Author: ikapmawi

  • ISRA’ MI’RAJ: 7 Rahasia Perjalanan Spiritual Menembus Batas Logika

    ISRA’ MI’RAJ: 7 Rahasia Perjalanan Spiritual Menembus Batas Logika

    Oleh: Muhandis Azzuhri (Alumni MWI tahun 1995)

    Urutan dan Rahasia Surah-Surah Musabbihat

    Terdapat tujuh surat dalam Al-Qur’an yang diawali dengan kalimat tasbih, yaitu QS Al-Hadid, Al-Hasyr, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, At-Taghabun, Al-A’la, dan QS Al-Isra. Semua surat ini dinamakan surat-surat Musabbihat (المسبّحات). Rahasia dan hikmah di balik pengawalan surah dengan tasbih adalah sebagai berikut:

    Pertama: Mensucikan Allah sebelum membahas hal besar. Ini merupakan bentuk deklarasi kesucian Allah yang menembus batas logika manusia. Contohnya dalam QS Al-Isra; peristiwa Isra Mikraj secara logika manusia sangat mustahil, apalagi terjadi pada masa peradaban unta di abad ke-6 Masehi. Allah Swt. memulainya dengan kata Subhana (Maha Suci). Ini adalah pesan bahwa bagi Allah Yang Maha Suci, tidak ada yang mustahil. Logika manusia tidak boleh digunakan untuk membatasi kekuasaan Tuhan.

    Kedua: Harmonisasi Seluruh Alam Semesta. Surat-surat ini sering kali menegaskan bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk yang beribadah. Di awal surah Al-Hadid, Al-Hasyr, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, dan At-Taghabun, disebutkan bahwa apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Rahasianya adalah seluruh atom di alam semesta berada dalam kondisi “ibadah”. Jika manusia tidak bertasbih, ia menjadi satu-satunya makhluk yang tidak selaras dengan harmoni alam.

    Latar Belakang Peristiwa Isra Mikraj

    Rasulullah ﷺ di-isra-kan dan di-mikraj-kan oleh Allah Swt. sebagai bentuk hiburan kepada beliau. Pada tahun 619 M, saat peristiwa tersebut terjadi, beliau baru saja kehilangan istri tercintanya, Siti Khadijah binti Khuwailid r.a., serta paman tercintanya, Abdu Manaf bin Abdul Muthallib atau yang lebih dikenal dengan Abu Thalib.

    Selain itu, beliau juga mengalami peristiwa menyakitkan berupa pelemparan batu dan kotoran unta oleh penduduk Thaif ketika berdakwah di sana bersama sahabat Zaid bin Haritsah. Oleh karena itu, tahun tersebut dinamakan dengan ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan). Dalam kesedihan itu, Rasulullah ﷺ mengadu kepada Allah Swt. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir dan al-Baghdadi dalam Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi:

    اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي، وَقِلّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ! أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي، إلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ، لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك

    “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau rida kepadaku. Dan tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu.”

    Doa ini menggetarkan langit hingga malaikat penjaga gunung mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Tuhanmu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Thaif ini ke atas mereka.”

    Namun, jawaban Rasulullah ﷺ di luar dugaan nalar manusia biasa. Beliau menjawab:

    اللَّهُمَّ اهدْ قَوْمِي؛ فإنَّهُمْ لا يَعْلَمُونَ

    “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada umatku, karena mereka adalah umat yang tidak mengetahui.”

    Dalam redaksi lain (HR. Bukhari: 3477 dan Muslim: 1792):

    اللَّهُمَّ اغفر لقَوْمِي؛ فإنَّهُمْ لا يَعْلَمُونَ

    “Ya Allah, berikanlah ampunan kepada umatku, karena sesungguhnya mereka adalah umat yang tidak mengetahui.”

    Setelah tiga ujian besar inilah Rasulullah ﷺ di-isra-kan dan di-mikraj-kan, sebuah perjalanan suci yang diabadikan oleh Allah Swt. dalam QS Al-Isra ayat 1:

    سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَه لِنُرِيَه مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

    Detail Peristiwa Isra Mikraj Rasulullah ﷺ

    Meskipun sering disebut dalam satu rangkaian kata, Isra dan Mikraj merupakan dua peristiwa berbeda yang terjadi dalam satu malam:

    1. Isra: Perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina) menggunakan Buraq. Secara logika manusia pada zaman itu, perjalanan ini membutuhkan waktu berbulan-bulan, namun ditempuh Nabi hanya dalam sebagian malam.
    2. Mikraj: Perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Aqsa naik menembus tujuh lapis langit hingga ke Sidratul Muntaha, tempat tertinggi di mana beliau berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.

    Proses perjalanan Isra dan Mikraj ini memberikan hiburan kepada Rasulullah ﷺ tentang luasnya alam semesta ini. Jikalau dimensi alam semesta ini dapat ditembus oleh manusia, maka perjalanannya bisa mencapai 50.000 tahun menurut perhitungan kita, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Al-Ma’arij ayat 4:

    تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُه خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ

    “Para malaikat dan Rūh (Jibril) naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij: 4)

    Angka 50.000 tahun ini bahkan belum dihitung dengan menggunakan kecepatan cahaya untuk mengetahui ukuran kilometernya. Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan cahaya sekitar 300.000 km per detik. Jika dihitung:

    • 1 menit = 60 detik
    • 1 jam = 60 menit
    • Sehari semalam = 24 jam
    • 1 tahun = 365 hari

    Maka dalam 50.000 tahun terdapat sekitar 18.250.000 hari. Perhitungan 50.000 tahun itu pun baru menggambarkan jarak di langit pertama, belum termasuk langit kedua hingga ketujuh dan Sidratul Muntaha, sebagaimana dikisahkan dalam hadis panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (No. 162) bersumber dari Anas bin Malik r.a.

    Berikut adalah daftar para nabi yang ditemui Rasulullah ﷺ di setiap lapisan langit:

    Langit Ke-Nabi yang Ditemui
    1Nabi Adam a.s.
    2Nabi Isa a.s. & Nabi Yahya a.s.
    3Nabi Yusuf a.s.
    4Nabi Idris a.s.
    5Nabi Harun a.s.
    6Nabi Musa a.s.
    7Nabi Ibrahim a.s.

    Buah Tangan Terindah: Perintah Shalat 5 Waktu

    Puncak dari Mikraj adalah ketika Nabi Muhammad ﷺ menerima perintah ibadah Shalat. Awalnya, Allah Swt. memerintahkan Shalat 50 kali sehari semalam. Namun, atas saran Nabi Musa a.s. dan kasih sayang Allah, jumlah tersebut dikurangi hingga menjadi 5 waktu saja, namun dengan nilai pahala yang setara dengan 50 waktu.

    Meskipun jumlahnya sudah dikurangi, Nabi Musa a.s. masih menyarankan Rasulullah ﷺ untuk meminta keringanan (rukhsah) lagi, namun dijawab oleh beliau:

    قدْ رَجَعْتُ إلى رَبِّي حتَّى اسْتَحْيَيْتُ منه

    “Aku telah bolak-balik menemui Tuhanku sampai aku merasa malu (untuk meminta lagi agar dikurangi waktu Shalatnya).”

    Ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan Shalat dalam Islam; ia adalah satu-satunya ibadah yang perintahnya diterima langsung oleh Nabi ﷺ di hadapan Allah tanpa perantara malaikat Jibril.

    Hikmah untuk Kehidupan Kita

    Peristiwa Isra Mikraj membawa pesan mendalam bagi umat Muslim saat ini:

    Pertama: Pentingnya Menjaga Shalat Shalat adalah “Mikraj-nya” orang beriman untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Shalat itu bukan beban, melainkan hiburan untuk berkomunikasi kepada Allah Swt., sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

    قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

    “Wahai Bilal, berdirilah. Jadikanlah Shalat ini sebagai istirahat (penyejuk hati) kita.” (HR. Abu Dawud: 4986).

    Shalat juga merupakan penghapus dosa-dosa kita, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ؟ قَالُوا: لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا، قَالَ: فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا

    Dari Abu Hurairah r.a., dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Bagaimana menurut kalian, jika ada sebuah sungai di depan pintu salah satu di antara kalian lalu ia mandi di sana lima kali setiap hari. Apakah masih ada tersisa kotorannya?” Para sahabat menjawab: “Tidak akan tersisa kotorannya walau sedikit.” Beliau bersabda: “Seperti itulah perumpamaan Shalat lima waktu, dengannya Allah menggugurkan kesalahan-kesalahan.” (HR. Bukhari: 528).

    Kedua: Perjalanan Akhir Manusia adalah Di-mikraj-kannya Ruh Orang Mukmin Perjalanan akhir manusia di dunia adalah kematian. Bagi orang beriman, ruhnya akan dihadapkan langsung kepada Allah Swt. dengan cara “di-mikraj-kan” oleh para malaikat. Sebagaimana diceritakan oleh sahabat Al-Barra bin ‘Azib r.a. (HR. Abu Dawud: 4753, Ahmad: 18557, An-Nasa’i: 2001, dan Ibnu Majah: 1549):

    عن البراء بن عازب خرجنا مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فذكر مثلَه إلى أن قال : فرفع رأسَه فقال : استعيذوا باللهِ من عذابِ القبرِ، مرَّتَيْن أو ثلاثًا، ثمَّ قال : إنَّ العبدَ المؤمنَ إذا كان في انقطاعٍ من الدُّنيا وإقبالٍ من الآخرةِ نزل إليه ملائكةٌ من السَّماءِ بِيضِ الوجوهِ، كأنَّ وجوهَهم الشَّمسُ معهم كفنٌ من أكفانِ الجنَّةِ، وحَنوطٌ من حنوطِ الجنَّةِ حتَّى يجلسوا منه مدَّ البصرِ، ويجيءُ ملَكُ الموتِ عليه السَّلامُ حتَّى يجلِسَ عند رأسِه فيقولُ : أيَّتها النَّفسُ الطَّيِّبةُ اخرُجي إلى مغفرةٍ من اللهِ ورِضوانٍ قال : فتخرُجُ فتسيلُ كما تسيلُ القطرةُ من في السِّقاءِ فيأخذُها فإذا أخذها لم يدَعوها في يدِه طرْفةَ عينٍ حتَّى يأخذوها فيجعلوها في ذلك الكفنِ، وفي ذلك الحَنوطِ، ويخرُجُ منه كأطيَبِ نفحةِ مِسكٍ، وُجِدت على وجهِ الأرضِ، قال : فيصعَدون بها فلا يمُرُّون على ملأٍ من الملائكةِ إلَّا قالوا : ما هذا الرُّوحُ الطَّيِّبُ ؟ فيقولان : فلانُ بنُ فلانٍ بأحسنِ أسمائِه الَّتي كان يُسمَّى بها في الدُّنيا حتَّى ينتهوا إلى السَّماءِ الدُّنيا فيستفتِحون له فيُفتَحُ له فيُشيِّعُه من كلِّ سماءٍ مُقرَّبوها إلى السَّماءِ الَّتي تليها حتَّى يُنتهَى بها إلى السَّماءِ السَّابعةِ فيقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ : اكتُبوا كتابَ عبدي في عِلِّيِّين وأعيدوه إلى الأرضِ في جسدِه…(أبو داود: 4753، أحمد: 18557، النسائي: 2001 ابن ماجه: 1549).

    “Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ, kemudian beliau bersabda seraya mengangkat kepalanya: ‘Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur’ (dua atau tiga kali). Kemudian beliau bersabda: ‘Sesungguhnya seorang hamba yang beriman ketika berada di titik perpisahan dari dunia dan menuju akhirat, malaikat-malaikat turun dari langit dengan wajah putih bersinar laksana matahari. Mereka membawa kain kafan dan parfum dari surga sampai mereka duduk di sisinya sejauh pandangan mata. Datanglah Malaikat Maut a.s. hingga duduk di kepalanya dan berkata: Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan rida-Nya.’

    Lalu ruh itu keluar dan mengalir seperti tetesan air dari mulut teko, diambilnya ruh itu, dan ketika diambil, ia tidak dibiarkan di tangan sesaat pun sebelum dibawa ke kain kafan dan parfum itu, lalu keluar darinya bau yang sangat harum laksana minyak misk terharum di muka bumi. Beliau berkata: Mereka naik dengan jiwa itu dan tidak melewati sekelompok malaikat pun kecuali mereka berkata: ‘Siapa ruh yang baik ini?’ Maka dikatakan: ‘Fulan bin Fulan’ dengan nama terbaiknya di dunia, sampai mereka ke langit dunia dan dibukakan pintu baginya, hingga sampai ke langit ketujuh. Lalu Allah Yang Maha Tinggi berfirman: ‘Tulislah kitab hamba-Ku di ‘Illiyyun dan kembalikan ke bumi dalam tubuhnya.’”

    Ketiga: Kebenaran Melampaui Logika Isra Mikraj melatih keimanan kita untuk percaya pada kekuasaan Allah yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

    سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَه لِنُرِيَه مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami…” (QS. Al-Isra: 1)

  • Ketua Yayasan POMESMAWI: IKAPMAWI Harus Menjadi Penguat Amanah dan Pemersatu Alumni

    Ketua Yayasan POMESMAWI: IKAPMAWI Harus Menjadi Penguat Amanah dan Pemersatu Alumni

    Purwokerto — Ketua Yayasan POMESMAWI, Drs. K.H. Ahmad Su’aidi, menegaskan bahwa pelantikan Pengurus Pusat Ikatan Alumni POMESMAWI (IKAPMAWI) masa khidmat 2025–2030 bukan sekadar seremonial organisasi, melainkan momentum penguatan amanah dan tanggung jawab moral alumni terhadap almamater dan umat. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada acara Pengukuhan dan Rapat Kerja IKAPMAWI yang digelar di Dominic Hotel Purwokerto, Sabtu (11/1/2026).

