Category: Inspirasi

  • Bangga! Dr. Erlin Kurnia (Alumni MWI) Lulus Disertasi Humanistik

    Bangga! Dr. Erlin Kurnia (Alumni MWI) Lulus Disertasi Humanistik

    Konsep Internalisasi Nilai Humanistik-Islam dalam Kurikulum Merdeka Karya Dr. Erlin Kurnia

    cms.ikapmawi.com BANYUMAS | Pendidikan bukan sekadar deretan angka di atas kertas rapor, melainkan fondasi utama peradaban. Tanpa sentuhan pendidikan yang tepat, manusia tidak hanya akan mengalami kemunduran moral, tetapi juga menghadapi ancaman “kepunahan” karakter kemanusiaannya.

    Kesadaran filosofis mendalam inilah yang mengantarkan salah satu akademisi dan pengurus pusat IKAPMAWI, Dr. Erlin Kurnia Sri Rejeki, M.Pd.I., meraih gelar Doktor pada 13 Juli 2026 di Purwokerto.

    Melalui disertasi ilmiahnya yang berjudul “Internalisasi Nilai-Nilai Humanistik dalam Kurikulum Merdeka pada Sekolah Dasar di Kebumen – Jawa Tengah – Indonesia”, Dr. Erlin menawarkan formula segar: bagaimana mengintegrasikan nilai humanisme modern dengan nilai-nilai luhur Islam di ruang kelas Sekolah Dasar (SD).

    Secara idealita, pendidikan nasional kita mengemban misi suci yakni melahirkan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Sejalan dengan itu, para pemikir besar Islam seperti Al-Ghazali, Ibnu Miskawaih, dan Al-Farabi sejak berabad-abad lalu telah menekankan pentingnya mendidik manusia secara paripurna menyeimbangkan aspek intelektual, spiritual, dan moral (humanisme religius).

    Untuk mengejar idealita tersebut, Indonesia telah melakukan reformasi kurikulum berkali-kali, mulai dari kurikulum era kemerdekaan 1947 hingga lahirnya Kurikulum Merdeka pada Tahun 2022. Kurikulum Merdeka hadir sebagai paradigma baru yang dirancang untuk memulihkan pembelajaran pascapandemi (learning loss). Ciri khasnya adalah fleksibel, berpusat pada siswa (student-centered), fokus pada materi esensial, serta mengedepankan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang bermuara pada Profil Pelajar Pancasila.

    Namun, bagaimana realitanya di lapangan?

    Masih terdapat jurang pemisah (gap) yang lebar antara keindahan desain kurikulum dengan kenyataan di dalam kelas. Data PISA (Program for International Student Assessment) menunjukkan kualitas literasi, numerasi, dan sains anak-anak Indonesia masih berada di level bawah.

    Mengapa ini terjadi? Masalahnya terletak pada internalisasi nilai. Nilai-nilai seperti berpikir kritis, empati, dan tanggung jawab sering kali hanya dihafal, bukan dihayati. Padahal, jika nilai-nilai ini meresap dalam diri siswa, mereka akan memiliki kemampuan menalar dan memecahkan masalah dalam kehidupan nyata yang merupakan inti dari penilaian PISA itu sendiri.

    Dalam penelitiannya, Dr. Erlin mengambil lokus di Kabupaten Kebumen dengan membandingkan dua model sekolah dasar terbaik yang merepresentasikan lembaga negeri dan swasta Islam:

    1. SD – A : Mewakili sekolah negeri unggulan yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) dengan proses tata kelola yang sangat baik.
    2. SD – B: Mewakili sekolah swasta Islam modern yang sarat prestasi akademik maupun nonakademik.

    Melalui pendekatan komparatif ini, penelitian ini berhasil melahirkan peta jalan bagaimana nilai-nilai universal dapat diterapkan dengan sukses pada karakteristik sekolah yang berbeda.

