAWI dan POMESMAWI. Pihak yayasan menyatakan apresiasi setinggi-tingginya atas masukan kritis serta dukungan bantuan renovasi yang diberikan oleh alumni. Melalui sinergi ini, IKAPMAWI menegaskan posisinya bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan ujung tombak untuk memastikan masa depan santri MWI Kebarongan tetap gemilang dan mampu menjawab tantangan dunia global tanpa meninggalkan akar identitas madrasahnya.

    Media IKAPMAWI

    Lokasi: Kebarongan, 24 Januari 2026

  • Hadir di MA Wathoniyah Islamiyah, Prof. Inayah Rohmaniyah Ajak Gen Z Ubah Sejarah dengan Ilmu

    Hadir di MA Wathoniyah Islamiyah, Prof. Inayah Rohmaniyah Ajak Gen Z Ubah Sejarah dengan Ilmu

    KEBARONGAN – Suasana pagi di MA Wathoniyah Islamiyah terasa berbeda pada Sabtu, 10 Januari 2025. Ratusan siswa berkumpul dengan antusias mengikuti Talkshow Inspiratif bersama Ketua Umum IKAPMAWI, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah.

    Dalam acara yang bertajuk penguatan motivasi studi lanjut ini, Prof. Inayah menegaskan posisi strategis IKAPMAWI. “IKAPMAWI akan menjadi rumah besar bagi alumni untuk saling dukung, bekerja sama, dan saling menguatkan. Tidak ada yang berjalan sendirian,” ungkapnya.

    Kuliah: Bukan Sekadar Mencari Kerja Di hadapan para siswa yang mayoritas adalah Gen Z, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini meluruskan stigma tentang tujuan kuliah. Menurutnya, melanjutkan studi adalah manifestasi dari ajaran agama, di mana Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

    “Kuliah bukan hanya untuk mencari pekerjaan yang layak. Lebih dari itu, kuliah adalah proses mematangkan ilmu, meluaskan jaringan dan horison, serta mendewasakan diri. Dengan ilmu, kita bisa mengubah sejarah kehidupan menjadi lebih baik,” tegas Prof. Inayah.

    Resep Anti-Galau untuk Gen Z Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Banyak siswa meluapkan kegalauan khas anak muda: mulai dari overthinking, ketidakpercayaan diri, kebingungan memilih jurusan, hingga kecemasan akan tingginya angka pengangguran.

    Menanggapi fenomena “Gen Galau” ini, Prof. Inayah membagikan 5 Kunci Sukses dan Percaya Diri:

    1. Kenali Diri Sendiri: Pahami potensi dan kelemahanmu.
    2. Self-Love: Terima dan cintai dirimu sendiri apa adanya.
    3. Fokus pada Kendali Diri: Kendalikan apa yang bisa kita kendalikan, dan jangan berambisi mengendalikan hal-hal di luar kuasa kita.
    4. Kemandirian Kebahagiaan: Jangan gantungkan kebahagiaan dan standar kesuksesanmu pada orang lain.
    5. Keseimbangan: Ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan.

    “Bermimpilah setinggi-tingginya,” pesan Prof. Inayah menutup sesi yang penuh inspirasi tersebut. Acara ini diharapkan mampu membakar semangat santri MA Wathoniyah Islamiyah untuk berani melangkah menyongsong masa depan tanpa keraguan.

    TalkshowIKAPMAWI #GenZ #Motivation #MWIKebarongan #ProfInayah

    IKAPMAWI siap jadi rumah buat kita saling dukung. Yuk, semangat kejar mimpi! 🔥

  • Penyerahan Simbolis Sertifikat Halal SEHATI kepada UMKM Skala Mikro di Bilabong Jaya

    Penyerahan Simbolis Sertifikat Halal SEHATI kepada UMKM Skala Mikro di Bilabong Jaya

    Penyerahan Simbolis Sertifikat Halal SEHATI kepada UMKM Skala Mikro di Bilabong Jaya

    Bandar Lampung — Upaya penguatan legalitas dan peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus dilakukan melalui program sertifikasi halal. Pada Ahad, 12 Oktober 2025, telah dilaksanakan penyerahan secara simbolis Sertifikat Halal Self Declare (SEHATI) kepada pelaku UMKM skala mikro, bertempat di kediaman Ketua RT setempat, Syafandi, S.Pd, Kelurahan Bilabong Jaya, Kecamatan Langkapura, Kota Bandar Lampung.

    Penyerahan sertifikat halal tersebut dilakukan oleh Pendamping Proses Produk Halal (P3H) Halal Center (HC) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Hidayatullah, S.Pd, kepada para pelaku UMKM skala mikro yang telah menyelesaikan proses sertifikasi halal melalui skema self declare.

    Para pelaku UMKM penerima sertifikat halal SEHATI menyambut baik kegiatan tersebut dan mengungkapkan rasa syukur atas pendampingan yang telah diberikan. Dengan adanya sertifikat halal, diharapkan produk UMKM lokal semakin memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sinergis antara perguruan tinggi, pendamping halal, dan masyarakat dalam mendukung penguatan ekonomi kerakyatan berbasis kehalalan produk. (Estria)

  • MWI, Akar yang Tak Boleh Lupa: Sebuah Renungan Menjemput Kembali “Captive Market” yang Hilang

    MWI, Akar yang Tak Boleh Lupa: Sebuah Renungan Menjemput Kembali “Captive Market” yang Hilang

    oleh : Yashir Mustaqim Angkatan ’93

    Seringkali saya merenung tentang MWI dan peran kita di IKAPMAWI. Sejarah mencatat, MWI bukan sekadar pesantren tua. Ia adalah pioneer, sang “Agent of Change” di Banyumas Raya yang berani mengusung purifikasi Islam dan menerapkan sistem klasikal di awal zamannya. Keunikan MWI kian terasa dengan adanya simbiosis yang hangat antara pesantren dengan masyarakat Dusun Teleng.

    Pengalaman saya—dan mungkin ribuan alumni lainnya—masuk ke MWI bukan sekadar mencari sekolah, melainkan sebuah penugasan ideologis dari orang tua. Mereka mengirim kita karena percaya MWI adalah benteng akidah. Inilah yang Ustad Sunaryo sebut sebagai Captive Market; 70-80% santri baru lahir dari keluarga yang memiliki DNA MWI.

    Namun, mari kita jujur melihat ke belakang. Kejayaan “pasar loyal” ini dibangun bukan oleh algoritma media sosial, melainkan oleh keringat para “Kyai Panggung” kita. Nama-nama besar seperti KH Asifudin Zawawi, KH Munji, dan KH Muslim adalah magnet yang berkeliling dari mimbar ke mimbar, menyapa umat di Kawunganten, Sidareja, Purbalingga, hingga Lampung. Mereka merawat silaturahmi secara fisik, membangun kepercayaan secara tatap muka.

    Sayangnya, inilah mata rantai yang mulai hilang. Kita memiliki “pasar” yang besar, namun kurang terawat. Kita rindu figur kharismatik yang mampu menjadi magnet baru.

    Mungkin terdengar kuno di era digital ini, namun mengembalikan tradisi “turun ke bawah” dan merawat ikatan emosional dengan basis massa adalah strategi yang mendesak untuk dipertahankan. Ini adalah PR besar bagi IKAPMAWI untuk duduk bersama Yayasan, menyusun peta jalan (road map) agar kita tidak hanya eksis di dunia maya, tapi kembali mengakar kuat di hati masyarakat.

    Sumonggo, para senior dan kawan-kawan, mari kita diskusikan jalan pulang untuk kejayaan masa depan.