    Menurut Ahmad Su’aidi, kepengurusan IKAPMAWI yang baru diharapkan semakin bersemangat dalam mengemban amanah organisasi. Semangat tersebut tidak hanya diwujudkan melalui aktivitas kelembagaan, tetapi juga melalui kesungguhan menjaga nilai, etika, dan cita-cita luhur yang menjadi fondasi berdirinya POMESMAWI dan IKAPMAWI.

    Ia menekankan bahwa kekuatan utama dalam menyatukan alumni terletak pada kesamaan akidah dan cita-cita mulia. Kesamaan nilai tersebut, menurutnya, menjadi perekat yang mampu menjaga soliditas alumni lintas generasi, profesi, dan wilayah pengabdian.

    Lebih lanjut, Ahmad Su’aidi mengingatkan bahwa peran IKAPMAWI tidak terbatas pada kontribusi yang bersifat fisik atau material semata. Peran nonfisik seperti keteladanan moral, dukungan pemikiran, jejaring dakwah, serta penguatan nilai keislaman dan keumatan justru menjadi kekuatan strategis yang harus terus dihidupkan.

    Dalam konteks pengembangan lembaga, ia menegaskan bahwa amanah untuk memajukan POMESMAWI membutuhkan dukungan dan peran aktif IKAPMAWI sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem almamater. Sinergi antara yayasan, institusi pendidikan, dan alumni dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan dan kemajuan POMESMAWI di masa depan.

    Menutup sambutannya, Ahmad Su’aidi berharap IKAPMAWI mampu tampil sebagai organisasi alumni yang tidak hanya besar secara struktur, tetapi juga kuat secara nilai dan kontribusi. Dengan semangat amanah dan persatuan, IKAPMAWI diharapkan terus menjadi mitra strategis dalam membangun almamater, masyarakat, dan peradaban yang berkemajuan.

  • Dewan Penasihat Tekankan Tiga Pilar dan Peran Strategis Alumni dalam Penguatan IKAPMAWI

    Dewan Penasihat Tekankan Tiga Pilar dan Peran Strategis Alumni dalam Penguatan IKAPMAWI

    Purwokerto — Dewan Penasihat Ikatan Alumni POMESMAWI (IKAPMAWI), Drs. H. Praptono Zamzam, M.Sc., menegaskan pentingnya peran strategis alumni dalam membesarkan organisasi pada era kepengurusan 2025–2030. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada acara Pengukuhan dan Rapat Kerja Pengurus Pusat IKAPMAWI di Dominic Hotel Purwokerto, Sabtu (11/1/2026).

    Dalam sambutannya, Praptono Zamzam mengulas sejarah awal berdirinya IKAPMAWI yang bertumpu pada tiga pilar utama. Pilar pertama adalah dari kalangan cendekiawan, yang diwakili oleh Prof. Dr. Muhadjir. Pilar kedua adalah dari kalangan pejabat, yang direpresentasikan oleh Brigjend Burhani Cokro Handoko, dan pilar ketiga adalah dari kalangan pengusaha, yang dipelopori oleh Masyfudin. Ketiga tokoh tersebut menjadi penggerak awal lahirnya IKAPMAWI sebagai wadah alumni yang berdaya dan berpengaruh.

    Seiring perjalanan waktu, IKAPMAWI dinilai terus berkembang dan mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan, termasuk pejabat dan tokoh-tokoh cendekiawan. Namun demikian, Praptono menegaskan bahwa secara organisatoris IKAPMAWI tidak berada di bawah POMESMAWI, melainkan berdiri secara mandiri sebagai organisasi alumni yang tetap memiliki keterikatan moral dan historis dengan almamater.

    Lebih lanjut, ia menekankan bahwa IKAPMAWI tidak boleh lepas dari tiga ranah pengabdian utama. Pertama, kepedulian terhadap sesama alumni. Kedua, pengabdian kepada masyarakat luas, dengan prinsip bahwa di mana ada alumni, di situ masyarakat harus menjadi lebih baik. Ketiga, kepedulian terhadap almamater, sebagai bentuk tanggung jawab moral atas proses pendidikan yang telah dilalui.

    Praptono Zamzam juga mengingatkan pentingnya optimalisasi peran dan jejaring alumni, termasuk dukungan terhadap Pondok. Menurutnya, alumni yang memiliki kapasitas, jabatan, dan pengaruh di masyarakat hendaknya memanfaatkan momentum tersebut untuk membantu dan berkontribusi secara nyata.
    “Gunakan kesempatan selagi ada kemampuan, kekuatan, dan jabatan. Karena belum tentu esok hari kesempatan yang sama masih ada,” pesannya.

    Menutup sambutan, ia berharap IKAPMAWI ke depan semakin berjaya, solid, dan mampu menjadi kekuatan alumni yang membawa manfaat bagi umat, masyarakat, dan almamater secara berkelanjutan. (Estria)

  • Prof. Dr. Inayah Rohmaniyah Paparkan Visi Besar IKAPMAWI 2025–2030: Dari Konsolidasi Alumni hingga Dampak Nyata bagi Umat

    Prof. Dr. Inayah Rohmaniyah Paparkan Visi Besar IKAPMAWI 2025–2030: Dari Konsolidasi Alumni hingga Dampak Nyata bagi Umat

    Purwokerto — Ketua Umum Ikatan Alumni POMESMAWI (IKAPMAWI) masa khidmat 2025–2030, Prof. Dr. Inayah Rohmaniyah, menegaskan bahwa Ikapmawi menaungi alumni dari sebuah Lembaga (POMESMAWI) besar yang telah melewati sejarah tidak panjang, hasil dari doa, air mata, harpan, dan pengorbanan para pendiri. Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada acara Pengukuhan dan Rapat Kerja Pengurus Pusat IKAPMAWI di Dominic Hotel Purwokerto, Sabtu (11/1/2026).

    Dalam sambutannya, Prof. Inayah mengajak seluruh pengurus dan alumni untuk selalu mengingat akar sejarah MWI. Menurutnya, kemajuan organisasi tidak boleh membuat alumni tercerabut dari nilai dan tradisi yang telah diwariskan para pendiri. “Kita tidak boleh melupakan akar, tetapi harus terus berkembang menjawab tantangan Jaman,” tegasnya.

    Ia kemudian memaparkan tiga pilar utama visi dan misi kepemimpinan pengurus IKAPMAWI periode 2025–2030. Pilar pertama adalah dimensi alumni, yakni membangun alumni yang inklusif, kompetitif, dan berani tampil di tingkat nasional maupun global. Alumni POMESMAWI, menurutnya, harus mampu merangkul semua kalangan serta percaya diri menunjukkan kapasitasnya di berbagai ruang pengabdian.

    Pilar kedua adalah dimensi almamater, dengan komitmen berhidmat menjaga kehormatan dan marwah POMESMAWI yang telah berdiri lebih dari satu abad (148 tahun). IKAPMAWI diposisikan sebagai penjaga nilai, sejarah, dan reputasi lembaga, sekaligus mitra strategis dalam pengembangannya.

    Adapun pilar ketiga adalah dimensi pengabdian, yang menekankan kehadiran IKAPMAWI di tengah masyarakat sebagai problem solver. Prof. Inayah menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, sehingga IKAPMAWI harus hadir dan mampu menghadirkan solusi nyata atas persoalan umat dan masyarakat.