    Kebaruan (novelty) utama dari riset Dr. Erlin adalah keberaniannya mengintegrasikan konsep humanisme universal Barat yang dirumuskan oleh American Humanist Association Center for Education bernama The Ten Commitments (Sepuluh Komitmen), lalu mendialogkannya secara ontologis dengan nilai-nilai luhur dalam Islam.

    Dr. Erlin memetakan 10 pilar nilai tersebut ke dalam konsep Islam secara indah:

    Altruism (Mementingkan orang lain) bersanding dengan nilai Īsār (mengutamakan orang lain).
    Empathy (Empati) bersanding dengan nilai Rahmah (kasih sayang).
    Critical Thinking (Berpikir kritis) bersanding dengan nilai Tafakkur (berpikir mendalam).
    Ethical Development (Perkembangan etika) bersanding dengan nilai Akhlakul Karimah (akhlak mulia).
    Responsibility (Tanggung jawab) bersanding dengan nilai Amanah (dapat dipercaya).
    Peace & Social Justice (Perdamaian & keadilan sosial) bersanding dengan nilai Salam & Adil.
    Humility (Rendah hati) bersanding dengan nilai Tawāḍuʿ.
    Environmentalism (Kepedulian lingkungan) bersanding dengan nilai Khalifah fi al-arḍ (pengelola bumi).
    Global Awareness (Kesadaran global) bersanding dengan nilai Ukhuwwah Insāniyyah (persaudaraan universal).
    Service & Participation (Pelayanan & partisipasi) bersanding dengan nilai Ta’āwun (tolong-menolong).

    Bagaimana cara memasukkan 10 nilai besar di atas agar tidak sekadar menjadi hafalan kognitif? Dr. Erlin mengadopsi teori internalisasi bertahap (Muhaimin) yang dibagi menjadi 3 fase berkesinambungan:

    • Transformasi Nilai (Transfer of Knowledge): Guru tidak hanya mendikte peraturan, melainkan mengenalkan dan memberikan pemahaman verbal yang logis tentang nilai-nilai humanistik berbasis Islam tersebut kepada siswa.
    • Transaksi Nilai (Two-Way Interaction): Terjadi interaksi aktif dua arah antara guru dan siswa. Di tahap ini, guru bertindak sebagai teladan (uswah), fasilitator, dan teman diskusi yang setara, sehingga siswa merasa dihargai.
    • Trans-internalisasi Nilai (Mental & Spiritual Integration): Nilai-nilai tersebut telah melewati proses penjiwaan yang mendalam hingga menyatu ke dalam kepribadian, struktur batin, dan refleks perilaku sehari-hari siswa tanpa perlu diawasi secara ketat.

    Disertasi ini tidak berhenti pada teori di atas awang-awang, melainkan merumuskan strategi taktis yang bisa langsung dipraktikkan oleh para kepala sekolah dan guru SD melalui enam pilar aksi:

    1. Pembelajaran Berdiferensiasi: Guru mengakomodasi keberagaman cara belajar, minat, serta potensi unik masing-masing anak. Tidak ada anak yang dianggap bodoh hanya karena ia berbeda.
    2. Project-Based Learning (PjBL): Pembelajaran berbasis proyek yang kontekstual dan dekat dengan realita kehidupan siswa guna melatih kemampuan kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah (problem solving).
    3. Outing Class: Mengajak siswa belajar di luar kelas secara berkala untuk menumbuhkan empati, rasa cinta tanah air, dan kepedulian nyata terhadap lingkungan sekitar.
    4. Pembiasaan Religius: Menghidupkan ibadah harian seperti doa bersama, dzikir, tilawah, shalat berjamaah, dan bersedekah secara konsisten sebagai jangkar spiritualitas anak.
    5. Budaya Sekolah Humanis: Menciptakan iklim sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan (bullying), di mana keteladanan ditunjukkan oleh seluruh warga sekolah.
    6. Kegiatan Ekstrakurikuler: Mengoptimalkan minat dan bakat anak untuk menumbuhkan sportivitas, jiwa kepemimpinan, dan kerja sama tim.