    Untuk mewujudkan visi tersebut, Prof. Inayah memaparkan peta jalan (roadmap) kepengurusan lima tahun ke depan. Tahun pertama difokuskan pada konsolidasi dan penguatan fondasi organisasi, termasuk penyusunan database alumni secara sistematis untuk memetakan potensi dan keahlian. Tahun kedua diarahkan pada pembangunan jejaring bisnis dan professional lainnya dengan memanfaatkan kapasitas dan potensi alumni baik sebagai pengusaha, tokoh Agama, akademisi, birokrat, maupun profesional lainnya.

    Pada tahun ketiga, IKAPMAWI menargetkan pembentukan dana abadi guna mendukung kemajuan pondok dan almamater secara berkelanjutan. Tahun keempat difokuskan pada penciptaan dampak nyata bagi umat, sementara tahun kelima diarahkan pada penyiapan regenerasi sumber daya manusia untuk mendukung keberlangsungan dan kualitas SDM IKAPMAWI di masa depan.

    Menutup sambutannya, Prof. Inayah mengajak seluruh pengurus dan alumni untuk bergerak bersama dalam semangat kolaborasi dan kebermanfaatan. Ia menegaskan bahwa IKAPMAWI harus tumbuh sebagai organisasi alumni yang kuat secara struktur, matang secara visi, dan nyata dalam kontribusi bagi keluarga alumni, almamater, umat, dan bangsa. (Estria)

  • Hadir di MA Wathoniyah Islamiyah, Prof. Inayah Rohmaniyah Ajak Gen Z Ubah Sejarah dengan Ilmu

    Hadir di MA Wathoniyah Islamiyah, Prof. Inayah Rohmaniyah Ajak Gen Z Ubah Sejarah dengan Ilmu

    KEBARONGAN – Suasana pagi di MA Wathoniyah Islamiyah terasa berbeda pada Sabtu, 10 Januari 2025. Ratusan siswa berkumpul dengan antusias mengikuti Talkshow Inspiratif bersama Ketua Umum IKAPMAWI, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah.

    Dalam acara yang bertajuk penguatan motivasi studi lanjut ini, Prof. Inayah menegaskan posisi strategis IKAPMAWI. “IKAPMAWI akan menjadi rumah besar bagi alumni untuk saling dukung, bekerja sama, dan saling menguatkan. Tidak ada yang berjalan sendirian,” ungkapnya.

    Kuliah: Bukan Sekadar Mencari Kerja Di hadapan para siswa yang mayoritas adalah Gen Z, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini meluruskan stigma tentang tujuan kuliah. Menurutnya, melanjutkan studi adalah manifestasi dari ajaran agama, di mana Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

    “Kuliah bukan hanya untuk mencari pekerjaan yang layak. Lebih dari itu, kuliah adalah proses mematangkan ilmu, meluaskan jaringan dan horison, serta mendewasakan diri. Dengan ilmu, kita bisa mengubah sejarah kehidupan menjadi lebih baik,” tegas Prof. Inayah.

    Resep Anti-Galau untuk Gen Z Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Banyak siswa meluapkan kegalauan khas anak muda: mulai dari overthinking, ketidakpercayaan diri, kebingungan memilih jurusan, hingga kecemasan akan tingginya angka pengangguran.

    Menanggapi fenomena “Gen Galau” ini, Prof. Inayah membagikan 5 Kunci Sukses dan Percaya Diri:

    1. Kenali Diri Sendiri: Pahami potensi dan kelemahanmu.
    2. Self-Love: Terima dan cintai dirimu sendiri apa adanya.
    3. Fokus pada Kendali Diri: Kendalikan apa yang bisa kita kendalikan, dan jangan berambisi mengendalikan hal-hal di luar kuasa kita.
    4. Kemandirian Kebahagiaan: Jangan gantungkan kebahagiaan dan standar kesuksesanmu pada orang lain.
    5. Keseimbangan: Ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan.

    “Bermimpilah setinggi-tingginya,” pesan Prof. Inayah menutup sesi yang penuh inspirasi tersebut. Acara ini diharapkan mampu membakar semangat santri MA Wathoniyah Islamiyah untuk berani melangkah menyongsong masa depan tanpa keraguan.

    TalkshowIKAPMAWI #GenZ #Motivation #MWIKebarongan #ProfInayah

    IKAPMAWI siap jadi rumah buat kita saling dukung. Yuk, semangat kejar mimpi! 🔥

  • Menjahit “Trust”, Menebar Manfaat: Catatan Penting Pra-Raker IKAPMAWI 2025-2030

    Menjahit “Trust”, Menebar Manfaat: Catatan Penting Pra-Raker IKAPMAWI 2025-2030

    Ruang digital Google Meet pada Ahad malam (4/1/2026) menjadi saksi geliat semangat baru para alumni Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI). Dalam agenda Pra-Rapat Kerja (Pra-Raker) Pengurus IKAPMAWI Periode 2025-2030, sebuah fondasi kokoh mulai diletakkan: bukan hanya sekadar program kerja, melainkan tentang membangun kepercayaan (trust) dan persaudaraan yang saling menguatkan.

    “Trust” sebagai Napas Organisasi

    Ketua Umum IKAPMAWI, Prof. Dr. Inayah Rohmaniyah, membuka pertemuan dengan pesan yang sangat mendalam. Beliau menekankan bahwa kekuatan utama organisasi ini bukan terletak pada besarnya dana atau megahnya program semata, melainkan pada rasa saling percaya dan kasih sayang antar pengurus.

    “Jika ada kelemahan di satu orang, akan dipenuhi oleh teman lainnya. Kita menjaga trust satu sama lain,” ujar Prof. Inayah.

    Semangat inilah yang menjadi landasan bagi IKAPMAWI untuk bertransformasi menjadi organisasi yang profesional. Salah satu langkah konkretnya adalah peluncuran Website IKAPMAWI yang diproyeksikan sebagai “Kantor Digital”. Ini adalah simbol bahwa di mana pun alumni berada, rumah besar ini selalu bisa diakses, transparan, dan hidup.

    Tiga Pilar Utama Pengabdian

    Dalam diskusi yang hangat dan produktif, terpetakan tiga fokus besar arah gerak IKAPMAWI lima tahun ke depan, yang dibagi secara strategis agar tidak tumpang tindih:

    1. Bidang 1 (Internal Alumni): Fokus pada penguatan “rumah sendiri”. Mulai dari profiling database alumni nasional, pengembangan SDM (webinar, bootcamp bahasa), hingga pemberdayaan ekonomi yang konkret. Rencana pembentukan unit usaha berbadan hukum (seperti CV atau Konveksi) menjadi terobosan agar organisasi memiliki kemandirian finansial yang akuntabel.
    2. Bidang 2 (Kemitraan Pomesmawi): Berfokus sebagai mitra strategis bagi almamater (MWI). Program beasiswa dan jaringan kerjasama (networking) disiapkan untuk mendukung kemajuan pendidikan di MWI tanpa mengintervensi kebijakan pesantren.
    3. Bidang 3 (Pengabdian Masyarakat): Menjadi wajah diaspora alumni bagi publik luas. Mulai dari tanggap bencana, desa binaan, hingga syiar dakwah digital dan konvensional.

    Profesionalisme dan Keberlanjutan

    Sekretaris Umum dan Bendahara Umum turut menggarisbawahi pentingnya tertib administrasi dan strategi fundraising yang terukur. IKAPMAWI tidak ingin hanya “panas” di awal, melainkan merancang program rutin (triwulan/tahunan) yang menjadi unggulan.

    Visi besar periode ini adalah menyiapkan estafet kepemimpinan. Dengan sistem yang mapan (AD/ART yang jelas, Standard Operating Procedure, dan manajemen digital), IKAPMAWI berharap dapat terus mewariskan manfaat bagi siapa pun yang kelak memegang tongkat estafet kepemimpinan.

    Pra-Raker ini baru permulaan. Dengan draf kepengurusan yang solid dan semangat ta’awun (tolong-menolong), IKAPMAWI 2025-2030 siap berlayar membawa maslahat—bagi alumni, bagi almamater, dan bagi umat.

    Salam IKAPMAWI!

  • Di Bawah Langit MWI: Istana tanpa Kasta (Part 1)

    Di Bawah Langit MWI: Istana tanpa Kasta (Part 1)

    Inayah Rohmaniyah

    Untuk Bapak dan Ibu yang teramat kucintai, yang mengajarkanku bahwa seluas dan seindah apapun rumah, takkan pernah cukup jika tanpa pintu yang selalu terbuka.”

    Rumahku Sebagai Ruang Publik

    Istana di Jantung MWI. Sekitar 160 kilometer dari keriuhan Kota Yogyakarta, tepat di jantung MWI, sebuah Pondok Pesantren tua di Desa Kebarongan Banyumas yang sarat sejarah, berdiri sebuah rumah yang lebih menyerupai pelukan besar bagi siapa pun yang datang. Bagi banyak orang, ia mungkin sekadar bangunan yang semakin renta, namun bagi saya, ia adalah istana dengan tembok-tembok kokoh yang menyimpan rahasia yang selama ini hanya menjadi nyanyian bisu dan tak terdengar. Rumah ini memiliki napasnya sendiri dan semua sisinya menjadi halaman depan yang selalu terbuka. Di sisi utara, sebuah ruang tamu yang luas menyambut setiap langkah kaki yang singgah. Di sisi selatan terhampar beranda atau balai yang apik, tempat ilmu, berbagai gagasan, dan silaturahmi berkelindan. Bahkan, di ujung ruang keluarga di sisi yang lain, semilir angin dari ruang yang setengah terbuka seringkali membuat siapapun terlena dalam ketenangan. Ruang ini memisahkan antara kehangatan ruang keluarga dengan hiruk-pikuk dapur yang sangat luas. Di dalam pelukan rumahku, juga berdiri asrama besar tempat teman-temanku para santri perempuan bernaung. Suara lantunan ayat, dzikir, dan canda tawa kecil mereka menjadi musik alami yang selalu menghiasi setiap sudut ruangan. Keberadaan mereka menjadikan rumah itu terus berdenyut dan jauh dari kesunyian.

    Rumah untuk semua. Struktur rumah yang didominasi ruang publik ini adalah symbol nyata sosok Bapak dan Ibu yang teramat kucintai. Sebagai pengasuh pesantren, mereka adalah tauladan yang tanpa Lelah tiada henti menerima berbagai ragam manusia dengan keluh kesah dan cerita yang berbeda. Dulu aku sering bertanya, apa bapak dan ibu tidak Lelah? apa tidak merasa terganggu ketika bahkan hingga larut malam masih ada yang mengetuk pintu, atau tamu-tamu tak kunjung bergeming meninggalkan bangku-bangku di ruang tamu? Kini aku tahu, ruang-ruang ini adalah saksi abadi bagaimana privasi keluarga sering melebur demi pengabdian. Setiap sudut ruang itu menyaksikan bagaimana kehangatan ruang keluarga dan ruang publik terus terjalin, seiring lantunan doa yang tak henti mengalir dari ketulusan para hati yang datang. Sebuah Pelajaran indah tentang ketulusan, cinta, dan kebahagiaan sederhana. 

    Rumah ini adalah saksi bisu tempat jiwa dan diriku tertempa, melalui liku perjalanan yang tak mudah. Aku menuliskannya bukan sekadar untuk bernostalgia, tetapi untuk merawat ingatan dan cinta. Sebab, sejarah diri adalah ruh yang membentuk jati diri dan masa depan. Aku percaya, saat kita mampu memaknai setiap fragmen kehidupan, ia akan berubah menjadi cahaya, guru tak tertandingi, dan kompas kehidupan yang memandu kita menuju hidup yang lebih bermakna, bermanfaat, dan utuh dalam kebahagiaan.

    Guru Sejatiku di Rumahku 

    Gadis Kecil Di Tengah Riuh Saudara Laki-Laki. Kenangan ini masih terus terukir di sudut terdalam hatiku, saat kuhabiskan hari-hari bersama orang-orang yang sangat kucintai. Sebagai satu-satunya gadis kecil yang tumbuh menjadi remaja di keluarga itu, aku sering melihat dunia memperlakukanku dengan cara yang berbeda. Di sela riuh tawa dan tangis kelahi saudara-saudara laki-lakiku, aku kerap bertanya: Apakah karena aku Perempuan? Atau karena aku satu-satunya “Mutiara kecil” yang hadir di Tengah? Bagian ini akan akan kusimpan dan kutuliskan untuk cerita di lain waktu. Namun yang pasti, masa-masa itu menjadi kenangan terindah dan menjadi titik berangkatku menyusuri luasnya samudera kehidupan, melewati pasang surut tawa dan tangis, duka dan bahagia, hingga detik ini. 

    Bapak: Samudra Ilmu bagi Ribuan Santri. Bapakku, Kyai Asifuddin Zawawi, adalah sosok yang cintanya tak henti meluap melampaui dinding rumah kami. Beliau adalah panutan, sebuah oase tempat ribuan santri menimba dahaga ilmu. Cintanya yang melimpah terus mengalir ke dalam relung kehidupan para santri yang teramat menghormati dan juga mencintainya. Aku menyaksikan orang orang datang dan pergi, belajar kepada Bapak pada berbagai kesempatan dengan cara yang beragam. Ribuan santri tentu tidak seragam dalam menangkap ilmu dan intisari kehidupan dari setiap ucapan dan tindak laku yang diajarkan sang Guru, meski mereka mengaku sangat terpengaruh dan menggenggam erat setiap untaian hikmah yang dipelajari dari Bapak. Setiap santri mungkin dengan bangga membawa pulang kepingan hikmah yang berbeda-beda, tergantung pada bejana hati yang mereka bawa. Namun bagiku, hubunganku dengan beliau tentu jauh lebih dari sekadar guru dan murid.