    Riset Dr. Erlin Kurnia Sri Rejeki, M.Pd.I., memberikan sumbangsih yang sangat berharga bagi arah masa depan pendidikan dasar di Indonesia. Beliau membuktikan bahwa Kurikulum Merdeka akan berjalan maksimal apabila “ruh” pembelajaran diisi dengan nilai-nilai humanistik yang bersumber dari spiritualitas Islam.

    Dengan strategi dan tahapan internalisasi yang tepat, sekolah-sekolah dasar di Indonesia tidak hanya akan mencetak siswa yang cerdas secara kognitif untuk menaikkan skor PISA, tetapi juga melahirkan generasi emas berkarakter mulia yang siap menjaga marwah kemanusiaan di masa depan.

    Selamat atas gelar Doktornya, Ibu Dr. Erlin! Karya mulia ini adalah bukti nyata komitmen alumni IKAPMAWI untuk terus menebar manfaat dan memajukan dunia pendidikan bangsa.

    Media IKAPMAWI

    Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat.

  • In Memoriam: Selamat Jalan Ustadz Drs. H. Faesol Muslim, MA – Obor Literasi, Akademisi Global, dan Penjaga Marwah Kebarongan

    In Memoriam: Selamat Jalan Ustadz Drs. H. Faesol Muslim, MA – Obor Literasi, Akademisi Global, dan Penjaga Marwah Kebarongan

    JAKARTA, 14 Juni 2026 – Kabar duka mendalam menyelimuti segenap alumni lintas generasi dan seluruh keluarga besar IKAPMAWI di berbagai belahan dunia. Salah satu putra terbaiknya, Bapak Drs. H. Faesol Muslim, MA, telah berpulang ke rahmatullah pada hari Kamis, 11 Juni 2026 pukul 09:30 WIB di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta, pada usia 85 tahun.

    Almarhum mengembuskan napas terakhirnya tepat saat buku kumpulan tulisan alumni, Buku Alumni MWI Ber-Seri Edisi-9, tengah dalam proses naik cetak—sebuah karya di mana beliau bertindak sebagai penulis tetap sekaligus pemberi Kata Pengantar. Kepulangannya meninggalkan duka mendalam sekaligus warisan keteladanan yang tak ternilai bagi dunia pendidikan Islam dan kemanusiaan.

    Lahir pada 7 Maret 1941, Pak Faesol Muslim merupakan alumnus MWI Kebarongan Angkatan 1956. Pendidikan klasikal pesantren yang beliau tempuh di Kebarongan menjadi jangkar batin yang kokoh ketika beliau melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

    Beliau menamatkan studi di jurusan Sastra Inggris IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta – UNY) dan kemudian mengabdi sebagai dosen di sana. Dahaga akan ilmu membawanya terbang melintasi samudra. Menjelang tahun 1970, Pak Faesol menempuh studi di Victoria University of Wellington, Selandia Baru, dan melanjutkan pendidikan pascasarjananya di University of Hawaii, Amerika Serikat pada awal tahun 1970-an.

    Riwayat akademis ini menobatkan beliau sebagai salah satu alumni MWI pertama yang berhasil menembus universitas dunia pada era tersebut, membuktikan kepada dunia bahwa lulusan pesantren mampu bersaing di kancah global tanpa kehilangan jati diri kesantriannya.

    Setelah sempat mengabdi sebentar sebagai dosen di IKIP Yogyakarta and Institut Al-Qur’anul Karim (IAK) Pondok Pesantren MWI Kebarongan, Banyumas, panggilan pengabdian membawa beliau melangkah ke ranah diplomasi kemanusiaan global.

    Pak Faesol mendedikasikan sebagian besar karir profesionalnya di lembaga internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi dunia lainnya:

    • IPPF (International Planned Parenthood Federation) di Kuala Lumpur, Malaysia.
    • UNICEF (United Nations Children’s Fund) di Jakarta.
    • UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) di Jakarta.