    Belajar pada Sang Murabbi di Rumah Sendiri. Jika ribuan santri dengan gempita mengaku telah mempelajari intisari kehidupan dari Bapak, maka aku memiliki keberuntungan yang jauh lebih dalam. Sebagai putrinya, aku tidak hanya mendengarkan percikan ilmu  beliau di depan mimbar atau di ruang-ruang kelas, tetapi aku melihat bagaimana ilmu itu menjelma menjadi denyut dan nafas serta gerak bapak dalam kehidupan sehari hari. Bapak dan Ibu adalah madrasah pertamaku dan rumah yang sesungguhnya, guru kehidupan yang tak pernah berhenti walau dalam diam. Di rumah yang luas ini dan dalam kehangatan dekapan cinta mereka, aku tidak hanya belajar tentang teks-teks agama. Lebih dari itu, aku mengerti bagaimana cinta, ketegasan, dan kelembutan bersatu dalam pengabdian. Inilah fragmen sejarah yang ingin kubagikan: sebuah kisah tentang bagaimana seorang anak perempuan belajar menjadi manusia dari dua guru sejati di rumahnya sendiri.

    Putri Kecil Belajar Ketangguhan, Kesetaraan dan Kelembutan

    Senyuman di Pagi Hari. Dalam ingatan masa kecilku, aku adalah seorang putri yang begitu dicintai dan dijaga. Bapak memanjakanku seperti puteri salju yang harus selalu menjadi nomor satu. Beliau memperlakukanku dengan kelembutan yang luar biasa, seolah memastikan bahwa tidak boleh ada yang membuatku menangis atau sakit hati. Di sisi lain, Ibu harus mencurahkan hamper seluruh waktunya untuk menemani dan merawat Bapak yang sakit, dan aku tumbuh dalam asuhan hangat Bu Lik (Mutmainnah), adik kandung Ibu.

    Masih jelas dalam ingatanku, Setiap pagi sebelum kaki kecilku melangkah menyusuri jalanan pegunungan menuju SD Negeri 1 di pinggir jalan raya, ada sebuah ritual yang tak pernah terlewatkan.  Bapak setiap pagi duduk di kursi depan, dan di sisinya selalu tersedia tumpukan uang receh untuk uang saku kami. Setelah ritual “salim” dan senyuman bapak, serta “sangu,” aku akan berangkat menembus semilir angin gunung yang segar. Sejak kecil aku menyaksikan bapak tidak bisa berjalan dengan tegak. Beliau sudah lumpuh separuh sejak aku belum dilahirkan (1971), dan setiap langkahnya harus selalu ditopang oleh tangan orang lain. 

    Cinta tanpa Batas. Aku sering tidak masuk sekolah karena harus mengikuti bapak berobat dari satu kota ke kota yang lain. Bapak seolah tak ingin berjarak denganku atau meninggalkanku. Beliau ingin aku ada di mana pun beliau mencari kesembuhan. Kami pernah tinggal lama di Bogor, menetap di Semarang, hingga menepi di pantai Petanahan. Masih terbayang jelas hingga kini, bagaimana rasanya duduk di atas dokar yang ditarik kuda, menempuh perjalanan panjang menuju rumah dokter atau kediaman Mbah. Pepohonan hijau yang berderet di pinggir jalan, dan semilir angin yang tak bosan mengibaskan rambutku, menjadi sensasi yang bahkan hingga detik ini masih bisa kurasakan. Di mana pun kami berada, rumah selalu penuh sesak oleh para alumni MWI yang datang membezuk dan mendoakan. Dalam keterbatasan fisiknya, bapak tetap menjadi magnet yang memancarkan kewibawaan dan cinta.

    Kelembutan Laki-Laki sebagai Kekuatannya. Perjalanan berpindah-pindah kota dalam ikhtiar mencari kesembuhan bapak, tentu bersama ibu juga, ternyata menjadi madrasah alam bawah sadar yang membentuk fondasi jiwaku. Dari perjalanan yang bagaikan tiada akhir itu, aku mewarisi tiga obor kehidupan yang hingga kini terus menyala. Pertama, aku belajar untuk tidak takut pada perubahan, cepat beradaptasi dengan sekitarku, mudah berkawan dengan orang orang baru, dan menemukan kebahagiaan dimana pun aku menapakkan kaki. Aku akhirnya mengerti bahwa rumah bukan sekedar bangunan atau koordinat geografi, tetapi kemampuan anggotanya untuk saling merawat cinta, menjaga hati untuk tetap merasa nyaman tanpa dibatasi ruang dan waktu. Pelajaran kedua, aku melihat daya juang bapak dan ibu, berjuang melawan sakit tanpa kenal lelah, bahkan tak sekalipun aku mendengar kata-kata keluh kesah keluar dari lisan mereka. Bapak yang harus selalu dibantu bahkan hanya untuk sekedar berdiri atau berjalan tetap memancarkan wibawa, ketenangan, dan sekaligus kesabaran. Di sisi lain ibu adalah pilar ketulusan, kesetiaan, dan ketangguhan. Karakter ibu yang periang, super ramah, dan mudah bersahabat membuatnya tidak pernah kehilangan teman meski berada di lingkungan baru. Ketangguhan Ibu mendampingi Bapak menjadi bukti bahwa cinta dan kasih sayang adalah bahan bakar yang tak ada habisnya. Ibu mengajarkanku bahwa kita bisa tetap bahagia dan bahkan menjadi “cahaya” bagi orang lain, meskipun kita sendiri sedang memikul beban ujian yang tidak ringan. Ketiga, diantara pelajaran yang paling membekas dalam relung terdalam hatiku adalah kelembutan bapak. Aku tidak pernah mendengar sekalipun bapak bicara kasar, membentak apalagi memukul ibu. Beliau sangat menyayangi dan memanjakan ibu, selalu bicara lembut, dan tidak menuntut apapun darinya. Bapak mengajarkanku bahwa laki-laki sejati tidak akan menunjukkan kekuasaan dengan amarah dan dominasi, melainkan melalui kelembutan dan kasih sayang.

    Hidup Penuh Kesahajaan, Rumah Tanpa Kasta

    Senyum Yang Selalu Kurindukan. Meski waktu yang kualami bersama Bapak terasa sangat pendek (bapak meninggal tahun 1981 ketika usiaku baru 10 tahun), namun beliau dan Ibu berhasil menanamkan satu nilai yang menjadi lentera hidupku: kesahajaan. Bapak adalah pribadi yang tidak banyak bicara, namun kecerdasan terpancar dari ketenangannya. Beliau tidak banyak mengumbar kata, tapi senyumnya senantiasa menebar pada semua. Masih kuingat bagaimana Bapak selalu menyambut tamu-tamu dengan hangat, meski kaki dan tangannya yang lumpuh membatasi geraknya. Kelumpuhan fisik tak pernah sanggup melumpuhkan keramahannya. Tamu-tamu datang silih berganti, dan jika Bapak sedang sare (tidur), mereka dengan setia menunggu hingga beliau terbangun. Di rumah itu, pintu tidak pernah benar-benar tertutup; ia selalu terbuka lebar bagi siapa pun dan kapan pun. Sebuah ketulusan yang hingga kini masih terus kuperjuangkan untuk bisa kuteladani. 

    Meja dan Dapur Simbol Kesetaraan Sosial. Ibuku adalah belahan jiwa yang menyempurnakan kesahajaan bapak. Keramahannya sama sekali tidak mengenal kasta. Masih teringat dengan jelas, siapa pun yang datang —mulai dari tukang sampah, penjual sayur, hingga bakul tempe— disapa dengan senyum dan kehangatan yang sama. Mereka diminta duduk di meja yang sama dengan ibu dan Bapak, diajak mengobrol, dan disuguhi teh atau kopi (medang). Aku terbiasa dengan pemandangan ini di rumah, duduk dan makan bersama para asisten rumah tangga (ART) dan orang-orang kecil yang seringkali dipandang sebelah mata oleh dunia luar. Bagi kami, mereka bukan sekedar rewang atau pekerja: mereka adalah bagian dari keluarga. Di meja makan dan dapur, di sela canda tawa kami, tertanam lekat sebuah prinsio kuat dalam pikiran dan hatiku: Hidup tak mengenal kasta, semua manusia sama dan berhak tertawa.

    Guncangan terberat saat Cahaya itu Redup. Kebahagiaan, keceriaan, dan kesahajaan yang terajut akhirnya sampai pada titik ujian terberatnya, Bapak pergi untuk selama-lamanya. Masih terngiang jelas di telingaku, bagaimana pecah tangis ibu bersahutan dengan langkah orang-orang yang keluar dari kamar paling depan di rumah besar itu. Mereka berjalan tergesa sambil menyeka air mata: bapak telah menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan kami semua. Rasa sakit dan sedih menghujam begitu hebat saat itu, hingga aku ingin turut serta pergi bersamanya, menemani beliau di alam sana agar tidak sendirian. 
    Aku masih ingat barisan pelayat yang mengular sangat panjang, memenuhi sepanjang jalan menuju rumah kami. Seluruh desa bahkan negeri seolah turut berduka mengantarkan bapak menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Namun aneh, memori tentang hari itu terasa samar dan berkabut jika dibandingkan dengan hari-hari bahagiaku bersama Bapak. Mungkin, alam bawah sadarku bekerja melindungi jiwa yang terluka, menghapus detail-detail kepedihan agar aku tetap memiliki kekuatan untuk berdiri tegak dan melanjutkan  hidup demi meraih mimpi. Perpisahan itu adalah luka pertama yang mengajariku bahwa cinta yang besar akan meninggalkan kerinduan yang juga sama besarnya.

    Bersambung ke- Part 2

  • MWI, Akar yang Tak Boleh Lupa: Sebuah Renungan Menjemput Kembali “Captive Market” yang Hilang

    MWI, Akar yang Tak Boleh Lupa: Sebuah Renungan Menjemput Kembali “Captive Market” yang Hilang

    oleh : Yashir Mustaqim Angkatan ’93

    Seringkali saya merenung tentang MWI dan peran kita di IKAPMAWI. Sejarah mencatat, MWI bukan sekadar pesantren tua. Ia adalah pioneer, sang “Agent of Change” di Banyumas Raya yang berani mengusung purifikasi Islam dan menerapkan sistem klasikal di awal zamannya. Keunikan MWI kian terasa dengan adanya simbiosis yang hangat antara pesantren dengan masyarakat Dusun Teleng.

    Pengalaman saya—dan mungkin ribuan alumni lainnya—masuk ke MWI bukan sekadar mencari sekolah, melainkan sebuah penugasan ideologis dari orang tua. Mereka mengirim kita karena percaya MWI adalah benteng akidah. Inilah yang Ustad Sunaryo sebut sebagai Captive Market; 70-80% santri baru lahir dari keluarga yang memiliki DNA MWI.

    Namun, mari kita jujur melihat ke belakang. Kejayaan “pasar loyal” ini dibangun bukan oleh algoritma media sosial, melainkan oleh keringat para “Kyai Panggung” kita. Nama-nama besar seperti KH Asifudin Zawawi, KH Munji, dan KH Muslim adalah magnet yang berkeliling dari mimbar ke mimbar, menyapa umat di Kawunganten, Sidareja, Purbalingga, hingga Lampung. Mereka merawat silaturahmi secara fisik, membangun kepercayaan secara tatap muka.

    Sayangnya, inilah mata rantai yang mulai hilang. Kita memiliki “pasar” yang besar, namun kurang terawat. Kita rindu figur kharismatik yang mampu menjadi magnet baru.

    Mungkin terdengar kuno di era digital ini, namun mengembalikan tradisi “turun ke bawah” dan merawat ikatan emosional dengan basis massa adalah strategi yang mendesak untuk dipertahankan. Ini adalah PR besar bagi IKAPMAWI untuk duduk bersama Yayasan, menyusun peta jalan (road map) agar kita tidak hanya eksis di dunia maya, tapi kembali mengakar kuat di hati masyarakat.

    Sumonggo, para senior dan kawan-kawan, mari kita diskusikan jalan pulang untuk kejayaan masa depan.

  • Pentingnya Pendidikan Karakter

    Pentingnya Pendidikan Karakter

    oleh : Muflihatul Qiromah. M.Pd

    Pendidikan karakter di dunia pendidikan terasa mulai luntur, hal ini disebabkan berbagai faktor. Di antaranya adalah karena adanya pengaruh digitalisasi, pola perubahan sosial yang ada, dan adanya pola pendidikan yang muatan kurikulumnya terlalu banyak sehingga fokus hanya pada akademik yang seolah mengabaikan pendidikan karakter yang menjadi pondasi utama untuk membentuk generasi yang tangguh siap menghadapi berbagai macam tantangan zaman ke depan.

    Kurangnya pendidikan karakter mengakibatkan pada pola pergaulan anak yang mudah tersinggung, tidak punya kepedulian terhadap teman, kurangnya simpati dan empati, maunya menang sendiri, dan hal ini memicu adanya pola pembulian kepada teman, baik bullying  dalam bentuk fisik (mendorong), verbal (mengejek), sosial/relasional (mengucilkan), Siber (cyberbullying melalui media), seksualitas (pelecehan seksual). Hal ini yang menjadi permasalahan yang merata di semua jenjang pendidikan.

    Fenomena yang terjadi di atas sudah digambarkan oleh Mahatma Ghandi (Soedarsono 2010) yang menyebutkan bahwa di masa yang akan datang akan timbul indikasi yang sangat buruk mana kala tujuh fenomena ini sudah terjadi, di antaranya adalah (1) merebaknya nilai-nilai dan prilaku orang yang memperoleh kekayaan dengan menghalakan segala cara tanpa bekerja (wealth wisthout work); (2) orang mendapatkan kesenangan tanpa hati nurani (pleasure without consienci); (3) perjalanan proses pendidikan tanpa karakter (education without charakter); (4) Berjalannya bisnis tanpa memperdulikan moralitas (commerce without ethic) (5) Ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan nilai-nilai kemanusiaan (science without humanity) (6) Belajar agama tanpa diimbangi dengan pengorbanan (religiuon without sacrifice)  dan (7) perjalanan politik tanpa diimbangi dengan prinsip (politic without principle).