    Melalui badan-badan dunia ini, beliau berkontribusi nyata pada isu-isu kesejahteraan anak, pendidikan, dan kebudayaan, merefleksikan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin di panggung internasional.

    Pasca-purna tugas dari badan-badan internasional tersebut, Pak Faesol tidak memilih untuk beristirahat. Jiwa santrinya memanggil beliau untuk kembali dan membangun tanah kelahirannya, Kebarongan.

    Salah satu wujud bakti luhurnya adalah menghidupkan kembali tempat pengajian kakeknya, (Alm) KH Mbah Sirodj (Sirodjoeddin), dengan membangun sebuah gedung dakwah representatif yang kini menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan masyarakat. Tidak hanya itu, Pak Faesol juga mewakafkan sebidang tanah berharga and ikut membiayai pembangunan Gedung Da’wah Muhammadiyah di Kebarongan, Banyumas.

    Bagi almamater tercinta, Ponpes MWI Kebarongan, beliau adalah sosok sesepuh yang selalu peduli. Komitmen literasinya diwujudkan dengan menjadi penulis tetap pada Buku Alumni MWI Ber-Seri dari edisi awal hingga Edisi-9 yang kini tengah dipersiapkan. Kata Pengantar yang beliau tulis untuk Edisi-9 menjadi warisan pena terakhir, sebuah wasiat pemikiran yang beliau tinggalkan sesaat sebelum berpulang.

    Kepergian Pak Ustadz Faesol Muslim mengundang rasa kehilangan mendalam dari berbagai tokoh nasional. Sejarawan terkemuka sekaligus Ketua Tim Penulis Ulang Sejarah RI, Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum, menyampaikan belasungkawa dan kesaksiannya:

    “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun, berita yang sama saya dapatkan pagi ini. Rupanya pertemuan terakhir saya dengan (Almarhum) Pak Faesol Muslim di Purwokerto yang lalu. Orang yang ‘alim, mencerdaskan, dan baik hati. Saya mendoakan Almarhum diterima sebaik-baiknya di sisi Allah SWT. Aamiin…”

    Sementara itu, di Yogyakarta, suasana duka juga menyelimuti rumah duka. Berbagai karangan bunga ucapan belasungkawa, termasuk dari keluarga besar IKAPMAWI Kebarongan, tampak berjajar rapi sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi luar biasa Almarhum semasa hidup.

    Para pelayat, tetangga, serta kerabat dekat berkumpul di rumah duka dengan, melantunkan doa sembari menunggu kedatangan jenazah Almarhum dari Jakarta untuk disemayamkan.

    Segenap Pengurus Pusat dan Anggota IKAPMAWI di seluruh penjuru dunia mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya Ustadz Drs. H. Faesol Muslim, MA. Sebagai wujud takzim dan belasungkawa langsung, perwakilan jajaran Pengurus Pusat IKAPMAWI hadir untuk ber ta’ziyah dan menemani keluarga serta memberikan doa terbaik bagi Almarhum.

    Semoga segala amal ibadah, wakaf, ilmu yang bermanfaat, serta khidmat kemanusiaan yang beliau tebarkan semasa hidup menjadi amal jariyah yang menerangi kuburnya dan menuntun beliau menuju surga-Nya.

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan sang penjaga warisan perjuangan MWI Kebarongan. Semoga husnul khatimah.

    Informasi dihimpun oleh Tim Redaksi dari Drs. Muhammad Zuhair, AG, M.Si. (Alumnus MWI, lulusan Program Kajian Timur Tengah & Islam Universitas Indonesia tahun 2005). Beliau juga merupakan kontributor tulisan aktif pada Buku Nubar Alumni MWI Seri 2 dengan karya bertajuk “Perjalanan Karirku: Masuk Kota, Desa, Hutan”.

    Penulis: Tim Media IKAPMAWI,

    Bersatu dalam Sanad, Bergerak demi Marwah dan Manfaat.