    Thomas Lickona (1992) menyatakan bahwa,”Suatu bangsa akan mengalami kehancuran, ketika karakter bangsa sudah kehilangan integritas, nilai-nilai atau prinsip-prinsip dalam diri bangsa itu sendiri”. Karena itu pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini secara terus menerus hingga mampu membentuk seseorang yang berkarakter kuat dan mulia. Seperti kata pepatah China,”Jika seseorang ingin membuat rencana satu tahun, maka tanamlah padi, jika ingin membuat rencana sepuluh tahun maka tanamlah pohon, dan jika ingin membuat rencana seumur hidup maka lakukan pendidikan dengan  baik”.

    Pendidikan karakter merupakan suatu usaha untuk membantu perkembangan anak baik secara lahir maupun batin. Pendidikan ini harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan (never ending proses) sehingga mampu menghasilkan pendidikan yang berkualitas yang berkesinambungan ( continous quality improvement) dalam mewujudkan hasil pendidikan yang berdasar pada nilai-nilai budaya bangsa. (Mulyasa:2011). Hal ini mendasari bahwa pendidikan karakter harus terus ditanamkan sejak dini  di lingkungan, baik itu lingkungan keluarga sebagai lingkungan pertama yang sepenuhnya berperan penting dalam membentuk karakter, lingkungan masyarakat dan lingkungan teman bermain. Pola Pendidikan karakter yang berpengaruh terhadap anak dapat dilakukan  melalui pola keteladanan, pembiasaan, nasehat, perhatian/pengawasan dan hukuman. Kelima pola tersebut saling berkesinambungan antara satu dengan lainnya, untuk mencapai pembentukan karakter dengan maksimal, maka kelima pola tersebut berjalan beriringan.

    Pendidikan karakter merupakan suatu proses pendidikan yang membutuhkan ruang lingkup pembiasaan melalui pola pendidikan di setiap waktu dan setiap saat. Hingga pola tersebut membentuk karakter yang diharapkan, yang mampu membentuk karakter yang melekat pada seseorang. Pendidikan karakter ini dimulai dari pendidikan keluarga yang menjadi pondasi awal dalam membentuk karakter. Bila pendidikan keluarga dan  lingkungan serta adanya  pola pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan (continous) baik dalam keluarga, masyarakat dan dunia pendidikan khususnya. Maka  karakter yang baik akan menjadi  pilar utama dalam mendasari pola kehidupan anak dalam proses pendidikan seumur hidup (lifelong education).

    Daftar Pustaka

    Ni Putu Suwardani. (2020). Quo Vadis Pendidikan Karakter. Bali: UNHI Press

    Sri Zulfida, MA. (2020). Pendidikan karakter dalam Buku Ajar, Yogyakarta: Sulur Pustaka

    Dr. Abdullah Nashih ‘ulwan Tahqiq Syaikh Ihsan Al-“utaibi. (2018). Tarbiyatul Aulad Fil Islam. Solo: Insan Kamil

  • Prof Dr Inayah Rohmaniah Terpilih Memimpin IKAPMAWI Nasional Periode 2025-2030

    Prof Dr Inayah Rohmaniah Terpilih Memimpin IKAPMAWI Nasional Periode 2025-2030

    Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) telah sukses menyelenggarakan Musyawarah Besar (MUBES) II Tahun 2025. Acara yang menjadi forum tertinggi organisasi ini berlangsung khidmat di Cilacap selama dua hari, dari Sabtu hingga Ahad, 25-26 Oktober 2025.

    CILACAP – Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI) telah sukses menyelenggarakan Musyawarah Besar (MUBES) II Tahun 2025. Acara yang menjadi forum tertinggi organisasi ini berlangsung khidmat di Cilacap selama dua hari, dari Sabtu hingga Ahad, 25-26 Oktober 2025.

    Puncak dari MUBES II adalah penetapan kepemimpinan baru. Melalui proses Sidang Tim Formatur, musyawarah resmi menetapkan Prof. Dr. Inayah Rohmaniah sebagai Ketua Umum IKAPMAWI Pusat terpilih untuk periode 2025-2030.

    Dalam menjalankan amanah ini, beliau akan didampingi oleh Profesor Suprianto sebagai Sekretaris dan Bapak Yusa Fathudin sebagai Bendahara.

    MUBES II Tahun 2025 mengusung sejumlah agenda penting yang diawali dengan Pidato Iftitah dari Ketua Umum IKAPMAWI Pusat periode 2020-2025, Drs. Praptono Zamzam, M.Sc., dan sambutan dari Ketua Yayasan Pomesmawi. Agenda dilanjutkan dengan Sidang Pleno II untuk mendengarkan dan mengesahkan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus IKAPMAWI Pusat periode 2020-2025.

    Untuk merumuskan arah dan strategi organisasi, peserta Mubes dibagi menjadi empat komisi strategis, yaitu:

    • Komisi A: Organisasi
    • Komisi B: Penggalian Dana (Fundraising)
    • Komisi C: Program Kerja
    • Komisi D: Pemberdayaan Alumni

    Hasil dari setiap komisi kemudian dilaporkan dan disahkan dalam Sidang Pleno III. Proses regenerasi kepemimpinan mencapai puncaknya pada Sidang Pleno V melalui penetapan Ketua Umum dan Sekretaris Umum terpilih.

    Dalam pidato pertamanya sebagai Ketua Umum terpilih, Prof. Dr. Inayah Rohmaniah menyampaikan visi utamanya untuk membawa IKAPMAWI ke depan. “Mudah-mudahan di kepemimpinan mendatang kita bersama-sama bisa menguatkan silaturahmi lintas generasi untuk perubahan yang lebih baik dan untuk membangun peradaban,” ujar Prof. Inayah.

    Beliau juga menekankan pentingnya semangat kolaborasi dari seluruh potensi alumni. “Kita semua sebenarnya guru besar di bidang masing-masing. Mari kita bersama-sama bergandengan tangan, mengidentifikasi apa yang kita punya sesuai keahlian untuk bersama-sama membesarkan sesama alumni, membesarkan MWI, dan untuk berkiprah di masyarakat.”

    Kepemimpinan baru ini secara resmi menerima estafet dari pengurus periode 2020-2025. Drs. Praptono Zamzam, M.Sc., dalam sambutannya, mengucapkan selamat dan menitipkan pesan persatuan. “Saya yakin seyakin-yakinnya MWI akan maju,” pesannya.

    Beliau juga mengingatkan fokus organisasi ke depan. “IKAPMAWI itu bukan organisasi politik. Fokus saja kepada peran concern to almamater (peduli pada almamater), concern to the alumni (peduli pada alumni), dan concern to the Muslim Society (peduli pada masyarakat Muslim).”

    Musyawarah Besar II IKAPMAWI ini berjalan lancar dan dihadiri oleh 93 peserta yang tercatat , terdiri dari berbagai unsur meliputi Pengurus IKAPMAWI Pusat, perwakilan IKAPMAWI Cabang, Pengurus Yayasan Pomesmawi, serta Panitia Mubes.